Friday, April 22, 2011

Part-16


" Saat keadaan menekan kita teramat dalam "

Pelajaran berharga saat kita mengalaminya sendiri, selama kita hanya bisa ngomong kita tak dapat merasakan makna dari apa yang mereka alami di luar sana. Bukan berarti kita harus sama dengan keadaan mereka, tapi jika kita mau sadar bahwa saat-saat kita sedang mengalami persoalan,, yg sedang kita alami adalah sama dengan apa yang orang lain alami, hanya ada dalam bagian-bagian persoalan kita masing-masing. Artinya bahwa setiap kita pasti mengalami apa yang disebut suka dan duka.

Perjalanan hidupku juga mungkin sedang kau alami, tapi itu ada dalam bagian persoalan yang mungkin berbeda denganku. Melihat kehidupan rumah tanggaku sudah terkikis oleh keegoisan dan ketidakpercayaan yang memang sulit kurengkuh sejak awal perkawinanku, aku selalu mencoba mengambil langkah untuk suatu keputusan agar kehidupan rumah tanggaku aman, damai dan sejahtera. Langkah awal pernikahan saya mengikuti suami ke Palangka raya, setelah lima tahun kemudian saya mengikuti suami pendidikan specialis di Manado. Seakan perjalanan ini mulus-mulus saja, berjalannya waktu riak gelombang rumahtangga mulai menghantam rumah tanggaku. Keegoisan dan kebohongan suamiku sudah mulai nampak, saya berpikir semakin tinggi pendidikannya semakin dia mengerti bagaimana posisi sebagai suami dan istri dalam rumah tangga. Tapi ternyata dengan status dan pekerjaannya dia menunjukkan bahwa dia bebas untuk kesana kemari, dan dengan kekuasaan penuh ada di tangannya. Saya coba mengerti dengan pekerjaannya sehingga tak pernah saya melarang untuk perkembangan karier dan jabatannya.

Langkah kami mulai tersendat saat saya harus mengikuti suamiku, setelah selesai pendidikan specialisnya. Saya dan anak2 berangkat mengikutinya di tempat tugasnya dengan keputusan yang saya ambil karena suamiku tidak mengijinkan pada waktu itu, tapi sebelum genap dua bulan kami kumpul akhirnya kami terpisah lagi, suamiku harus tugas di Ambon. Selama tugas di Ambon suamiku tidak pernah mengijinkan saya dan anak-anak ke Ambon sehingga dengan diam-diam, tanpa memberitahu kami harus berangkat menemui dia di Ambon.
Tahun 2004 ini awal pertama saya dan anak-anak tidak natal dan tahun baruan dengan suamiku, sebelumnya dia janji akan datang sekitar tanggal 23 Desember tapi sampai 26 Desember tidak ada kabar. Sehingga tanggal 28 Desember 2004 saya memutuskan bersama anak-anak saya berangkat ke Ambon, dengan tekad untuk melihat persekolah anak untuk di pindahkan di Ambon.

