Keputusan saya ambil dengan segala resiko harus saya terima, setelah peristiwa telepon suami saya di terima oleh seorang permpuan dan kesokkan harinya suamiku menelpon, sejak itu tidak ada kabar lagi dari suami,, dan dengan segala resiko saya mengajak anak-anak untuk berangkat ke Ambon.
Hari Sabtu pagi saya berangkat ke Jakarta dan atas bantuan seorang hamba Tuhan ibu Debby VanSchouten saya dan anak-anak nginap di Hotel Atlit Century. Malamnya saya dan anak-anak diajak ibu Debby jalan-jalan ke Plaza mall Senayan, ibu Debby membawa anaknya yang kecil juga. Saat kami keliling si Mikhael menarik tangan saya katanya
"mam....,, itu lho bapak yang sering Khotbah di televisi" dan kami semua matanya tertuju pada bapak yang sedang duduk di lobby mall tempat minum teh yang di tunjuk Mikhael.
"Oh iya ,, ayo kita hampiri" kata bu Debby karena ternyata bu Debby pernah satu pelayanan dengan bapak John Hartmen ini, dan kami mendekati dan bu Debby dengan bahasa Inggrisnya dia ngobrol mereka pernah satu pelayanan di KKR. Saya dengan bahasa Inggris tertatih saya memohon topangan doa untuk perjalanan saya dan anak-anak ke Ambon. Dalam bahasa Inggris bapak John Hartmen berkata "ya...ya..." sambil mengangguk "ibu tidak usah kwatir saya melihat ibu kuat dan sepertinya ada sesuatu yang terjadi dan sepertinya ada mutasi atau kepindahan" lanjutnya. Saya juga hanya bisa mengangguk-angguk, karena memang kami lagi berupaya supaya suami saya dipindahkan. Saat itu kami lansung diajak berdoa di tempat itu bersama anak-anak.
Keesokkan harinya saya dapat telepon dari suami saya, katanya dia lagi transit di Makasar mau ke Jakarta, saya hanya bisa iya dan iya. setibanya di Jakarta suamiku telepon lagi katanya "mam sudah di Jakarta nanti selesai acara hari Rabu saya ke Palangka raya"
"papi tidak usah ke Palangka raya karena kami tidak ada di Palangka Raya"
"terus mami dimana sekarang?
"Yang pasti masih di Indonesia" saya jawab karena ada kekecewaan di hati.
"Iya tapi mami dimana...!" katanya tegas
"di Jakarta" saya jawab singkat
"saya dan anak-anak ada di Hotel Century" kataku
"Ya sudah nanti papi kesana setelah melapor di tempat seminar"
Sebelum suamiku mau ketemu dengan saya dan anak-anak saya telepon bu Debby untuk temani saya. Sebelum suamiku datang bu Debby sudah datang duluan dan anak-anak di beri tahu kalau nanti papinya datang biar dulu papi ketemu mami, karena anak-anak tahu ada masalah jadi mereka mengerti sehingga dengan ibu Debby mereka menunggu di lobby Hotel, sekitar pukul 19.00 suamiku tiba dan saat papinya lewat di lobby tentu melihat anak-anak dan ibu debby, karena sebelumnya suamiku sudah kenal ibu Debby jadi waktu melihat anak-anak dan ibu Debby di hotel suamiku langsung menuju ke lobby salaman dan anak-anak katakan, "mami ada di kamar kami mau main-main disini dulu pi"
Pada waktu suamiku masuk kekamar saya sudah menunggu di tempat duduk/ sofa yang ada dikamar. Suamiku sepertinya tidak berani mendekati saya dia ambil jarak duduk di sofa yang sebelah dan berkata
"kenapa kalian kesini, kan saya sudah katakan saya akan pulang ke Palangka raya"
"Kenapa kami disini tidaklah penting, yang terpenting kau mau bawa kemana rumah tangga kita ini?!" jawabku tegas
"Mami jangan percaya perempuan itu, itu orang gila" kata suamiku
"Iya mungkin yang tergila-gila padamu"
Sebagaimana orang yang dibohongi atau dikhianati tentu sangat sulit sekali mengontrol emosi
sehingga kata-kata yang keluar agak hambar kedengaran.
"terserah mami mau percaya tidak" suamiku coba berkelik
"Kalau saya mau saya sudah kawin dari dulu, tapi saya nda kawin" kata suamiku tegas
"Soal mau pikir kawin itu gampang,, tapi apa kita sudah siap menghancurkan anak-anak!!"jawabku balik dengan tegas.
Suasana jadi hening saya nda tahu apa yang suamiku pikrikan, akhirnya saya lanjutkan berkata
"Tujuan kita kawin apa sih...?!, dari dulu kita tidak pernah bicara serius soal ini,, mungkin ini saatnya kita mau bawa kemana hidup keluarga kita ini, mau hancur gampang tapi mau baik tentu tidaklah mudah, semua kembali kepada mu sebagai Nahkoda keluarga ini dan saya menurut apa kata kamu"
Karena dia tidak dapat memberikan jawaban dengan pasti, dia mengalihkan persoalan dengan bertanya " sampai kapan kalian disini..?
