
Hari ketiga saya dan anak-anak di Ambon, pagi itu suamiku ingin memastikan keberadaan saya sehingga dia menelpon saya.
"lagi dimana ini..." nada suaranya agak tegas
"yah di Bogor" saya katakan
"yang benar...jangan bikin masalah saya tahu kalian dimana" katanya tegas
"siapa yang cari masalah" jawab saya
"Pokokya jangan cari masalah Ya..saya pulang besok!!" suaranya keras dan mulai kata-kata makian keluar dari mulutnya saya langsung matikan teleponnya.
Karena saya merasa suami saya sudah tahu keberadaan kami di Ambon, berkali-kali dia telepon saya tidak mau terima. Hari itu saya dan anak-anak ke gereja lagi memohon topangan doa karena saya pikir bahwa besok persoalan yang saya hadapi pasti butuh kesiapan saya dan anak-anak menerima kenyataan yang nanti terjadi, karena suami saya lewat teleponnya nadanya sudah sangat-sangat marah dengan makian-makian yang keluar dari mulutnya. Sampai di gereja saya sharing dengan pendeta, beliau memberi petunjuk bahwa semua harus ibu hadapi apapun yang harus terjadi, kami akan bantu dalam doa buat ibu dan anak-anak. Jadi jika besok bapak datang ibu dan anak-anak harus jemput.
Keesokkan pagi-pagi sekali saya dan anak-anak sudah siap karena bapaknya anak-anak akan tiba pukul 07.00WIT, dan perjalanan kebandara dari kota Ambon sekitar 1 jam, sehingga sebelum jam tujuh kami sudah harus ada di bandara. Dalam perjalanan ke bandara saya merasakan kekwatiran yang sangat, sehingga saya hanya bisa diam dan diam tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi dari pendeta
"Ibu, jangan takut, jangan kawatir saya di gerakkan untuk harus menghubungi ibu dan kami sudah mendoakan ibu dan anak-anak"
"Iya pak pendeta terimakasih, topang saya terus dalam doa ya.. pak pendeta" jawab saya
"Iya bu Tuhan memberkati ibu dan anak-anak"
Sampai di bandara saya coba bertanya pada polisi yang kebetulan baru tiba juga dibandara saat itu pakai mobil dinas, dan setelah dia turun dari mobil saya langsung menghampiri dan bertanya "bapak mau jemput siapa..?" bapak ini tidak menjawab tapi melihat ke Mikhael dan Prayzilia yang pada saat itu berada di belakang saya dan dia berkata,
"Ini Mikhael dan Prayzi ya..." saya jadi heran sendiri kenapa bapak ini kenal anakku
"Ibu dokter ya..." katanya dan saya mengiyakan
"ayo bu,,, bapak sudah sampai kita kedalam saja"
Tak berapa lama suamiku sudah berjalan menuju ketempat kami, saya lihat wajahnya agak tegang senyumpun tidak, tapi saya coba kendalikan perasaan saya, saya ajak anak-anak untuk menyambut papinya dengan rasa sukacita, mereka salaman dengan papinya dan saya menghampirinya untuk salaman, saya cium pipi kiri dan kanannya sambil tangan berjabat saya bisa rasakan dingin dan gemetar tangannya saya langsung mencium pipi suamiku dan saat itu dia sempat berkata
"jangan buat masalah"
Tanganku memegang punggung belakangnya saya bisa rasakan denyut jantungnya yang cepat
dan saya katakan,
"Tenang saya bukan datang cari masalah disini"
Dia langsung mengajak saya dan anak-anak ketemu dengan seorang bapak yang juga pejabat polda sebagai Irwasda, disitu baru saya bisa melihat senyumnya. keudian dia menanyakan kami tinggal dimana dan saya katakan kami tinggal di hotel manise, tapi suamiku marah "kenapa tinggal disitu, itu kan tempat pejabat-pejabat tamu dari luar" karena saya tidak mengerti saya hanya diam saja
"nanti saya carikan tempat buat kalian.."katanya tegas
"kalian naik mobil apa?"
"naik mobil yang saya carter" saya jawab
"yah sudah kalian pakai mobil itu saja, karena saya harus masuk kerja nanti saya hubungi kalau sudah dapat tempat tinggalnya"
Akhirnya kami terpisah dengan mobil yang berbeda, meluncur ke kota Ambon. Di dalam mobil saya memberitahukan kepada Jelly yang temani kami kemana-mana di kota Ambon ini. Saya katakan bahwa suamiku suruh pindah dari hotel itu karena tempat pejabat katanya. Jelly memberitahukan ke saya bahwa hotel yang kami tempati itu letaknya dekat sekali dengan tempat suamiku tinggal "kenapa tidak diajak ketempat bapak saja bu". "tidak tahu Jell.." kataku. Di Ambon ini masih banyak hotel yang lebih bagus untuk para pejabat tempati katanya. Tapi saya katakan kita ikuti saja apa maunya suamiku.