Di Ambon kami nginap di salah satu hotel di tengah kota Ambon, besoknya kami ke kantor suamiku dan dia menyuruh saya dan anak-anak pindah ke hotel dekat kantornya suamiku dan dia mengantar kami kesana. Keesokkan harinya tanggal 30 desember 2004 saya di jemput ibu Serly untuk menemui istri dari Irwasda yang akrab dipanggil bu Ir di kediamannya, dalam perjalanan saya di ingatin bu serly bahwa saya dan anak2 tinggal di kawasan yang jauh dari tempat tinggal suamiku, boleh dikatakan tidak aman untuk saya dan anak2 mengingat kondisi Ambon yang masih tidak menentu kalau sewaktu-waktu ada konlik yang tak terduga memanas di kota Ambon karena menjelang tahun baru, kami tidak dapat menolong ibu dan anak2, kata bu Serly. Setelah ketemu ibu Ir saya ditanyaiin tinggal dimana di Ambon, ibu Ir kaget saat saya memberitahukan kami nginap di hotel, makanya dia langsung menyuruh bu Serly menghubungi suami bu serly yaitu pak Robert yang adalah staf perwira di kantor suamiku untuk melihat asrama polisi di belakang kantor suamiku, dan setelah di cek di informasikan ada sehingga saya dan anak-anak disuruh menempati tempat itu. Karena seharusnya sebagai kabid suamiku punya rumah dinas yang sudah disediakan dia tidak tempati dan akhirnya di tempati oleh salah satu dokter. sepulang dari rumah ibu Ir kami langsung survey asrama itu, waktu kami mampir di kantor suamiku belum datang jadi tanpa ada perintah dari suamiku, hari itu saya dan bu Serly serta anak2ku ke toko mencari kasur untuk kami bertiga pake tidur malam, jadi siang itu juga saya dan anak2 sudah menempati tempat itu, saya pikir luamayan ada beberapa tetangga saya yang kebetulan adalah asrama untuk para kasat di Polres. Siang itu saat suamiku datang diberitahu oleh stafnya bahwa saya dan anak-anak sudah menempati asrama di belakang atas perintah ibu Ir. dan dia menemui kami bertiga sambil menakut-nakuti kami nanti kalian dapat malaria disini, dikrain enak tinggal disini nanti kalian rasa katanya, saya hanya katakan dari pada kami di hotel tidak aman mungkin lebih baik kami disini melantai. dalam hatiku nanti juga kau tidak menjaga kami disini, dari sikap suamiku memang dia tidak mengizinkan saya dan anak2 tinggal di Ambon jadi jika kami menempati asrama itu berarti sudah harus tinggal di Ambon. Mulai malam itu saya dan anak tidur beralaskan kasur dilantai itulah modal awal kami tinggal disitu, karena tidak ada satu barangpun di asrama itu, tapi saya lihat anak-anak begitu tertidur pulas tenang rasa hatiku melihat mereka begitu nyamannya tertidur.

Keesokkan harinya tanggal 31 Desember 2004 suamiku hanya sebentar saja kekantor 'karena ada pasien di rumah sakit katanya', dan hari itu para staf dan perawat melengkapi perabot di tempat kami tinggal dengan kursi tamu yg diambil dari kantor, dan mereka ketoko membelikan tempat tidur untuk kami, hari itu saya juga ajak bu Serly untuk membeli alat makan dan minum kami serta kompor yg kami perlukan untuk masak. Saya sangat berterimakasi atas perhatian para staf dan perawat di kantor suamiku yang mau peduli dengan saya dan anak-anak. Sejak siang hari itu setelah suamiku menengok kami bertiga, dia tidak pernah nongol lagi di asrama tempat kami tinggal hingga tahun berganti 2005, sampai staf dan para tetangga heran kog selalu hanya kami bertiga yang ada di asrama.

Tanggal 1 Januari 2005 yang seharusnya awal tahun yang kami harapkan bisa kami sama2 dengan suamiku masuk gereja tapi samapi hari inipun dia tidak pernah muncul di rumah. akhirnya hanya saya dan anak-anak masuk di gereja dalam kompleks asrama itu, selesai ibadah saat salaman dengan orang-orang yang tanyain bapaknya anak-anak, saya hanya katakan bapaknya lagi tugas, mereka memaklumi karenatugas seorang dokter. tapi sebenarnya hati saya hancur mereka tidak tahu. Hari itu saya dan anak-anak ke rumah ibu Serly di asrama polisi batu merah dan kebetulan disana ada keybord jadi mereka menyuruh Mikhael main dan Prizi nyanyi, dan saat itu tetangga di asrama pada kumpul juga di tempat bu Serly, Mikhael dan Prizi menyanyikan "doa di malam natal" terlihat para ibu-ibu banyak yang nangis terharu mendengar bait demi bait dialunkan mikhael dan Prizi. Mereka mengatakan "untung aja anak-anak ini punya talenta seperti ini, jadi mereka tidak terlarut dengan keadaan yang mereka alami". Saya hanya bisa mensyukuri bahwa tanpa karunia Tuhan saya dan anak-anak tak mungkin bisa bertahan, saya melihat bahwa ternyata banyak orang diluar yang sayang dan perhatian pada saya dan anak-anak disaat kami harus kehilangan seorang figur yang kami cintai.

