Friday, April 1, 2011

Part - 5


"Cinta kerja dan Cinta Keluarga"
Bika kita mengasihi sesuatu, maka kita akan berkomitmen tinggi terhadap hal itu, sehingga hal itu menjadi prioritas utama dalam hidup kita.

Demikian hal ini terjadi dalam kehidupan suamiku, dia terlalu mencintai pekerjaannya sehingga selalu menjadi prioritas utama adalah pekerjaanya. Dalam posisi sebagai istri, saya harus tunduk dan mengerti pekerjaannya, memahami kesibukkannya dan itu saya lakukan agar kita sama-sama saling mengerti. Sebagai istri seorang dokter saya mengakui bahwa kita dituntut kesabaran dan pengertian yang tinggi, tapi ternyata hal itu tidaklah cukup sebab apa yang kita jalani kadang tidak sesuai dengan tuntutan yang diperhadapkan pada kita. Saat kita sudah sabar kita sudah mengerti bahkan mungkin terkadang kita sudah membantu pekerjaan dia jika diperlukan, apa yang kita hadapi ternyata juga harus ada kesimbangan antara kedua belah pihak. Pengertian tidak hanya dituntut untuk dilakukan seorang istri terhadap suaminya tetapi seharusnya juga ada pengertian dari suami terhadap istrinya.
Saya tidak tahu apakah hal ini juga dialami oleh istri-istri dokter yang juga dituntut hal yang sama...? sebab bisa saja latar belakang keduanya sama adalah dokter, tapi bagaimana dengan istri-istri dokter yang latar belakang berbeda?

Sebagai seorang istri tentu, saya harus tunduk dan menghormati suami. sesuai dengan apa yang diperintahkan dalam Alkitab. Bagaimana hal ini jika rasa tunduk dan hormat kita terhadap suami membuat dia berbuat seenaknya terhadap kita, toh katanya istri harus tunduk..?
Proses yang terjadi dari setiap keluarga tentu berbeda, sesuai kapasitas masing-masing dan bagaimana setiap pasangan suami-istri menanggapinya.

Menjalani masa pendidikan spesialisnya, suami saya adalah termasuk seorang mahasiswa yang dianggap oleh teman-temannya paling rajin dan serius terhadap kerja atau loyalitasnya dirumah sakit. Suatu hari ada pertemuan arisan keluarga anggota Ikatan dokter specialis bedah dan itu dilakukan sebulan sekali, disinilah kesempatan mereka para dokter untuk refresing dari tuntutan tugas mereka setiap hari. Mereka sangat santai dan menikmati waktu luang mereka ini, karena dihadiri oleh istri dan anak-anak menambah suasana arisan tampak seperti wisata keluarga karena ada yang main musik sambil menyalurkan bakat mereka menyanyi. Saat saya tak berapa jauh jaraknya dengan suami dan teman-temannya, sempat saya merekam pembicaraan mereka saling menilai satu dengan yang lainnya,
"Oooh kalau Melky, kita sudah pada pulang semuanya,,, eeehh orangnya masih visite di ruang pasien" kata Nico temannya, serentak semua ketawa
"betul itu..saya sering melihatnya!" sahut Jemmy,
kembali mereka ketawa sambil saling menuding satu dengan yang lainnya.
Suatu saat dimana pertama kali kami bawa anak kami berdua ikut dalam arisan keluarga dokter ini, dalam suasana santai saya biarkan anak-anak bermain dengan temannya tapi saya justru heran si Mikhael malah bergabung diantara papinya dan teman-teman. Saya tambah heran lagi si Mikhael banyak bertanya kepada teman-teman papinya, seperti orang yang sudah dewasa padahal waktu itu umurnya 6 tahun dan membuat salah satu teman papinya bilang
"wah ini anak beda dengan bapaknya, sekecil ini sudah pinter",
saya tidak tahu apa yang dirasakan papinya pada waktu itu, tapi saya bisa menangkap maksud dari teman-temannya bahwa selama ini mereka kenal Melky adalah seorang yang pendiam dikalangan mereka suka lebih banyak diam kalau sudah kumpul-kumpul. jadi saat mereka melihat Mikhael ngomong dan berani bertanya, mereka membedakan dengan papinya.
Pada pertemuan arisan bulan berikutnya si Mikhael sudah tidak di bolehkan oleh papinya ikut dengan alasan nanti bikin ribut, saya berpikir mungkin karena keaktifan dan keberanian Mikhael bertanya dengan teman papinya pada arisan kemarin membuat dia tidak di bolehkan ikut. Yah akhirnya Mikhael tidak ikut, yang ikut adalah Prayzilia. anak-anak sejak kecil sudah dengar-dengaran jadi mereka patuh pada apa yang orang tua katakan. Mulai saat itu setiap ada arisan yang dibawah hanya Prayzilia, sebagai orangtua dalam hal ini kami tidak adil.

