"Terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan yang kita alami"
Bergulirnya waktu tentu akan menjadi masa-masa yang panjang bagi yang menantikan sesuatu yang di harapakan terjadi dalam hidupnya. Namun jika kita mau sabar dan sadar bahwa semua ada waktunya. Enam tahun setengah masa yang kami harapkan untuk dapat bersama lagi, meskipun pada kenyataannya riak gelombang persoalan belum juga selesai.
Juni 2007 suamiku di mutasikan ke Palangka raya, Namun nanti akhir Juli baru dia datang dengan alasan menyelesaikan tugas-tugasnya di Ambon sebelum pindah. Kedatangannya tentu sangat membahagiakan saya dan anak-anak, tapi tidak bagi suamiku, dia marah-marah menyalahkan saya yang membuat dia pindah ke Palangka raya. Dalam hal ini saya tidak mengerti apa alasan suamiku menuduh saya memindahkannya balik ke Palangka raya, saya sangat terkejut dan balik bertanya pada suamiku;
"apa alasannya kog mami yang dipersalahkan...?"
"Ya, karena mami yang lapor-lapor di Mabes" kata suamiku coba menekan saya.
"Jika itu alasannya tentu sudah dari tahun 2004 kemarin dipindahkan waktu saya ke Pusdokkes" kataku mengingatkan dia waktu saya menghadap Dr. Imam atas sepengetahuan dia, untuk memohon mutasi, mendengar penjelasanku suamiku diam. Sehingga saya coba meyakinkan dia dan mengatakan;
"pap..., dalam hal ini karena Tuhan sayang sama kita, makanya DIA kumpulkan kita kembali, coba papi pikir kenapa papi dipindahkan lagi kepalangka Raya.., bukan ditempat lain...?
Suamiku tidak menjawab, dia menghindar dari saya dan pergi keluar.
Saat-saat seperti itu membuatku selalu bertanya apa yang salah denganku, seakan dia tidak mau bersama dengan kami. Hal ini pernah saya tanyakan waktu suamiku masih tugas di Ambon;
"Pi tolong katakan apa kesalahan mami sehingga mami bisa merubahnya...?"
"Mami tidak pernah salah, tidak ada yang salah dengan mami...!" kata suamiku meyakinkan saya.
"tapi kenapa papi seperti ini terhadap saya dan anak-anak...?" saya coba bertanya lagi
"yah sudah,, tidak ada yang salah..!" kata suamiku dan langsung pergi seakan tidak mau di ganggu. Kalau sudah demikian saya harus selalu mengalah dan mengerti keadaan.
Setelah hampir satu minggu suamiku berada di Palangka raya, berkenaan dengan kepindahannya maka di Polda Kal-teng akan di lakukan pelantikan suamiku sebagai Kabiddokkes yang baru. Pada hari pelantikkannya saya izin tidak masuk mengajar, karena saya harus mendampinginya. Kami berdua berangkat sama-sama dari rumah dan saya yang menyetir mobil, selama perjalanan saya coba menyentuh hati suamiku dan berkata;
"pi..., saya dan anak-anak sangat bahagia papi ada bersama kami, karena kami butuh papi, tolong jaga saya dan anak-anak disini ya....??"
"mami ini ngomong apa sih..!!" kata suamiku,
"Iya papi tuh kebanggaan kami, dengan adanya papi disini tentu kami merasa ada yang melindungi" jawabku dengan hati-hati,
"Sebenarnya saya tidak suka pindah kesini, di Ambon saya bisa kerja di beberapa rumah sakit, itupun ada beberapa jasa operasi saya yang belum saya ambil. disana saya bisa praktek di beberapa tempat" kata suamiku,
Mendengar itu saya hanya diam dan biarkan dia mengeluarkan semua isi hatinya, agar saya tahu apa maunya suamiku. Dia melanjutkan dengan menceritakan pekerjaan2-nya di Ambon yang dengan kata lain dia mau mengatakan bahwa hasil pekerjaanya sebagai dokter di Ambon sangat besar. Itulah suamiku, dia akan selalu lebih memilih pekerjaan dan uang dari pada keluarga. Kami berduapun tiba di Polda dan saya parkir mobil tepat didepan kantor suamiku, hari itu saya mengikuti prosesi pelantikan suamiku dengan hati yang sebenarnya terluka, saat itu yang kupikirkan apapun keadaan hatiku saya harus menunjukkan kepada orang lain bahwa rumah tangga kami baik-baik saja, saya harus mendampingi suamiku saya tidak ingin mempermalukan dia.