Tanggal 2 Januari 2005, dengan semangat pagi-pagi sekali saya dan anak-anak di antar ke tempat suamiku tinggal disalah satu kamar di rumah sakit swasta, Tiba disana saya mengetok seolah-olah perawat ditempat itu saya bisa mendengar suara suamiku dari dalam katanya tunggu sebentar, saya berusaha diam biar suamiku tahu adalah pasien atau perawat. setelah di buka pintunya saya langsung dorong dan ternyata suamiku hanya pake handuk yang dilingkarkan kepinggannya dan waktu saya tarik memang lagi telanjang, cepat-cepat dia tutupi kembali karena ada anak-anak yang ikut dengan saya, dan saya menerobos masuk ke dalam kamar dan saya dapati di tempat tidur Maya sedang berselimut sehelai kain dan saya tarik selimutnya dan ternyata tak sehelai benangpun menutupi tubuhnya, tak tahu saya dapat kekuatan dari mana bisa menyaksikan semua ini, di saksikan anak-anakku masuk kekamar. Memang secara kejiwaan anak-anak pasti syo'k dan sungguh tidak baik untuk perkembangan mereka, Tapi itulah peristiwa yang harus kami hadapi. Suamiku hanya bisa berkata "sudah keluar sana, saya sudah katakan nanti saya selesaikan" dia begitu ketakutan wajahnya pucat pasi karena saya sempat merekamnya dengan handycame yang saya bawa, saya hanya bisa katakan "Oh jadi begini ya kerja kalian..!!" ,,
"ibu jangan libatkan anak-anak" kata Maya
"Mana saya dan anak2 tahu kalian disini, seperti ini ..!! kataku kesal,
"Sudah... ayo keluar" kata suamiku membentak saya dan anak-anak, anak-anak karena ketakutan cepat-cepat mereka keluar dari kamar itu.
sambil keluar tanganku tetap merekam handycame ke arah suamiku, jadi ekspresi marah dan ketakutan kelihatan di camera. sebelum pergi saya sempat berkata kepada suamiku,
"Puas kau buat saya dan anak-anak seperti ini...!! dari dulu kau katakan mau selesaikan tidak pernah selesai-selesai, ternyata saya baru tahu siapa kau..!!" dan mulai saat itu tak ada lagi berita dari suamiku apalagi untuk melihat saya dan nak-anak.
Sepulang dari peristiwa itu, saya bawa anak-anak langsung kegereja GBI dan dalam pujian musik dan lagu saya tidak memperlihatkan ke anak-anak bagaimana hancurnya saya karena saya harus kuat di hadapan mereka berdua, jadi mereka juga mengalun memuji Tuhan dan berdoa dengan khusuknya, Khotbah saat itu sangat menguatkan saya dan anak-anak. Dan pada saat doa penyerahan saya mengajak anak-anak maju di depan untuk minta di topang dalam doa, dan mereka mendoakan kami tanpa mengetahui peristiwa dan persoalan yang sedang kami hadapi.

Pada hari ke empat di tahun 2005 karena tidak ada berita dari suamiku, sore harinya saya dan anak-anak ke tempat praktek suamiku. Anak-anak saya suruh ketemu papinya dulu, tapi tiba-tiba anak-anak datang mengeluh kata mereka; 'kami Dimarahi sama tante Maya dan diusir papi'. Sebagai ibu tentu saya tidak terima anak-anak diperlakukan seperti itu, saya langsung turun dari mobil dan masuk ke ruang prakteknya yang kebetulan waktu itu tidak ada pasien, langsung saya katakan;
"saya tidak terima anak saya di marahin dan diusir seperti itu"
"Ya sudah bu, saya lapor saja ke provost" kata Maya,
"silahkan lapor, biar jelas mereka tahu" saya tantang Maya yang lagi pura-pura sibuk mau menelpon. Karena ketakutan suamiku lari keluar, dan saya mengejarnya tapi tangan saya di tahan Maya dengan keras saya lepaskan dan saya katakan,
"ini bukan urusanmu ini urusan saya dengan suamiku..!!"