Siang hari saya ditelepon suamiku, katanya "kalian nanti keluar saja dari hotel itu, sudah ada rumah kost yang saya sudah hubungi untuk kalian tinggal" kemudian dia memberitahukan alamatnya dan setelah makan siang kami ke tempat kost tersebut dengan setia ditemani Jelly sebagai penunjuk jalan. Sore harinya suamiku datang melihat kami di tempat kost, waktu di tanyakan anak-anak hanya diam karena mereka tidak berani mengatakan bahwa mereka tidak nyaman dengan kamar kost itu, ada sekitar 15 menit suamiku katakan mau pulang karena mau praktek, kembali saya dan anak-anak hanya bisa mengiyakan. Suamiku pulang dan sampai pagi tidak ada kabar darinya. Sehari ditempat kost itu saya lihat anak-anak tidak mau mandi karena mereka tidak mau situasi kamar kost itu karena kamar mandinya agak kotor, tempatnya agak masuk lorong. Besok pagi saya jalan kaki keluar untuk mencari sarapan anak-anak dan ternyata tepat setelah keluar lorong itu ada sebuah hotel langsung saya datangi dan menanyakan kalau ada kamar dan tepat ada. Saya menghubungi Jelly menanyakan situasi hotel itu bagaimana, dia jawab bagus bu itu tempat para hamba Tuhan kalau melayani di kota Ambon, Jadi saya langsung memesan satu kamar. Saya cepat-cepat pulang ke tempat kost, saya katakan ke anak-anak "ayo bersiap kita pindah ke hotel yang didepan, nanti kita cari sarapan di luar saja, setelah mobil carteran saya datang kami langsung ke hotel di depan. Setelah jam 9 pagi kami masih di hotel, tiba-tiba suamiku menelpon menyuruh saya dan anak-anak kekantornya, saya langsung mengiyakan dan setelah anak-anak sudah mandi kami ke kantor papinya.
Di kantor suamiku kami di sambut baik dan ramah oleh pegawai dan para staf polisi, kami langsung di siapin minum dan makanan di ruang kantor suamiku. Saya juga bisa melihat suamiku senang kami berada dikantornya, anak-anak sibuk dengan mainan gamenya sendiri. Dalam suasana itu saya katakan pada suamiku bahwa kami sudah pindah di hotel dekat tempat kost itu dengan alasan yang anak-anak rasakan dan dia mengiyakan. sehingga tak terasa waktu sudah sore jam tiga dan kata suamiku di akan ke rumah sakit, nanti dia melihat ke hotel katanya, dan kami pun kembali ke hotel.
Di hotel saya di hubungi perempuan yang bernama Maya yang menurut Rini adalah pacar suamiku sekarang di Ambon. Dia pingin ketemu dengan saya, dan saya mengiyakan kami ketemu di tempat praktek suamiku, tanpa setahu suamiku kami berdua ketemu di luar ruang prakteknya dan anak-anak menunggu di mobil. Ternyata dia menceritakan bahwa dialah ibu yang saya tanyai waktu di tempat tinggal suamiku di rumah sakit itu, jadi dia yang memberitahukan suamiku di Jakarta bahwa saya dan anak-anak ada di Ambon. Saya berpikir bahwa umurnya jauh 10 tahun lebih tua dari saya, ternyata sebaliknya saya yang lebih tua 6 tahun dari usianya dan dia sudah mempunyai seorang anak. Maya ini menceritakan bahwa saya sudah diceraikan oleh suami saya katanya menurut suamiku, jadi saya sudah ditinggalkan oleh suamiku. saya berusaha diam sebagai pendengar agar saya tahu bagaimana ceritanya. dia juga mengaku bahwa dialah yang menelpon saya pakai Hp suamiku waktu saya di Palangka raya, dan katanya bahwa waktu itu suamiku katakan kepadanya bahwa saya sudah gila makanya suamiku tinggalkan. Dan dia juga menceritakan perihal hubungan suamiku dengan Rini, dia menjelek-jelekkan Rini, sampai dia menceritakan bagaimana dia mempermalukan Rini di depan orang banyak. ( Rini yang disebut Maya ini, saya dapat nformasi setelah beberapa hari saya di Ambon ternyata adalah seorang pendeta muda seorang gadis).