Sudah dua minggu suamiku berada bersama saya dan anak-anak, saya selalu mengatakan kepada anak-anak kalau papi pulang kantor selalu dibuat papi senang ada di rumah. Jadi saya dan anak-anak kompak untuk selalu membuat papinya ketawa menemani papinya saat ada di rumah dengan cerita dan bercanda bersama. Suatu malam jam 10an lewat, suami saya belum pulang perasaan saya merasa tidak enak sehingga saya telepon suami saya, saat telepon di angkat saya tanyakan 'papi dimana...?' tidak ada jawaban tapi saya bisa mendengar lagi ada perang mulut yang terdengar seperti berbisik-bisik dan gaduh, saya tidak matikan Hp, saya coba mendengar dengan jelas tapi hanya seperti orang yang lagi berbisik-bisik yang kudengar. Akhirnya saya keluarkan mobil dan mulai saya telusuri melewati setiap hotel untuk melihat mobil suamiku, karena hatiku berkata pasti suamiku ada di hotel. Hingga tepat berada di depan sebuah hotel saya melihat mobil dinas suamiku sedang parkir di depan hotel, saya buka kaca mobilku untuk memastikan plat nomor mobil dinas suamiku dan ternyata benar. Terhentak seketika denyut jantungku tak terkontrol berdetak cepat, saya parkir mobil dijalan depan hotel itu saya tidak berani masukkan mobil kedalam hotel jadi saya parkir di jalan depanhotel itu , cepat-cepat saya turun masuk di lobby hotel yang sudah sepi karena sudah pukul hampir jam 12 malam. Dan saya meminta izin untuk mengecek tamu-tamu hotel lewat buku tamu di receptionist, melihat tidak ada nama yang saya kenal saya minta izin untuk menunggu di lobby hotel, sebelum saya duduk terdengar bunyi pintu sebuah kamar dekat tempat duduk yang saya tuju dan saya melihat suami saya keluar dari kamar itu. Saya langsung mendekat dan mendorong kamar itu ingin melihat siapa yang di dalam sehingga suamiku juga ikut masuk ke dalam, dan ternyata di dalam ada Maya dan dia langsung mengancam saya, katanya;
"Ibu,, saya akan telepon provost saja"
saya katakan "Silahkan....!! biar mereka juga tahu siapa anda" mungkin dia ingin mengancam saya seperti yang dia lakukan di Ambon, tapi saya tidak takut.
"okey kalau ibu mau suami ibu dipermalukan disini..!!" kata Maya mengancam saya, sambil pura-pura sibuk mencari nomor telepon polisi di koran.