Saya kejar suamiku menuju ke mobil dinasnya yang di parkir di jalanan, saya langsung masuk kemobilnya dan suamiku ketakutan dan berkata:
"itu dia sudah mau lapor ke provost, tolong mengerti"
"kenapa harus takut, dari dulu bilang mau lapor dia cuma ngancam saja kan, yang saya tidak terima anak-anak di marahin" kataku geram
"iya tapi tolong mengerti dengan saya, nanti saya selesaikan sendiri" jawabnya bingung
"Dari dulu perasaan tidak pernah selesai, mungkin kamu belum kenal saya ya..!!" saya balik mengancam, tapi saya tidak tahu saat itu saya sudah di kuasai keberanian yang berapi-api dan saya tahu bahwa kekuatan itu ada dalam diri saya saat itu, seperti bom tinggal tunggu meledak sampai saya katakan kepada suamiku, "mau tahu jika hilang kesabaranku, saat inipun kau bisa melayang dari sini dan mobil ini bisa kubuat terbalik",
mendengar itu dan mungkin suamiku sudah melihat sorot mata saya tidak seperti biasanya, dia ketakutan dia memohon ampun untuk dia segera pergi dari tempat itu. Tapi saya sempat mengancam jangan sekali-kali menyakiti anak-anak lagi, dan suamiku menyanggupi sambil memohon pengertian dari saya, dan saya langsung keluar dari mobilnya menuju mobil yang ditumpangi anak-anak sehingga suamiku langsung pergi. Beberapa menit kemudian suamiku telepon dan katanya mau ngomong dengan anak-anak, sehingga loudspeakernya di besarin,
"Mikhael ..., Prizi..., papi minta maaf sudah menyakiti kalian, maafin papi ya..?"
"Iya pi..., tapi papi baik-baik ya " jawab Mikhael
"papi minta maaf sudah mengecewakan" kata suamiku lagi, suasana kami dalam mobil sempat terharu juga mendengar, "iya pi ..." jawab Prisi, dan setelah itu saya dan anak-anak pulang ke asrama, seperti biasanya saya dan anak-anak tidak ditemani papinya, berhari-hari kami hanya tinggal bertiga.

Selama beberapa hari di Ambon saya mencari informasi sekolah yang baik untuk anak-anak, tapi ternyata dengan peristiwa dan keadaan yang mereka berdua hadapi, mereka katakan,
"Mami saya tidak mau sekolah disini, meskipun mami daftarkan saya tidak akan pergi sekolah" dan di iyakan oleh Prisi adiknya "iya mami saya juga tidak mau sekolah disini"
kuberpikir bahwa anak-anak benar, mereka tidak boleh di paksakan karena ini menyangkut beban kejiwaan mereka. Hingga saya ambil keputusan sebelum saya mengantarkan anak-anak pulang saya harus mendesak suamiku untuk menempati asrama yang sudah diberikan karena semua perabotan dan peralatan makan sudah disiapin.

Tanggal 8 Januari 2004, saya mengajak anak-anak dan ibu Serly ke tempat tinggal papinya anak-anak tapi tidak ada di tempat kamarnya di gembok. Setelah saya coba tarik gemboknya, tiba-tiba gemboknya terbuka, akhirnya saya ngomong sama perawat dirumah sakit bahwa saya mau ambil barang suamiku mau dipindahkan ke asrama polisi. Mereka disitu begitu senang sekali mendengar itu karena ternyata mereka tidak suka dengan kehadiran Maya di rumah sakit itu yang sering memerintah mereka seenaknya " Iya bu ambil saja" kata mereka sehingga mereka membantu saya untuk mengangkat koper dan peralatan suamiku yang ada di kamar itu, semua pakaian saya angkut semua tidak ada yang ketinggalan. Dan ternyata itu juga menjadi masalah, tengah malam setelah suami saya pulang ketempat tinggalnya dia kaget barangnya sudah tidak ada jadi dia menelpon saya katanya "kenapa dipindahkan barang-barang saya"
"karena kamu, kerjanya di kepolisian bukan dirumah sakit swasta jadi tempat tinggalmu di asrama polisi ini" jawabku
"tapi saya kan kerja disini, juga " jawabnya
"saya tidak mau tahu, yang saya tahu kamu kerja di rumah sakit polisi " jawabku tegas,
"Aaahhh cari masalah saja, ini si Maya sudah mau lapor di provost" jawab suamiku kesal
"lapor saja, nanti juga mereka tahu siapa dia" kataku menantang,
"Aaaaahh cari masalah saja" kata suamiku sambil matikan telpon,

