Friday, April 8, 2011

Part-9


Saat kita belajar mengasihi Tuhan,
IA akan menjadikan kita bejana yang terbuka dan bersih.
Agar KasihNYA dapat mengalir dalam kita tuk' mengasihi orang lain.

Mengalami penolakan dari orang-orang yang kita cintai memang akan terasa sangat sakit, apalagi penolakan itu tidak ada alsan yang jelas. Hal ini saya alami dalam kehidupanku, Awal maret 2003, saat itu suami saya selesai pendidikannya di SELAPA, sehubungan dengan itu sebelum acara pelantikan alumni ada serangkaian acara di buat di kompleks pendidikan SELAPA yang dihadiri oleh keluarga masing-masing alumi. Tak sengaja saya ketemu dengan istrinya dokter Subur yang juga ikut pendidikan tersebut utusan dari Palangka raya, istrinya biasa dipanggil dokter Susi, Dan dia bertanya kepada saya "bu, kapan berangkat ke Jakarta?", saya jawab "belum ada rencana ke Jakarta", lanjut katanya "Looh...,emangnya ibu ngga dapat surat undangan kegiatan, kan kita istri diwajibkan hadir pd acara mulai senin nanti" karena saya ngga dapat suratnya, saya hanya bisa menjawabnya "ooh ya...dokter sendiri kapan berngkatnya?" saya balik bertanya "Hari minggu bu, yoo kita sama-sama aja bu" jawab dokter Susi. "Ooh iya" jawab saya.

Hari itu saya telepon suamiku menanyakan acara tersebut, "Acara pelantikannya nanti hari Rabu, kalau mami mau datang nanti aja hari selasa" jawabnya. "pi kata dokter Susi ada acara pertemuan ibu-ibu mulai hari senin ya?" , "iya cuma mami tidak usah ikut, nanti pelantikan aja" kata suamiku. mendengar hal itu seperti biasanya saya di tuntut harus nurut. Karena tidak jelas saya telepon dokter Susi dan tanyakan acara tersebut dan dia menjelaskan semua bahwa harus ikut dan harus siapkan seragam bhayangkari dan pakaian senam. Hari Sabtu tiba saya mempersiapkan apa yang harus saya bawa keJakarta bersama anak-anak. Setelah itu saya hubungi suamiku, bermaksud memberitahukan keberangkatan saya dan anak-anak hari minggu, tapi lagi-lagi suamiku marah besar dia tidak membolehkan saya dan anak-anak berangkat hari minggu, dia mau nanti hari selasa. Hal itu saya sampaikan ke anak-anak bahwa papinya tidak izinkan kita berngkat hari minggu, anak-anak begitu kecewa mereka nangis " pokoknya saya mau berangkat ke Jakarta mam,," melihat anak-anak sangat kecewa, saya ambil keputusan walaupun rasa hati ini berat karena tentu dalam hal ini saya harus tanggung resiko tuk bawa anak-anak untuk tetap berangkat hari minggu. Saya bisa melihat betapa senangnya anak-anak mau ke Jakarta, jadi sebelum ke bandara saya jemput dokter Susi dan saya minta tolong diantar sama perawat untuk mengantar kami ke bandara dengan mobilku.

Setiba di Jakarta kami di jemput oleh dokter Subur, dan dalam perjalanan ke selapa tempat pendidikan mereka, dokter Subur menelpon suamiku bertanya mau diantar kemana saya dan anak-anak, yang ada suamiku marah-marah
"Terserah aja mau diantar kemana, saya sudah bilang jangan dulu datang",,,
mendengar itu saya katakan ke dokter Subur dan istrinya tolong saya dan anak-anak diantar ke Hotel yang dekat selapa itu. Akhirnya kami cari hotel, tapi karena melihat suasana hotel tidak nyaman saya katakan
"terserah aja dokter mau cari kemana lagi"
tapi dokter Subur langsung katakan "ke asrama di selapa aja, kan disana banyak yang kosong karena pesertanya tinggal di luar dengan keluarga.