melihat itu suami ketakutan, katanya "jangan bikin kributan , di kamar lain banyak kapolres-kapolren nginap nanti mereka tahu"
Karena saya susah emosi saya katakan "Biar saja mereka tahu",
akhirnya suamiku cepat-cepat keluar dari kamar dan ternyata dia pulang kerumah. tertinggal saya dan Maya, sehingga mulailah Maya mengatakan bahwa dia disuruh suami saya datang, karena suami saya akan menceraikan saya. Saya membela diri karena selama ini suami saya tidak pernah mengatakan akan menceraikan saya, "Selama ini tidak pernah ada kata cerai dari mulut suamiku, dan saya sudah katakan kepadanya kalau dia di pindahkan kesini karena Tuhan mau memperlihatkan kepadanya, bahwa disini ada istri dan anak-anaknya"
Mendengar itu Maya mengatakan, "suami ibu yang suruh saya kesini untuk membawa pakaian - pakaian dia yang ketinggalan disana, sebenarnya saya tidak mau tapi dia mendesak saya untuk datang kesini"
"Okey apapun itu alasanmu atau alasan suamiku, kau jangan macam-macam disini" langsung saya keluar dari kamar itu langsung menuju kemobil yang saya parkir di jalanan. Tapi betapa saya kaget ketika ingin membuka pintu mobil dengan remotenya ternyata kunci yang ada di tangan saya adalah kunci rumah, kunci mobil tertinggal di dalam mobil dan setelah saya intip ingin meyakinkan ternyata benar masih ada di stopkontak mobil dan entah bagaimana mobil terkunci dari dalam. Saat itu sudah pukul 01.00 lewat, saat saya lagi bingung gimana membuka mobil tiba-tiba lewat sekelompok polisi patroli malam dan mereka mampir mendekati saya dan berkata;
"Ibu kenapa tengah malam ada disini..?"
saya katakan "tadi saya cari teman saya di dalam tapi karena cepat-cepat kunci mobil saya ketinggalan di dalam"
"Yang benar ibu kog kunci bisa ketinggalan di dalam" kata salah satu polisi penuh curiga,
"iya pak kalau tidak percaya coba bapak intip kedalam mobil" dan beberapa dari mereka memastikan mengintip dalam mobil. Mereka ada sekitar 12 orang ada yang dengan sepeda motor patroli dan satu mobil patroli, ternyata tak satupun dari mereka yang kenal saya. Sehingga ada salah satu polisi yang mungkin curiga dengan saya mulai membentak saya, katanya;
"tengah malam begini ibu seorang perempuan adan di jalan, ada apa ini ...!!"
"Iya pak tadi saya cari orang di dalam, tapi karena cepat-cepat kunci mobil ketinggalan", jawabku coba meyakinkan mereka yang mulai menginterogasi saya.
"Ya siapa orang yang ibu cari...!" nadanya mulai meninggi
karena tidak tahan di interogasi dan disudutkan seperti itu saya katakan:
" Sebenarnya saya cari suami saya dan saya lihat mobilnya ada di dalam hotel jadi saya masuk ke dalam"
"Terus mana suami ibu..!!" katanya penuh selidik
"Ya tadi dia ada didalam tapi setelah lihat saya dia langsung pergi tinggalkan saya dan temannya di dalam"
"siapa nama suami ibu..?" kata polisi itu lagi, sedang yang lain masuk ke dalam hotel mencari informasi mungkin.
saya katakan ; "mungkin bapak kenal suami saya"
"iya tapi namanya siapa...?!" kata salah satu polisi lagi
"sebentar pak, saya coba telepon suami saya dulu" dan saya langsung menelpon suamiku;
"Papi dimana ini....?
"sudah di rumah" kata suamiku,
"ini pi,, kunci mobil ketinggalan di dalam mobil, saya tidak bisa masuk, nanti tolong di antar kunci cadangan ada di dalam laci lemari di kamar" kataku memohon,
"ya sudah tunggu saja" kata suamiku.
Kemudian saya mengatakan kepada bapak-bapak polisi yang masih berada disekitar mobil saya;
"Pak nanti suami saya bawa kunci cadangannya"
"Rumah ibu di mana..?" kata salah satu polisi
"di Panarung pak" saya tiak mau sebutkan secara detail,
"Nama suami ibu siapa" bapak yang marah-marah tadi terus mendesak saya mengatakan siapa suami saya,,
Saya jawab ; "mungkin bapak-bapak kenal suami saya, nanti dia akan kesini tapi saya mohon karena kalau suami saya lihat bapak-bapak ada disini dia tidak akan datang kesini, tolong pak mungkin agak menjauh dari tempat ini"
Sehingga para polisi itupun menjauh dari tempat saya, mobil patrolinya sudah pergi yang tertinggal ada 4 sepeda motor patroli yang tidak berada jauh dari tempat saya untuk memantau saya.