Besoknya tanggal 9 Januari 2005 hari ini anakku Mikhael ulang tahun, pagi-pagi suamiku muncul diasrama karena dia harus pake baju dinas, tapi anehnya suamiku tidak marah-marah seperti semalam dia telepon, dia cuma bilang itu si Maya sudah mau lapor katanya kalau tidak dikembalikan lagi, saya katakan ngapain takut kan itu cuma buat dia ngancan-ngancan saja, inikan barang kamu bukan barang dia.
Sore hari suamiku tidak balik lagi di asrama dia tidak peduli bahwa hari itu hari ulang tahun anaknya, dan sore itu jam 6 suamiku telpon marah-marah bahwa si Maya sudah mau melapor kalau tidak dikembalikan jam 8 malam ini kata suamiku mendesak saya. Sore itu juga saya mengajak ibu Serly ke tempat ibu Ir minta petunjuk, dan ibu Ir katakan ibu tidak usah takut memang seharusnya dokter tinggal di asrama bukan di luar.
Setelah itu ibu Serly membawa kami ke suatu tempat diatas bukit tepat melihat pemandangan kota Ambon untuk kami makan malam merayakan ulang tahun Mikhael. Jam 21,00 suamiku telpon menyampaikan bahwa Maya sudah mau ke Polda melapor, saya jawab biar saja tidak usah takut. Akhirnya hampir pukul 22,00 malam kami dapat berita bahwa Maya sudah melapor di Polda, saya di sarankan bu Serly untuk minta petunjuk bu Ir, dan akhirnya saya menelpon ibu Ir dan minta petunjuk, beliau mengatakan sebelum saya ke Polda saya harus temui pak Made yang pada waktu itu menjabat sebagai kepala provost. Dalam perjalanan ke rumah pak Made saya di telepon bu Ir dan beliau mengatakan bahwa benar di Polda sudah masuk laporan dari Maya bahwa saya di tuduh telah mengambil barang-barangnya. Akhirnya sampailah saya, dan ibu serly bersama anak-anak di rumahnya pak made, saya mengatakan maksud kedatangan kami dan saat itu juga pak Made langsung mengkonfirmasi ke Polda, dan beliau katakan "iya laporan dari ibu Maya itu sudah masuk di Polda, dan ibu Maya sekarang katanya ada di Polda".
Kemudian pak Made manyuruh saya dan anak-anak serta bu serly duluan ke Polda.

Setibanya saya di Polda, saya melihat Maya dengan wajah tidak ada senyum sedang ada di ruang tunggu Provost. saya langsung menghadap rovost jaga malam itu dan mereka katakan :
"Bu Melky ini ada ibu Maya melapor bahwa ibu telah mengambil barang-barangnya"
Dengan tenang saya menjawab:
"Setahu saya bahwa itu adalah kamar suami saya, berarti barang di dalamnya adalah barang suamiku bukan barang orang lain"
" iya memang itu kamar suami ibu tapi ada barang-barang saya di dalamnya" kata Maya memotong pembicaraanku untuk membela dirinya.
Pembicaraan kami terpotong karena pak Made sudah datang, jadi dia mengajak untuk diselesaikan diruangannya saja. saat itu sudah pukul 23.00 lewat. pak Made mulai menanyakan persoalannya, seperti penjelasan saya sebelumnya, tapi Maya tetap mengatakan ada barang-barang dia di dalamnya, sehingga saya tanyakan apa saja itu...?
Maya menjawab " ada 1 celana panjang berkantong diatas lutut, CD/DVD itu punya saya"
"Kalau celana warna apa ...?" tanyaku
"Warna coklat muda" jawab Maya,
"yah saya pikir itu punya laki-laki, terus ada barang apa lagi...? tanyaku"
"Cuman itu saja sama CD , tapi ada juga perhiasan di dalam kantong baju dokter" jawabnya agak ragu. Karena saya tidak memeriksa isi kantong jadi saya tidak tahu, sehingga saya katakan :
"okey nanti saya kembalikan kalau itu memang barang kamu" dalam hatiku wah ternyata barang-barang hanya seperti itu, dia nekat melapor. Kemudian Pak Made berkata tapi ini persoalan harus ada dokter(suamiku) juga, dan tiba-tiba Maya katakan "iya pak nanti saya telepon dokter" kami yang ada disitu saat itu langsung senyam-senyum saling memberikan isyarat seakan pikiran kami sama, wah keadaan kog terbalik.

