"SAAT HARUS BERTAHAN"
Mengasihi adalah suatu komitmen total terhadap sesuatu yang kita kasihi.
meskipun kita bisa memilih, apa yang ditawarkan oleh keinginan dunia ini,,
panggilan kasih yang tertinggi adalah Kasih Tuhan.
Saat kita membereskan hubungan kita dengan Tuhan,,
dengan sepenuhnya menyerahkan hidup kita dalam tangan KasihNYA,,
kita mengambil keputusan yang tepat,,
Karena jika Tuhan yang sudah membuka pintu untuk hati kita ,,
Tidak ada satupun yang dapat menutupnya.
Jika Tuhan sudah merancangkan yang Terbaik bagi kita,,
Tidak ada satupun yang dapat menggagalkannya.
Akhir Desember 2000, saya mengambil keputusan untuk membawa anak-anak menyusul suamiku di kota Palangka raya. Sebelum saya berangkat saya sampaikan kepada suamiku akan rencana untuk menyusulnya di Palangka Raya, "Pi .., nanti selesai anak-anak ulangan semester kami sudah akan boyongan ke Palangka Raya" ku hubungi suamiku lewat telepon "Jangan dulu,, mam, soalnya disini papi tinggal di asrama dan belum punya apa-apa" jawab suamiku. "Ngga apa-apa pi...., entar kalau sudah disana baru kita lengkapi pelan-pelan" ku coba menjawab dengan apa adanya "Jangan dulu...!" nada suara suamiku mulai meninggi, artinya dia belum setuju,, "Pi ..., soalnya mami juga sudah harus segera melapor di sekolah karena mereka sudah tahu papi sudah selesai pendidikan" kucoba meredahkan dengan nada pelan dan hati-hati, "Iya,, tapi nanti aja,,, disini kita belum punya apa-apa...!" suaranya semakin keras, pertanda bahwa dia belum mau kalau kita ke Palangka raya. Akhirnya saya coba menenangkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan ke soal yang lain. Karena mengingat status saya sebagai guru titipan di manado dan gaji saya di kirim dari Palangka raya, dengan selesainya suamiku pendidikan berarti status titipan saya di Manado sudah harus kembali ke Palangka raya.
Sambil menunggu bulan desember saya mulai menawarkan rumah kami untuk dikontrakkan, dan mobil angkot kami juga harus dijual. Akhirnya ada orang China dari jakarta yang akan kontrak rumah kami, dan mobil di beli sama teman saya, sehingga memasuki bulan desember semua urusan rumah dan kepindahan anak-anakku hampi rampung tinggal tunggu raport anak-anak. Tanggal 12 Desember 2000, ambil keputusan berangkat ke Palangka raya lewat surabaya. di Surabaya saya dan anak-anak harus nginap semalam karena pesawat ke Palangka raya tidak connect, sehingga kami nginap dirumah pamanku di Surabaya.
Keberangkatan kami ke Palangka raya, sebenarnya belum disetujui oleh suamiku. Tapi saya harus ambil keputusan untuk kebersamaan kami apapun nanti yang akan terjadi, sebab saya juga sudah harus kembali bekerja di Palangka raya. Besoknya kami berangkat ke Palangka raya dan di jemput oleh suamiku dan temannya 'dokter Retnawan, menggunakan mobil dokter Retnawan. sampai di Asrama polisi, suamiku katakan "Nah ini tempat tinggalnya..., kan papi sudah bilang nda punya apa-apa", saya langsung jawab "ini saja sudah bagus untuk tempat kita tinggal pi,, yang penting ada tempat untuk kita berlindung" suamiku tidak berkomentar lagi, sementara Mikhael dan Prisy langsung kejar-kejaran di halaman asrama dan berkenalan dengan anak-anak dokter yang disebelah rumah kami di asrama tersebut. Beberapa saat kemudian suamiku pamitan untuk pergi dengan dokter Retnawan.
Saat saya sendirian di rumah saya merenung apa yang membuat suamiku keberatan untuk kami ke Palangka raya? di asrama ini tempat tidur sudah ada..., perabotan ruang tamu ada..., ruang makan ada...? saya tak dapat jawabannya,, sebab alasan suamiku tak menyetujui kedatangan saya dan anak-anak adalah tempat tinggal yang belum ada apa-apa. Tapi saya bersyukur itu berarti karena suamiku memperhatikan hal yang sekecil itu untuk saya dan anak-anak.
Desember 2000 tak terasa berlalu begitu cepat, dipertengahan Januari 2001, suami saya dapat TR untuk tim kesehatan gabungan ke kota Ambon yang pada waktu itu sedang bergolak kerusuhan. Karena panggilan tugas kami terpisah lagi, akhir Januari 2001 suamiku berangkat ke Ambon. Saya dan anak-anak tetap tinggal di Palangka raya, menunggu selesai tugas suamiku di Ambon. Namun peristiwa kerusuhan melanda kota Palangkaraya awal Pebruari 2001 hingga saya mengambil keputusan untuk kembali ke Manado, tapi pada waktu itu untuk wilayah Manado karena berlakunya otonomi daerah maka pengurusan kepindahan tidak bisa diterima. Tinggallah saya dan anak-anak untuk terus bertahan di kota Palangka raya.
Dalam keadaan seperti ini saya hanya bisa berserah bahwa segala sesuatu yang kita alami ada dalam penyertaan dan rancangan Tuhan.
No comments:
Post a Comment