Tidak beberapa lama suamiku datang dengan mobil dinasnya, dan dia katakan;
"kunci cadangannya tidak ada"
"lho kog' tidak ada" kataku
"iya tidak ada di lemari" jawab suamiku,
"oh kalau gitu biar nanti saya cari" saya langsung naik di mobil dinas suamiku,
Setelah melewati beberapa polisi yang berada tidak jauh dari tempat itu saya buka kaca pintu mobil suamiku yang bergerak pelan dan katakan kepada mereka;
"Pak, minta tolong lihat mobilnya ya, mau ambil kunci cadangan dulu"
Di dalam perjalanan pulang saya ceritakan kepada suamiku, apa yang Maya katakan di kamar tadi.
"katanya papi mau ceraikan saya, sehingga papi suruh datang dia ke Palangka Raya",
"mami jangan dengar apa yang dia katakan itu, semua itu bohong" kata suamiku
"Tapi kenapa papi diam-diam pergi ketemu dia..?" tanyaku mendesaknya
"Yah dari pada dia bikin masalah, yang penting kan saya nda kawin di luar sana"
"Nda kawin'.., tapi kenapa bilang mau ceraikan saya...!"kataku tegas
"Mami jangan percaya apa yang dia katakan, di depan mami dia bilang lain tapi setelah itu papi yang dia ancam"
Akhirnya sampailah kami di rumah, saya langsung mencari kunci cadangan didalam lemari dan ternyata suamiku tidak mencari dengan teliti karena ternyata ada dalam laci lemari. Saat itu sudah pukul 02,00 malam saya suruh antar suamiku kembali untuk ambil mobil saya di hotel itu, sampai disana polisi-polisi yang patroli tidak berada lagi disitu. Setelah saya stater mobil, Saya suruh suami saya duluan di depan dan saya ikuti dia dari belakang. Sampai dirumah saya tidak mau lagi membahas persoalan tadi , saya capek sekali dan ngantuk dan tertidur beberapa jam saja hingga pagi.
Keesokkan harinya saya ingatkan sama suamiku tolong jangan bikin masalah lagi di disini, cukup saja kejadian di Ambon selesai semuanya ditinggalkan disana. Mendengar itu suamiku diam seakan merespon apa yang saya katakan, kemudian dia berkata :
" Pokoknya mami jangan percaya apa yang dia katakan, semua itu bohong"
"makanya tolong mengerti dengan saya dan anak-anak, kasihan anak-anak disini banyak teman mereka"
Sampai sore hari suamiku tidak pulang kerumah, saya telepon katanya sudah di tempat praktek. Malam itu pukul 21.00 saya dan anak-anak lewat di hotel itu dan melihat mobil dinas suamiku di parkir di hotel itu, saat kami masuk di looby hotel ada seorang bapak sedang duduk disitu sambil memegang barang-barang bawaannya banyak sekali, sambil duduk disitu anak saya bertanya sama bapak itu; "pak barang-barang apa ini....?"
"Oh pesanan ibu Maya dia katanya nginap di hotel ini" jawab bapak itu,
Mendengar nama itu anak saya marah dan bilang sama bapak itu "Pak bawa pulang aja pak barangnya, itu perempuan ga bener pembohong pak.." kata anakku, yang langsung ditanggapi bapak itu dan menngangkat barangnya lansung pulang.