Pada tahun 1998 papa mertua datang berobat ke Manado karena sakit. Seperti biasanya mereka tinggal di rumah dengan kami. Sebagai seorang anak tentu prihatin dengan sakit orang tuanya apalagi sebagai seorang dokter, sehingga papa mertua hanya dirawat suamiku sendiri dirumah tanpa dirawat dirumah sakit ataupun cek up. Suatu hari mereka pamitan mau menengok adik suamiku yang juga sudah berkeluarga dan tinggal diManado, jarak tempat tinggalnya dari rumah kami sekitar 5km. Selama seminggu mama dan papa mertua tinggal dengan adik iparku, karena sakit papa mertua mulai memburuk mereka datang kerumah. Ternyata papa mertua selama di tempat adik, pergi berobat ke shinse. Saat itu papa kondisinya sudah menurun, akhirnya diobati lagi oleh Melky, suamiku. Dan diperkirakan papa terkena tumor usus, tiga bulan kemudiam setelah papa merasa sudah agak kuat, papa-mama pamit mau pulang.
Beberapa bulan kemudian, dikabarkan papa mertua meninggal, tentu sebagai anak kami merasa kehilangan belum banyak berbuat untuk kesembuhan orang tua tapi Tuhan berkehendak lain, DIA ingin orangtua kami beristirahat dirumahNYA dengan tenang. Sebagai anak menantu yang belum pernah mengunjungi kampung halaman mertua, saya berantusias untuk saat inilah kesempatan yang tepat untuk ke tempat orangtua. Tapi maksud hati apa daya saya harus tunduk pada suami,
"mam tidak usah ikut ya soalnya Mikhael dan Prisy masih kecil" kata suamiku.
"Tapi kan tidak baik pi..., saya kan belum pernah kesana..,? jawabku,
namun suamiku tetap berkeras "perjalannya jauh ma, nanti kasihan anak-anak masih kecil"
saya sudah tahu watak suamiku kalau sudah begitu tidak boleh ngotot, sebab kalau saya juga bersikeras tetap mau ikut dia akan katakan
"yah sudah, mami aja yang pergi sendiri" jadi saya tidak diperbolehkan ikut oleh suamiku dengan alasan anak-anak masih kecil karena katanya ini perjalanan jauh manado - Poso.
Waktu itu suamiku menyewa mobil kijang pulang pergi, mereka berangkat bertiga; suamiku, adik iparnya dan ponakannya sebab adik kandungnya sudah pulang duluan waktu dikabarkan papa mertua sakit lagi.
Bulan september tahun 2000 suamiku selesai pendidikan specialisnya. sebelum prosesi wisudanya tiba mereka buat acara "kesan dan pesan" untuk mereka yang akan dilantik sebagai dokter specialis. Mereka berlima pada waktu itu yang sudah menyelesaikan specialisnya. Pada acara malam "kesan dan pesan" yang dihadiri oleh dokter-dokter specialis bedah dan dokter-dokter yang masih dalam masa pendidikan specialis bersama keluarganya masing-masing. Saat ini anak kami Mikhael diperbolehkan papinya ikut, jadi keduanya kami bawa. Acara dimulai dalam moment ini dosen-dosen yang dianggap paling senior memberikan kesan dan pesan, pada saat itu di wakili oleh panggilan akrab dikalangan dokter bapak Prof. Manoppo, saya merasa bangga juga karena dalam kesan pesannya dia mengatakan bahwa salah satu anak bimbingannya yang dia bangga dan dia sayang adalah suamiku dengan alasan bahwa suamiku adalah anak bimbingnya yang paling rajin, kapan diperlukan selalu siap.

Saatnya giliran para dokter specialis yang akan dilantik yang memberikan kesan dan pesannya, giliran suamiku salah satu dia mengatakan bahwa
"tanggungjawabnya dia selama ini terhadap rumah sakit, karena rumah sakit adalah istri pertama saya",
serentak istri-istri yang berada dekat saya langsung nyeletuk "jadi ini istri kedua ya..."
saya jawab "ya yang penting jangan jadi istri-istri aja" mereka langsung ketawa.

Dilanjutkan dengan acara santai dan makan bersama, saat acara hiburan saya sudah perhatikan si mikhael dan Prysi karena mereka suka musik jadi mereka habis makan dekat-dekat kepanggung yang ada musik keybordnya. Saat itu salah satu dokter tawarin mereka berdua nyanyi, spontan anak ini berdua mungkin itu yang mereka tunggu-tunggu tanpa malu-malu mereka katakan kami mau nyanyi lagu India, dokternya kaget "ooh iyaiya... ayo mari", sama pemain musik ditanya "de' mau nyanyi apa...?" keduanya langsung menjawab "Koi miligaya...., om" saat baru mulai intro musik mereka berdua sudah mulai bergoyang dengan gerakkan yang lincah, karena itu sering mereka latihan sama teman-temannya dirumah. Saat mereka berdua menyanyi, spontan semua tepuk tangan, ada yang nyeletuk "wah...wah....wah, papanya kalah nih...!" semua terdiam menikmati kedua anak ini menyanyi dengan gerakkannya yang lincah. Hingga selesai acara, mereka berdua dapat pujian dari teman-teman papinya. Pada waktu itu si Mikhael sudah kelas 4 SD dan Prayzilia kelas 1 SD, saat itu Mikhael usia 8 tahun dan Prayzilia memasuki 6 tahun.

Selesai pelantikan sebagai dokter specialys bedah, tak lupa dirumah saya buar syukuran mengundang teman-teman dan keluarga-keluarga yang ada di Manado. Bulan Oktober 2000 suami saya berangkat melapor ke Palangka raya tempat asal dia bertugas sebelum specialys. Kali ini keinginan saya untuk mengunjungi tempat mertua tidak kesampaian lagi, karena pada waktu papa meninggal suamiku katakan nanti saja kalau saya sudah selesai pendidikan dokter specialys baru kita ke Poso. " saya sudah harus melapor kembali" kata suamiku, dia tidak ingat lagi apa yang dia janjikan dulu bahwa kami sekeluarga akan ke Poso setelah dia selesai sekolah.
Yah itulah suamiku dia terlalu mencintai pekerjaannya sehingga dia selalu menomor satukan pekerjaannya dari keluarganya. Akhirnya karena anak-anak masih harus menunggu satu semester di sekolahnya, saya dan anak-anak belum ikut ke Palangka Raya.
zwani.com myspace graphic comments

No comments:

Post a Comment