Karena telepon suamiku tidak diangkat, akhirnya Maya menelpon perawat rumah sakit swasta itu, katanya:
"Mana dokter..!!" dengan nada keras
"Katakan sama dokter saya tunggu 5 menit..Cepat!!" lanjut Maya dengan nada mengancam.
Kami yang ada dalam ruangan itu saling berpandangan sambil senyam-senyum.
"dokter katanya lagi mau operasi usus buntu, tapi biasanya sebentar saja itu" kata Maya seakan dia tahu semua proses operasi.
Akhirnya pak Made minta nomor suamiku kesaya, seakan-akan dia tidak tahu nomor Hp suamiku, dan saya memberikan,, kemudian pak Made telepon suamiku, dan mengatakan bahwa dia mau menyelesaikan masalah yang di laporkan ini tapi dokter harus hadir karena dokter yang tahu semuanya.
sementara menunggu suamiku datang, Maya mengatakan bahwa sudahku katakan sama dokter kamu itu sudah tua sudah bau tanah sudah harus sadar jangan begini terus, tapi itulah dokter tidak bisa dibilangin, kemudian maya melanjutkan ceritanya dengan melaporkan apa yang dialaminya meminta pengasihan kita, katanya mungkin sekarang dia lagi hamil karena dia sudah telat. Dan pak Made mengarahkan pembicaraan menasehati Maya. Sekitar setengah jam kemudian suamiku datang dengan wajah lesuh memohon pengasihan kami yang ada disitu. Kemudian pak Made langsung membuka pembicaraan pada saat itu;
"Begini dok, nah ini ibu Maya ada melapor bahwa ibu Melky ada mengambil barang-barang ibu Maya yang ada dikamar dokter, dan sudah kami selesaikan bahwa ibu Melky akan mengembalikannya jika itu adalah kepunyaan ibu Maya karena menurut ibu Melky bahwa itu adalah kamar suaminya, berarti barang di dalam kamar itu adalah kepunyaan suaminya, itu sebabnya kami minta penjelasan dokter bagaimana...?

Kata suamiku "Dalam hal ini saya minta maaf, saya yang salah..., jadi saya minta maaf sama Maya sekarang kamu tahu saya punya istri dan anak-anak"
"Tidak bisa...!!, saya mungkin bisa saja memaafkan kamu tapi bagaimana dengan keluargaku" jawab Maya dengan nada keras
Pak Made menengahi pembicaraan katanya;
"Nah kalau begitu dokter Melky harus minta maaf ke keluarga ibu Maya"
Suamiku hanya diam, sehingga Maya berkata lagi ;
"saya tidak bisa jamin kalau keluarga saya bisa memaafkan dia" sambil menunjuk suamiku.
Pak Made berkata lagi "kalau begitu ibu melky saja ya bu...?"
saya menjawab "iya pak,, nanti saya menemui keluarganya" dengan perasaan saat itu bahwa saya berani melakukan itu untuk suamiku apapun nanti yang akan terjadi. Tetapi ibu Maya cepat-cepat menjawab seakan tidak menyetujui kalau saya datang kerumahnya;
"Oh tidak bisa,, orang tua saya tidak ada dirumah saat ini"

Pembicaraan kami terpotong karena kedatangan ibu Ir ,, dan saat beliau masuk langsung menendang kursi yang kosong dengan wajah marah sehingga terpental sekitar 2 meter dan hampir kena suamiku. Melihat postur tubuh ibu Ir yang tinggi besar tentu bisa dimaklumi bagaimana kursi itu bisa terpental keras, sehingga keadaan kami disitu menjadi tegang. Dan beliau mengatakan kepada suamiku ;
"dokter Melky...,, kamu mau tahu sebenarnya kamu dokter yang saya sayang saya hormati saya banggakan, tapi kamu sudah mengecewakan saya, saya benar-benar marah dan tidak suka dengan caramu memperlakukan keluargamu"
dan kemudian beliau berbalik kearah ibu Maya dan berkata:
" Kamu juga perempuan ...!! jangan mau di tipu laki-laki, dibohongi kasihan itu dia punya istri dan anak-anak..!!, kalau mau cari laki-laki yang bertanggungjawab diluar sana"
kemudian ibu Ir berkata kepada pak Made :
"Saya mohon maaf pak Made, habis saya marah sekali melihat istri dan anak-anak diterlantarkan begini, tolong diselesaikan masalah mereka ini ya pak...?"
"Dan kau dokter Melky,, saya minta kau yang antar istri dan anak-anakmu pulang di asrama dan saya tidak ingin mendengar lagi kau tinggal di luar asrama...!!" kemudian ibu Ir pamitan pulang.