Setibanya di Asrama banyak teman-teman mereka disitu lagi santai dan kami masuk kedalamnya dari arah dalam keluarlah suamiku, saat itu dokter Subur memperkenalkan keteman-temannya bahwa Mikhael itu anaknya,

spontan suamiku katakan " bukan, ini anakku, bukan anaknya dokter Subur",
jawab dokter Subur "Habis, tadi marah-marah ga mau didatangi istri sama anak-anak..., nah ini saya serahkan mereka ya?"
Beberapa saat kenmudian dokter Subur dan istrinya dokter Susi pamitan mau pulang ketempat keluarganya di Jakarta. Karena mereka pulang lewat depan maka suamiku minta tolong ngantari saya dan anak-anak ditempat kost depan SELAPA, saya dan anak-anak tanpa diantar suami kami masuk ketempat kost tersebut yang ternyata sudah ditelepon suamiku bahwa kami akan pakai satu kamar.
Tempat kost itu ternyata sudah penuh di tempati oleh teman-teman suamiku dari Sumatra bersama keluarganya,, dan saya dapat kamar paling atas ukurannya 2,5 x 2,5 ga ada tempat tidur yang ada hanya kasur di lantai, karena kamar itu posisinya bisa dikatakan adalah plafon rumah yang dimanfaati jadi kamar kecil, sehingga suhu dalam kamar sangatlah panas, tapi saya bersyukur ada tempat kami nginap.
Sekitar pukul 10 malam suamiku datang,, mlihat saya dan anak-anak tidur-tiduran, anak-anak ktakutan mereka diam aja ktakutan dikira mau dimarahin papinya.
Tanya suamiku "Gimana, rasanya disini",
" yah beginilah ,,, kataku,'
sambil dia banguni Mikhael & Prisi yang pura-pura tidur.
Setelah cerita dengan anak-anak, skitar 5-10 menit kemudian suamiku pamit mau lihat pasien di rumah sakit Selapa katanya,, saya dan anak-anak cuma bisa mengangguk "iya pi" jawabku. Sampai keesokan paginya, suamiku tidak muncul.
Pagi ini saya kebawah cari sarapan untuk anak-anakku dan waktu dibawah ketemu ibu kost dan kebetulan ada salah satu ibu yang lagi cerita dengan ibu kost, langsung saya perkenalkan diri dan dia perkenalkan bahwa suaminya juga ikut pendidikan Selapa, dari ibu inilah saya dibritahu bahwa pagi ini jam 8 , istri-istri ada pertemuan pake pakaian PSH.

Pagi ini saat pertemuan, baru saya tahu ternyata ada serangkaian kegiatan yang diikuti oleh siswa lulusan SeLapa beserta keluarganya. Saya baca surat tugas dari seorang teman yang pada waktu itu membawa suratnya yakni surat untuk para istri peserta pendidikan selapa. Setelah selesai acara saya dan anak-anak ke asrama yang ada di dalam kompleks selapa tersebut,, menemui suamiku.
Dalam suasana seperti ini saya mengalir saja mengikuti berjalannya waktu, yah sudah menjadi resiko melihat suamiku sepertinya sibuk sekali dengan pekerjaanya sebagai dokter polisi. disinilah saya selalu diuji atau entahlah karena saya tak ingin hal ini menjadi beban buatku walau pada kenyataannya memang saya tidak tenang dengan keadaan ini., saya berusaha menepis dan berpikir positif.
Syukurlah sepulang di tempat kost saya di sambut sama ibu kost katanya
"bu ada kamar dilantai dua kebetulan orangnya sudah keluar hari ini",
"iya bu nanti kami pindah kamar ya..?"
Saat hari itu saya dan anak-anak pindah kamar, saya bersyukur kamarnya agak luas dikit sehingga tidak terlalu panas. Malam itu suamiku tidak muncul di tempat kost dengan alasan banyak pasien di rumah sakit dan di tempat prakteknya di Pamulang.