Tidak beberapa lama, pintu kamar yang dekat lobby itu terbuka dan keluarlah suamiku anak-anak langsung nyerbu mendekati papinya tepat di depan pintu dan saat itu maya langsung marah-marah "saya telepon saja, ke provost" ingin menakuti anak-anakku, saya langsung maju dan katakan "silahkan anda lapor, biar semua jelas terbuka"
Melihat keadaan itu suamiku ketakutan dia masuk ke dalam kamar kembali sambil memohon ampun sama saya dan anak-anakku "tolong ampuni saya,,, tolong mengerti dengan saya, tinggal kali ini saja papi mohon kalian mengerti nanti papi selesaikan, papi sumpah tinggal kali ini" melihat suamiku sudah meringis seperti itu, saya dan anak-anak kasihan, langsung saya katakan lagi "Okey tinggal kali ini juga kami kasih ampun, kami tidak mau selalu dibohongi lagi"
"Iya papi janji,,tinggal kali ini..., papi mau kerumah sakit dulu mau periksa pasien"
Kemudian saya dan anak-anak keluar hotel itu dan pulang kerumah, tiba dirumah kami bertiga langsung masuk kamar dan menyembah memuji Tuhan, berserah kepada Tuhan dan saat itu saya rasakan betul ada damai di hati ada kekuatan yang penuhi dalam hati saya dan anak-anak walau dengan menangis kami bertiga terus saling menyatukan lipatan tangan kami bernyanyi memuji Tuhan sambil berdoa memohon pengampunan dan kelegaan dan saya menutup dengan doa safaat. Setelah itu saya menasehatkan anak-anak apapun yang sudah kita alami hari ini tetap harus ampuni papimu karena kita sudah berdoa untuk papi, jadi jika nanti papi pulang buat seperti tidak terjadi apa-apa. Kemudian anak-anak menuju kekamarnya masing-masing dan istirhat. Hampir pukul 24.00 malam suamiku pulang, saya tidak mau mengungkit cerita yang dialami tadi,, saya tanyakan kalau mau makan sudah disiapkan di meja tapi kata suamiku dia tidak mau makan. Saya membiarkan suamiku tidur duluan walau saya harus ada menemaninya.
Kesokkan harinya setelah sarapan pagi suamiku berangkat ke kantor, demikian juga anak-anak saya antar kesekolah. kira-kira pukul delapan pagi telepon rumahku berdering dan segera kuangkat dan orang di ujung telepon, bertanya"
"ini ibu Melky ya..."
"Iya saya sendiri" jawabku
"Ibu saya peringatkan ya bu jangan macam-macam dengan anak saya..!"katanya mengancamku
"Ibu ini siapa....?" saya balik bertanya
"saya ibunya Maya.., saya peringatkan ibu makanya tu suami dijaga" kata ibu itu,,
"Ibu, mestinya sebagai seorang ibu, ibu doong yang harus nasehatin anak ibu...!!" jawabku tegas
"Eeeehh suami ibu yang cari-cari anak saya" jawab ibu itu. Dalam hati saya 'lho tapi sekarang anaknya yg cari suamiku disini' saya langsung jawab;
"yaah ibu laki-laki yah' dimana saja pembohong, tidak ada yang bisa dipercaya"
"Eeeh memang 'babi' suamimu itu....," kata ibu itu marah
jawabku; "Sudah tahu babi kog anak ibu .., mau..?!"
"Eeeehh babi kau....." kata ibu itu tambah marah.
saya tidak tahu lagi apa yang ibu itu katakan karena saya langsung matiin teleponnya, saya pikir menghadapi orang-orang seperti itu bisa saya yang jadi tidak waras seperti mereka. Setelah itu bunyi telepon berdering terus saya tidak angkat lagi.
Hari itu juga saya dapat informasi dari kantor suamiku bahwa si Maya datang kekantor suamiku, tapi kebetulan suamiku lagi di Rumah sakit kata mereka;
"ibu ada perempuan datang kekantor bapak dengan alasan mengantar pakaian bapak yang selama ini menemani dia tidur di hotel, katanya"
Saya hanya bisa katakan kepada mereka, 'trimakasih, sebab siapapun dia, kalian yang dapat menilainya".
Ternyata setelah mengantar pakaian suamiku yang di bawahnya dari Ambon itu, hari itu Maya pulang ke Ambon, dan inilah awal dari babak pertama suamiku berada di Palangka Raya. Saat yang kami harapkan sebagai babak baru untuk bersama dengan papinya di kota cantik ini ternyata ada proses yang semakin menguji dan membentuk saya dan anak-anak.
No comments:
Post a Comment