Pak Made kemudian menasehatkan suamiku, "dokter Melky semua kembali pada diri kita sendiri, kejadian ini adalah suatu pelajaran bahwa kita tidak terlepas dari kesalahan tapi alangkah baiknya jika kita bijak menyikapinya, yah ada orang yang pingin makan sate kambing dia bisa mendapatkan di warung sate tanpa harus dia memelihara kambing. demikian juga hidup kita. Jadi ini adalah pelajaran buat kita semua, nah sekarang saya mau tanya sama ibu Maya mau tidak memaafkan dokter Melky...?"
"Kalau saya bisa memaafkan, tapi saya tidak jamin dengan keluarga saya"
"Nah kalau begitu kau yang harus beri pengertian kepada mereka bahwa dokter Melky sudah punya istri dan anak-anak, apakah kau tidak mengasihi mereka....?
"Saya kasihan sih sama ibu dan anak-anak, tapi saya takut keluarga saya berontak"
Pak Made bertanya lagi kepada saya: " Ibu melky bisa ya nanti meminta maaf di keluarga ibu Maya", saya jawab "Iya pak saya bersedia"
Lanjut kata pak Made "Nah kalau begitu saya buat berita acara, dan minta ditanda-tangani,"
Tapi tiba-tiba bu maya mengatakan tidak bersedia untuk tanda-tangan, akhirnya pak Made katakan "baiklah kalau begitu kita selesaikan secara kekeluargaan, dengan catatan dari pihak ibu maya sudah memaafkan dokter dan istrinya demikian sebaliknya ibu melky sudah memaafkan dokter dan ibu Maya" kemudian kami salaman dan berpisah dari tempat itu karena hari sudah pukul hampi 01.00 malam.
Beberapa menit kemudian telepon saya bunyi ternyata dari mama, nan waktu itu sudah lewat pukul satu malam itu berart di Manado sudah lewat 12 malam, mama tidak tahu saya di Ambon saat itu beliau katakan "mama baru selesai doa malam untukmu" hatiku tersentak apa mama merasakan keadaan yang saya alami, sedangkan selama ini saya tidak pernah menceritakan keadaan yang sedang saya alami, saya katakan "iya ma, terimakasih mama sudah bantu saya dalam doa, saya lagi di Ambon dengan anak-anak" dan kemudian mama menanyakan keadaan kami, saya katakan baik-baik saja. Saya percaya bahwa doa ibu itu sangat membantu dan berkuasa bagi kami anak-anak sehingga malam ini jika mama mendoakan saya itu bukan karena kebetulan tapi karena Tuhan mau nyatakan mujizatNya dan kuasaNya dalam kehidupan kita yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Malam ini suamiku ikut dengan saya dan anak-anak ke asrama dalam perjalanan saya katakan bahwa barang-barabnya Maya yang dia minta dibalikkan hanya celana panjang warna agak kecoklatan dan CD/DVD, serta perhiasan. Tapi kata suamiku "itu CD/DVD serta perhiasan bukan punya dia itu punya saya". Jadi saya langsung membayangkan ternyata ada sesuatu yang ingin Maya kejar dan dengan tidak ada rasa malunya dia melapor, ternyata bukan hanya itu saja yang dia inginkan tapi karena dia merasa bukan punya dia, dia tidak berani mengatakan yakni uang yang ada dalam koper, itupun saya tahu setelah suami saya memberitahukan kepada saya bahwa di dalam koper ada uang hasil praktek dan operasi dan di koper yang satu ada pistol dan peluru yang saya sudah amankan terlebih dahulu. Pagi-pagi sekali suami saya minta pistol/senjata api punya dia yang katanya harus di kembalikan ke markas penyimpanan, tapi saya katakan nati saya yang simpan kalau di tangan saya aman kataku. Walaupun suamiku mendesakku untuk berikan pistolnya saya tetap tidak berikan, mungkin dipikirannya bahwa nanti saya kalut saya pake pistol tersebut. Setelah beberapa hari kemudian saya harus balik lagi ke palangkaraya untuk mengurus status izin saya untuk titipan di Ambon dan anak-anak kembali sekolah sebelum berangkat saya berikan pistol yang saya simpan beserta pelurunya.
Keadaan yang memproses dan menekan batin saya selama di Ambon tidak membuat aku rapuh dan terjatuh, justru itu membuat saya harus bangkit bagaimana berjuang untuk menjalani hidup ini bersama dengan anak-anak saya berada jauh dari sanak saudara dan orang tua. saya berusaha berjuang walau tertatih dengan keadaan yang kadang tidak menentu, saya bertahan dalam badai untuk anak-anakku.

No comments:

Post a Comment