Tuesday, April 5, 2011

Part-7


"PILIHAN DALAM HIDUP"
Kadang hidup perlu pilihan ......,
Kadang hidup perlu resiko .....,
Kadang hidup perlu duka & suka......,

Setiap proses kehidupan yang kita alami,, terkadang kita tak mengerti mengapa itu terjadi dalam hidup kita. Dan saat kita tak paham maksud Tuhan dalam hidup kita ,, Dia mengerti lebih dari apa yang kita pikirkan.
Hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, adalah dimana saya harus membesarkan anak-anakku seorang diri jauh dari suami dan sanak saudara serta orangtua. Saat itu anakku Mikhael kelas 4SD dan adiknya Prisy kelas 1SD, seperti biasanya mereka bertumbuh sebagai anak-anak yang aktif dan kreatif. Melihat bakat dan kegemaran anak-anak ini saya menuntun mereka les/kursus, Mikhael piano klasik dan Prayzilia vokal, mereka berdua begitu tekun dan menyenangi hal ini sehingga saya membelikan piano / keybord untuk Mikhael lebih banyak berlatih dirumah. Beberapa bulan kemudian mereka berdua saya tawari untuk mengisi pujian di gereja sekaligus saya ingin mereka bertumbuh percaya diri untuk tampil di depan banyak orang. Pertama kali mereka berdua mengisi pujian di gereja GPIB "Ebenhaezer Palangkaraya, Prayzilia menyanyikan lagu berjudul "Kasih dari Sorga" dengan baitnya sebagai berikut:

Kasih dari sorga memenuhi tempat ini,
Kasih dari Bapa Sorgawi,
Kasih dari Yesus mengalir di hatiku
membuat damai di hidupku,
Mengalir Kasih dari tempat tinggi....,
mengalir Kasih dari tahta ALLAH Bapa....,
mengalir....., mengalir.....,mengalir dan mengalir
mengalir memenuhi hidupku.......

Ada sukacita yang menyelimutiku saat melihat anak-anak tampil dengan begitu indahnya mengalir lewat musik dan lagu yang mereka berdua bawakan. Jemaat begitu terkesan dengan pujian yang mereka nyanyikan, sehingga selalu mereka berdua diminta untuk membawa pujian di gereja. Keberadaan kedua anakku disampingku membuatku semangat, tidak merasa seorang diri sehingga kemana saja saya pergi mereka berdua ikut dengan saya.

Hampir memasuki delapan bulan suamiku bertugas di Ambon, dia memberi kabar bahwa dia dapat TR dipindahkan sebagai dokter di Polda Ambon. Mendapat kabar tersebut tentu saya sebagai istri merasa cemas karena kondisi Ambon masih belum aman dan suamiku katakan "mami dengan anak-anak tinggal dulu di Palangka raya, karena keadaan Ambon masih bergolak, ada penembakan dimana-mana" saya jawab "pi gimana kalau saya dan anak-anak balik lagi ke Manado" "terserah mami aja"sahut suamiku. Akhirnya kucoba menghubungi keluarga di Manado untuk saya dan anak-anak pindah keManado. saya mengurus semua persyaratan kepindahan dan saya kirim ke Manado, tapi beberapa minggu kemudian kabar dari Manado masih sulit untuk dapat rekomendasi pindah di Manado. maka bertahanlah saya dan anak-anak di Palangka raya. Suamiku sempat pulang sebentar ke Palangka raya dan balik lagi untuk bertugas di Ambon sejak akhir Januari 2001.


Waktu berputar terus, tugas saya sebagai ibu tentu merawat dan membesarkan anak-anak seorang diri. Saya bersyukur suami saya sebelum berangkat ke Ambon membelikan mobil buat saya dan anak-anak, karena dia tahu saya tidak terlalu berani bawa sepeda motor. Jadilah saya sopir anak-anakku setiap hari untuk antar jemput mereka berdua sekolah dan kursus. Sementara saat itu kami tetap tinggal di asrama polisi, sehingga saya punya tetangga yang saya anggap juga keluarga saya sendiri walaupun mereka berbeda asal dan kepercayaan dengan saya.
demikian proses kehidupan yang kadang tidak pernah terpikirkan tapi saya bersyukur dari hal-hal yang kecil Tuhan membentuk saya bertumbuh lewat pilhan hidup, lewat resiko untuk sesuatu yang kadang di perhadapkan pada kita baik susah maupun senang.

No comments:

Post a Comment