Keesookan harinya kami ada acara jalan sehat keluarga dan senam pagi mulai jam 6 pagi. Selama kegiatan-kegiatan berlangsung tidak ada satupun yang diberitahu oleh suamiku, saya hanya mengikuti sesuai apa yang saya dengar dari ibu-ibu yang lain, karena mereka punya surat yang diberikan suaminya. Hingga pagi ini,, saat saya dan anak-anak muncul di tempat kumpul untuk jalan sehat dan kebetulan suamiku datang dari arah yang berlawanan jadi kelihatan sekali sama teman-temannya bahwa kami datang sendiri-sendiri,, sehingga ada salah satu teman suamiku orang Medan,, saya tidak tahu apakah memang nada suaranya memang sudah keras atau yaah karena memang dia marah, dia katakan
"Bagaimana kamu ini Melky'.. istri dan anak2mu muncul dari arah sana kamunya muncul dari sini, emang kalian ga tinggal sama-sama ya..!" suamiku hanya senyum-senyum,,

"Smalam juga pertemuan 'kau ga bawa istrimu,, gimana kau niih" saya karena tidak tahu persoalan jadi senyum dan diam aja.
Salah satu ibu saat itu bertanya kepada saya "Bu,, kenapa acara pertemuan semalam ga datang..?"
saya jawab "saya ga tahu bu" ..,
"apa bapak ngga kasih tahu bu"
saya jawab " Lupa kali .. suamiku ".

Pagi itu sudah diawali dengan pertanyaan yang bertumpuk dipikiranku.
"apakah suamiku malu, memperkenalkan saya dan anak2 kepada teman2nya ...? atau apakah saya dan anak tak dianggap oleh suamiku...? atau apakah saya dan anak2 tak layak di pandangan suamiku...?"
demikian sederetan pertanyaan muncul dalam pikiranku..., sehingga saat kami jalan sehat saya mulai pertanyakan satu-satu
"ada apa ini,,kenapa papi sepertinya tidak suka denga kehadiran kami?"..
" diam aja mi nanti orang dengar,,,"
padahal saya ngomongnya pelan sekali karena saya tahu situasi tidak pas untuk kami membahas ini. "iya pi tapi ,, mi minta papi jujur ada apa?"
"Tidak ada apa-apa katanya"
Yah mungkin mereka sudah memperhatikan selama saya dan anak2 datang suamiku tidak tidur di tempat kost kami, dan sejumlah pertanyaan yang mereka pikirkan saya tidak tahu. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan suamiku, malamnya saya dan anak-anak diajak tidur di asrama. Apakah supaya teman2nya lihat atau agar supaya kami pernah merasa tidur di asrama itu ...., saya kadang memang tidak mengerti jalan pikiran suamiku.

Besok pagi-pagi sekali saya dan anak-anak harus pulang ketempat kost karena hari itu pelantikan suamiku, kami harus siap-siap untuk acara tersebut. Setelah acara pelantikan ada pengunguman untuk penempatan tugas, dan ternyata pengungumannya untuk semua lulusan selapa dikembalikan ketempat asal pengiriman. Itu berarti suamiku kembali bertugas di Ambon.
Walau ada rasa kecewa di hati, saya harus menerima sebab segala sesuatu Tuhan punya rencana bagi kita. Mungkin belum saatnya saya dan anak2 kumpul dengan bapaknya


Satu hal saya bisa pelajari bahwa segala sesuatu ada waktunya so karena itu bersyukurlah dan bertemakasihlah untuk setiap keadaan yang kita hadapi
"BerterimakasihLah kepada orang yang tidak menganggapmu atau bahkan menolakmu, karena dia telah membuatmu mengerti bagaimana menghargai dan mencintai sesama"

No comments:

Post a Comment