"Kasih Tuhan memberi kita kekuatan lewat siapa yang Tuhan kirim buat melawat dan menopang kita dalam kesedihan dan dalam sukacita,
Kusadari tak ada yang kebetulan terjadi dalam hidup ini,, tapi segala sesuatu diperkenankan terjadi untuk kita memaknai hidup ini Indah di Tangan Tuhan"
Oktober 2007, ada seminar Ikabi di Solo sebagai dokter bedah suamiku tidak pernah absent dalam acara tersebut. Seperti biasanya suamiku tidak pernah mengajak saya untuk ikut walaupun sebenarnya acara tersebut di hadiri juga oleh pasangan masing-masing peserta. Sore itu suamiku mengabari sudah tiba di Solo, hingga malam hampir pukul 22.00 malam tidak ada kabar lagi. Saya coba menghubungi Hp suamiku, tapi betapa aku tersentak lagi saat mendengar suara di balik telepon suamiku, berkata:
"kasihan deh kamu di bohongi terus" dan saya memastikan itu suara Maya, sehingga saya langsung matikan. Tiba-tiba sms masuk berasal dari suamiku, kata-katanya begitu jorok Maya coba membuat saya emosi dengan smsnya yang memojokkan saya, menghina saya dengan mengatakan ibu guru yang selalu dibohongi, anak dari seorang guru.
Saya sempat terpancing karena dia sudah menghina jabatan orang tuaku, sehingga balasan sms-nya saya katakan :
"Dari pada kamu, hei anak seorang bapak pemabuk yang tidak punya pekerjaan dan ibu yang kawin lagi sehingga cuma hidup bergantung pada orang lain, mending saya walaupun kedua orangtua kami guru tapi anak-anaknya semua sarjana, tidak minta-minta dan Tidak hidup bergantung pada orang lain"
Karena Maya ingin mengelak sehingga katanya yang sms itu suamiku, bukan dia. Sehingga saya katakan kau saja tidak kenal siapa suamiku itu ...? dan bagaimana sebenarnya dia....?!, karena kau cuma mau duitnya. Sehingga mungkin tidak tahu lagi dia mau jawab, skhirnya Maya mengirim sms berisi makian dan segala hal-hal yang jorok tentang apa saja yang dia lakukan kepada suamiku. Saya langsung matikan Hp, agar tidak menanggapi hal-hal yang dia sms-kan.
Keesokkan harinya saat sarapan, saya katakan tentang cerita semalam sama kakak ipar saya, yakni kakak suamiku yang sudah dua bulan tinggal bersama kami karena sakit. dan kakak katakan, "mami Michael lapor saja sama atasan, walau itu adik saya tapi kasihan kalian sudah dari dulu di buat begitu".
Saya katakan, " kak kalau saya lapor kasihan anak-anak, kalau bapaknya di penjara"
"Terserah mami Michael saja, tapi adikku itu sudah keterlaluan sama kalian,, saran kakak lebih baik dilapor biar dia kapok" kata kakak ipar.
"Iya kak nanti dipikirkan lagi, tunggu papi Michael pulang"
Saat suamiku pulang dari Solo saya tak banyak lagi bertanya dia sendiri yang membela dirinya tanpa ditanya semua sudah jelas, saya cuma katakan saya bukan orang bodoh yang bisa di bodohi. apapun alasannya yang terjadi itulah kenyataannya.
Bulan berikutnya saya terpilih duduk dalam kepengurusan majelis gereja di tempat saya bergereja, sebelum dilantik saya minta restu pada suamiku sebagai kepala rumah tangga karena begitu waktunya banyak untuk pekerjaa sehingga saya mengajak suamiku makan malam di luar setelah suamiku selesai praktek.
No comments:
Post a Comment