Kesan yang saya dapatkan dari pertemuan saya dengan Maya ini, memang orangnya agak ceplas-ceplos ngomongnya dan dia berusaha menarik perhatian saya bahwa dialah yang berjasa menolong suamiku dari incaran perempuan-perempuan di Ambon, akhir pertemuan katanya nanti dia ajak suamiku ke hotel saya tinggal. Dalam hati saya ini kog kebalik ya, tapi saya coba mengikuti permainan teka - teki ini.
Sekitar jam 10 malam di bawah ancaman Maya, suami saya menuruti apa yang di perintahkan Maya ini, mereka datang menemui saya dan anak-anak di Hotel. Setelah mereka tiba saya dengan senyum untuk menetramkan hati saya, saya menyambut mereka tapi anak-anak karena ketakutan mereka sembunyi di bawah selimut tapi ternyata dengan diam-diam mereka merekam pembicaraan kami dengan Handycam yang mereka pegang di dalam selimut. mulailah Maya memojokkan suamiku "ibu tahu ngga suami ibu menyuruh saya untuk memaki-maki ibu dan menjelek-jelekkan ibu" saat itu saya mulai lihat aslinya si Maya ini, agak arogan dan keras sehingga suami saya di buatnya tunduk, saat itu suamiku hanya bisa diam dan menunduk.
"Saya sudah bilang bu kepadanya, sudah tua bangka sudah bau tanah, jangan suka main-main perempuan" jawab Maya dengan nada keras, karena suamiku tidak tahan dia mau lari keluar, saya tahan sehingga kami saling tarik-menarik di kamar hotel itu
"malu didengar orang dikamar sebelah" kata suamiku
"makanya jangan bikin ulah" saya katakan kepada suamiku,
Setelah suasana agak tenang saya berkata "Nah sekarang,, Maya kau sendiri sudah tahu dia sudah punya istri dan anak-anak"
Tiba-tiba si Maya marah "Tidak bu .., saya tidak terima ibu katakan saya merebutnya dari ibu"
"bukan, bukan begitu maksud saya" coba menenangkan
"Tidak bu ..., saya tidak terima"
melihat Maya marah-marah suamiku menariknya keluar, tapi Maya tetap ngamuk
"saya tidak terima, saya akan bikin masalah saya akan lapor keluarga saya dan saya akan lapor di Polda" katanya
Akhirnya suami saya memohon kepada saya untuk minta maaf pada Maya,
"okey" saya katakan " okey Maya,,, walaupun saya tahu saya lebih tua dari kamu,dalam hal ini saya minta maaf jika kata-kata saya tadi tidak bisa kamu terima, saya tarik kembali"
"iya bu .., yah saya tidak terima dikatakan seperti itu" jawabnya
"Yah sudah anggap saja tadi kesalahpahaman saja, sekarang saya mau tidur dan saya tidak mengusir anda tapi sekarang sudah jam 12 malam karena saya harus siap-siap besok mau berangkat pagi-pagi sekali pulang ke Palangka raya"
"tapi bu .., boleh nggak saya minta pengertian ibu, agar saya menjaga suami ibu disini" kata Maya coba membujuk saya.
"Soal ini saya tidak kompromi, sebab suami saya sudah tua dia tahu mana yang harus dia lakukan" kataku tegas
"iya bu, saya minta tolong bu..., suami ibu mengantar saya pulang karena ini sudah larut malam, nanti saya suruh suami ibu temani ibu dan anak-anak disini"
Saya cuma bisa diam, tidak ngomong apa-apa, akhirnya suamiku mengantar Maya pulang.
Hingga pagi tiba tidak ada kabar dari suamiku, akhirnya kami ke bandara dengan mobil yang saya carter selama di Ambon, yaah saya harus berkorban uang tabungan saya harus terkuras untuk biaya perjalanan dari palangka raya-Jakrta-Ambon, untuk hotel, mobil dan makan kita selama di Ambon, saya berterimakasih suamiku belikan tiket untuk kami pulang ke Palangka raya. Dalam perjalanan ke bandara karena sekitar satu jam untuk tiba di bandara, dalam perjalan sms masuk dari Hp suamiku,
"Ibu, pagi ini saya bangunkan dokter dia tidak mau katanya mengantar ibu dan anak-anak"
"Terimakasih" jawabku
"Sekarang dokter sudah mau mandi, saya suruh ngomong dengan ibu dia tidak mau" sms berikutnya. Membaca itu saya sudak tidak menjawabnya sebab saya pikir apapun itu entah kata-kata Maya sendiri atau perkataan suamiku yang jelas sampai kami berangkat tidak ada kabar dari suamiku, hingga akhirnya kami kembali ke Palangka raya.
No comments:
Post a Comment