"sampai anak-anak selesai libur" jawabku
sambil berdiri dia berkata "yah sudah pulang aja besok nanti saya menyusul ke Palangka raya"
"papi tidak usah ke Palangka raya, karena papi tidak akan dapatkan kami disana"
"Jadi kalian mau kemana? tanyanya dengan curiga
"Yah paling seputar Jakarta" jawabku
"ya sudah kalau gitu nanti saya suruh perusahaan obat siapin mobil buat kalian" kata suamiku
sambil berjalan kepintu dengan alasan mau lihat anak-anak di lobby. saya pun menyusul di Lobby. Jadi diperkirakan suamiku hanya sekitar 20 menit menemui kami langsung dia pulang ke tempat seminarnya dengan alasan mau ada pertemuan.
Sesuai rencana awal, tujuan saya dan anak-anak adalah Ambon. Keesokkan pagi-pagi sekali pukul 04.30 kami sudah berangkat ke bandara karena pesawat ke Ambon pagi sekali. Sampai di Ambon saya dan anak-anak di Jemput oleh adik kandung namanya Jelly dari teman orang Ambon yang satu jemaat dengan saya di Palangka raya. Kami langsung di bawa ke salah satu Hotel di Kota Ambon, malamnya saya hubungi seorang perempuan yang mengaku namanya Rini dan mengaku ke saya sambil memohon ampun dari saya bahwa dia ada berhubungan dengan suamiku, karena waktu itu kata suamiku kepadanya bahwa dia sudah cerai dengan istrinya, jadi saya percaya, tapi diam-diam saya suruh cari informasi jelas tentang suami ibu dan ternyata saya di bohongi, setelah itu saya mulai menjauhinya. Tetapi kemaren perempuan yang mendekati suami ibu sekarang datang ke saya dan ngamuk-ngamuk, saya malu bu' , saya mohon ibu jangan ketemu perempuan itu, orangnya tidak baik, mulutnya kotor dia jahat sekali bu nanti dia permalukan ibu' , kata Rini memohon kepada saya jangan ketemu. Saya coba meyakinkan bhwa saya ingin tahu saja kebenarannya keadaan suamiku di Ambon. Besoknya saya carter mobil untuk melihat-lihat tempat kerja dan tempat tinggal suamiku yang disampaikan Rini semalam. Pagi-pagi sekali jam 07.00 saya dan anak-anak sudah siap mandi dan sarapan, kemudian kami dijemput oleh Jelly (yang jemput kami di bandara) dengan mobil yang saya suruh carter. Langkah pertama saya katakan
"Sebelum saya dan anak-anak mau keliling di kota Ambon ini, saya mohon topangan doa dari pendeta di kota Ambon" dan kami di bawah di Gereja Bethani disana kami ketemu Pendeta dan saya mohon ke pendeta untuk kedatangan kami di Ambon ini di topang dalam doa. tentu sebelumnya Pendeta mencari tahu siapa saya dan siapa suami saya, dan kebetulan pendeta kenal suami saya, "kog pendeta kenal....?, iya bu Ambon ini kecil"jawabnya. dan ternyata pendeta ini banyak tahu tentang suami saya, jadi dia bisa mengerti keadaan saya. Setelah selesai berdoa kami melanjutkan perjalanan melihat tempat tinggal suami saya.
Tempat tinggal suami saya ternyata bukan seperti yang sering dia katakan ke saya bahwa dia tinggal di mess perwira di dekat Polda, suamiku tinggal di salah satu rumah sakit swasta dan dia menempati salah satu kamar di lantai dua bagian pojok gedung itu. Saat kami tepat berada di rumah sakit itu kami bertanya kesalah satu perawat di depan dan dia katakan dokternya tidak ada lagi berangkat. tapi saya coba cari informasi tempat tinggalnya dimana, dan perawat itu mengatakan tinggal di lantai dua rumah sakit ini. Sehingga saya minta izin untuk melihat rumah sakit tersebut , sampailah saya dan anak-anak di salah satu pojok ada sebuah kamar dan kebetulan pada saat kami didepan kamar itu keluar seorang ibu di kamar rawat nginap hampir disebelah kamar itu dan dia bertanya mau cari siapa. saya balik bertanya apa ini kamar dokter Melky dan ibu itu mengiyakan dan mengatakan bahwa dokternya lagi berangkat tidak ada di tempat, kemudian saya langsung pamitan pulang.
Saat kami sudah di dalam mobil, suami saya menelpon dan bertanya
"mami dimana ini...?" kedengaran suaranya agak keras
saya jawab, "lagi di Indonesia"
"yang benar mami dimana ini...."nada suara suamiku agak tegas
saya coba menenangkan dia saya katakan "ada dipulau jawa, tidak usah cari kami"
karena penasaran suamiku katakan "yah sudah nanti malam saya ke hotel"
saya katakan "tidak usah, kami tidak ada di hotel"
"pokoknya tunggu saja saya kesana nanti katanya"
akhirnya saya coba berbohong agar dia tenang, karena suamiku tahu kakakku lagi di Bogor pendidikan Doktor jadi saya katakan "kami di Bogor di tempat kakak"
Sepertinya suamiku percaya sehingga kata terakhirnya sebelum menutup telepon "hati-hati disana".
,
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment