Monday, April 11, 2011

Part - 11


"Berharganya suatu kebersamaan"

Sehari selesai pelantikan suamiku di Selapa, saya ajak suamiku bawa anak-anak jalan-jalan, karena sudah janji dengan anak-anak mau jalan ke Dufan. Saya bahagia sekali walaupun sempat ada tawar-menawar dengan suamiku soal kendaraan yang akan kami gunakan,
"Nanti kita mau pake mobil apa ke Ancol..?" kata suamiku
"cari mobil carteran sehari aja pi" jawabku
"Tapi dimana, Ancol itu kan jauh" katanya,
saya karena tidak ngerti soal jalan di Jakarta, saya jawab "coba papi tanya ibu kost, aja"
suamiku langsung menemui ibu kost, tanya-tanya, akhirnya walau terlihat suamiku agak berat hati untuk ikut akhirnya kami keluar tapi tidak pake carteran mobil, kami pake taxi argo, suamiku sempat ngomel karena bayaran taxinya menurut dia terlalu mahal. Sampailah kami di Ancol, ada hal yang menarik dan sangat berarti tuk jadi pelajaran bagi saya saat mau beli tiket masuk. Suamiku yang tanya pada petugas tiket,
"berapa tiket masuknya pak...?"
"Lima puluh ribu per orang pak" jawab petugas diloket itu,
" Kog mahal sekali ,,, pak" kata suamiku,
" sudah demikan harganya,,,,pak" jawab petugasnya,
Suamiku berbalik dan berjalan menjauhi loket sambil diam tidak ngomong apa-apa, saya dan anak-anak masih di depan loket tersebut bingung, mungkin dipikiran anak-anak bakal tidak bisa masuk kami ini. Saat itu juga ada seorang bapak skitar umur 50an dan keluarganya datang mendekati loket itu, dan bertanya "berapa tiket masuknya..?" petugas loket itu menjawab, seperti yang disampaikan pada suami saya, Saya sempat kaget juga waktu bapak itu katakan
"10 orang ya pak" dan dia langsung mengeluarkan dompetnya membayar tiket tersebut,
yang terpikirkan oleh saya bahwa bapak setengah baya ini yang kelihatan sederhana, bisa saja membeli tiket semahal itu untuk keluarganya, kog' saya dan suami yang masih muda dan punya pekerjaan tidak bisa membeli tiket untuk kebahagiaan anak-anak. Akhirnya saya langsung katakan ke petugas loket itu
"pak,,, 4 orang ya" sambil saya ambil dompet dalam tasku.
Suamiku tidak dapat berkomentar apa-apa saya bisa maklumi, karena mungkin dia baru habis pendidikan, tapi saya sepmat berpikir kan selama pendidikan ada Jumat, sabtu dan minggu yang dia pakai untuk buka praktek di Pamulang, dan juga pernah suamiku cerita bahwa teman-temannya saat pendidikan kalau sudah tidak punya uang pinjam padanya. Tapi apapun alasannya saya dapat pelajaran bahwa betapa berharganya waktu untuk keluarga yang kadang sulit untuk kita luangkan hanya karena pekerjaan, uang yang dicari dan jabatan. Padahal sebenarnya kita kerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga termasuk salah satunya kebutuhan untuk berekreasi dan bersantai menikmati kebersamaan dalam keluarga. Saya berterimakasih pada suamiku, dia sudah membuatku belajar tentang arti kebersamaan dalam keluarga sangatlah mahal.
zwani.com myspace graphic comments
Sebelum suamiku kembali bertugas di Ambon, dia mengantar saya dan anak-anak kembali ke Palangka raya. Tiga hari kemudian suamiku berangkat ke Ambon untuk memulai kembali tugasnya disana. Setelah Lima hari berada di Ambon suamiku dapat surat tugas ke Aceh, yang pada waktu itu di Aceh lagi ada pergolakkan sekelompok tertentu melawan aparat dan pemerintah. Saya kaget dan kawatir waktu suamiku telepon memberitahukan berita tersebut,, saya hanya bisa mengatakan
"coba papi minta pertimbangan atau bagaimanalah caranya"
"tidak bisa mam kan TR nya sudah keluar" kata suamiku,
Tapi akhirnya suamiku tetap berada di Ambon dengan alasan bahwa Ambon masih memerlukan tenaganya.

Saya dan anak-anak masih tetap tinggal di asrama polisi, hingga suatu saat ada kebakaran di salah satu asrama polisi di belakang Polda, sehingga para penghuninya harus mengungsi. dengan kejadian itu maka setiap asrama di data kembali. Melalui informasi dari denma maka saya dan anak-anak harus mencari tempat tinggal di luar asrama dikarenakan suami tidak bertugas lagi di Polda Kalteng. Mulai hari itu setiap hari saya harus keliling mencari rumah kontrakan, dan akhirnya saya dapat rumah dan menjadi rumah milik kami karena pemiliknya tidak jadi kontrakkan tapi di jual kepada kami. Sebelumnya saya menghubungi pemilik rumah dan katakan saya mau kontrak rumahnya mereka sudah setuju pada waktu itu 15 juta / tahun saya minta turunin menjadi 12,5 juta tapi akhirnya saya pikir-pikir kalau saya kontrak mahal sekali akhirnya saya coba tanya kalau rumahnya mau dijual, mereka sempat berpikir sejenak
"iya bu, gimana kalau tukar tambah sama mobil ibu"
"boleh-boleh nanti saya bicarakan dulu dengan suamiku ya..."
Hari itu juga saya telepon suamiku, dan sampaikan maksud pembelian rumah itu, akhirnya suamiku juga menyetujui. Pada waktu itu pemilik rumah tidak tempati rumahnya karena mereka tinggal di ruko mereka, jadi di jaga oleh tetangga belakang rumah. Menurut tetangganya rumah ini setelah dibangun 3 bulan yang lalu hanya sekali-kali mereka datang tempati, karena kelihatan masih baru itu yang membuat saya juga tertarik untuk membelinya. Pada pertemuan berikutnya dengan pemilik rumah, mereka memutuskan tidak jadi tukar tambah mobil, sehingga kami membayarnya karena ada uang di tabungan yang selama ini saya simpan dan kami jadikan uang setoran awal dan bertahap sampai 3 kali.

Tepat tanggal 1 Januari 2004 saya dan anak-anak masuk rumah tersebut, pukul 05.00 saya ajak anak-anak masuk dan berdoa diruang tamu mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan dan memberkati rumah kami ini. Pada waktu itu suamiku sudah kembali ke Ambon karena dia hanya datang pada saat natalan tanggal 25 - 27 desember 2003, dan sesudah suamiku balik lagi ke Ambon saya mulai pindahkan barang-barang. Sehingga mulai tanggal 1 Januari 2004, saya dan anak-anakku menempati rumah baru, rasanya kurang lengkap saat kami menempati rumah ini karena kami bertiga masih terpisah dengan suamiku ayah dari anak-anak. Inilah yang selalu menjadi pelajaran bagi saya betapa berharganya waktu dan kesempatan untuk bersama dengan keluarga merasakan suka dan duka bersama, yang selama ini sepertinya selalu dan selalu harus aku perjuangkan untuk kuraih meskipun saya tidak tahu kapan waktunya itu.

No comments:

Post a Comment