Kasih persaudaraan, dapat terwujud saat kita mengerti dan belajar dari Kasih Tuhan yang tak terbatas dalam hidup kita. Saat kita tidak setia DIA tetap setia bahkan mengorbankan anakNYA yang dikasihi buat menebus segala dosa kita, sungguh kita berharga dimataNYA. Tuhan mengasihi kita tanpa pamrih dan mengampuni kita tanpa syarat, bagaimana dengan kita...?
Hal ini sering menjadi pertanyaan, seberapa banyak dari kita yang mampu mengasihi dan mengampuni tanpa pamrih..?!
Berapa banyak dari kita yang merasa dikhianati, disakiti, dibohongi, disepelekan.....?
sakit memang jika kita mengalami hal ini, saya pribadi telah merasakan sehingga dengan kelapangan hati, jika saya di izinkan untuk dapat berbagi dengan saudaraku, sahabatku, dan orang-orang yang saya kasihi, semoga bisa menjadi berkat buat kita semua dan terutama untuk menjadi kemuliaan bagi Tuhan yang empunya KASIH itu.
Tahun 2004 , dalam kehidupan berkeluarga kami diperhadapkan dengan gelombang badai kehidupan yang menerpa bahtera kehidupan keluargaku, walau tahun-tahun sebelumnya sudah ada riak-riak gelombang yang mengombang-ambingkan tahun ini nyata didepan mata kami harus hadapi gelombang yang lebih besar, suamiku mulai terbatas untuk menghubungi saya dan anak-anak itupun hanya bisa di siang hari meskipun demikian saya masih bersyukur berarti dia masih ingat saya dan anak-anak. Bebeapa kali saya coba menghubunginya malam hari yang terima adalah perempuan yang bernama Maya itu, tapi karena saya tidak butuh untuk bicara dengan dia saya langsung matiin saat dengar suaranya di ujung telepon. Karena saya tidak mau bicara dia pasti akan langsung sms dari Hp suami saya dan mulai mempermalukan saya, tak jarang juga ada kata - kata makian disms jika saya membalasnya dengan Firman Tuhan. dia berusaha memancing emosi saya tapi saya berusaha untuk mengendalikan diri, demikian saat suamiku telepon siang hari saya coba katakan bahwa saya di sms Maya semalam, kata suamiku "mami tidak usah dengar apa yang dia katakan, itu bohong semua, orang gila itu..!!" mendengar apa yang dikatakan suamiku saya berusaha mengerti, bahwa yang terpenting saya harus membuat susana hubungan komunikasi dengan suami tidak terputus dan baik-baik saja. tapi memang tidak mudah karena jelas bahwa kita berperang dengan hati kita yang tersakiti.
Suatu saat ada libur sekolahan jadi saya ajak anak-anak ke Ambon bertepatan dengan ulang tahun suamiku, saya bawakan kue ulang tahun dari palangka raya. Perjalanan pesawat saat itu lewat surabaya dan kami tiba di Surabaya jam 14.00 dan berangkat ke Ambon jam 1 malam jadi saya dan anak-anak transit hampir 11jam, anak-anakpun terpaksa harus tidur diruang tunggu bandara di Surabaya. Sebelum berangkat saya menghubungi istri dari salah satu staf perawat di kantor suamiku, untuk mempersiapkan acara surprise di ulang tahun suamiku, saya memesan makanan yang nanti untuk acaranya dan saya minta diundang seluruh staf kantor Biddokkes dan perawat rumah sakit polisi di kota Ambon, setelah tahu berapa banyaknya saya kirim uang untuk persediaan pesta itu.
Tepat jam 07.00 pagi saya dan anak-anak mendarat dikota Ambon tepat pada hari ulang tahun suamiku di jemput ibu Sherly istri perawat itu, dengan mobil yang saya suruh carter. Karena acaranya nanti di buat pada jam istirahat siang jam 12, saya mengajak untuk kita sarapan pagi di salah satu rumah makan di kota Ambon. Saat Lagi makan sekitar jam 09.00 suamiku telepon, saya tidak mau ucapin ulang tahun dulu tapi dia berusaha ingatin saya untuk mencari berkas biodatanya di dalam file dokumen yang saya simpan, saya katakan "ya, nanti saya cari" karena suamiku tahu saya dan anak-anak di Palangka raya. saya suruh ngobrol dengan anak-anak, tapi saya juga bilang ke anak-anak jangan dulu ucapin ulang tahun.
Para staf Biddokkes memberitahukan ke suami saya bahwa dari pihak rumah sakit nanti jam 12 siang akan buat acara syukuran, jadi mohon dokter memberi sambutan dan arahan pada acara ini. Sekitar sudah mau jam 12 makanan sudah siap, dan saya bersama anak-anak menunggu di dalam mobil tepat di depan gedung yang akan diselenggarakan acaranya. Skenario acaranya saya sudah konfirmasi dengan mereka bahwa kami akan buat kejutan, dan mereka mengerti. Saat sudah jam 12 -an suamiku dan staf dokter yang lain tepat lewat dimobil yang ada saya dan anak-anak tapi mereka tidak bisa melihat kami di dalam. Acara di mulai dengan sambutan dari suamiku kemudian selesai sambutan, pembawa acara mengatakan bahwa hari ini kami ada hadiah special buat dokter dan kami mengundang untuk semua berdiri, saat itu saya dan anak-anak sudah siap dengan kue ulang tahun yang sudah dinyalaiin lilinnya tepat kami melangkah di pintu masuk, pembawa acara nya mengajak semua menyanyikan lagu Happy birthday, kemudian saya dan anak-anak melangkah sampai di depan papinya dan mengucapkan selamat ulang Tahun sambil mencium papinya. Saya sempat terharu melihat suamiku sempat berkaca-kaca di matanya mungkin tanda rasa sedih dalam kebahagiaannya.
Selesai acara banyak yang datang salaman karena mereka baru kali itu melihat saya dan anak-anak. Ada beberapa ibu-ibu yang datang curhat dengan saya, ada yang berkata
"bu kami membayangkan ibu itu mungkin sudah tua gendut dan tidak menarik lagi sampai dokter tidak membawa ibu kesini",
saya hanya bisa senyum, sehingga ibu itu melanjutkan ceritanya "kami tidak habis pikir kenapa dokter seperti itu, padahal istri masih muda dan anak-anak ganteng dan cantik"
"yah mungkin tidak semua dinilai seperti itu, kita tidak tahu hati orang" kataku coba memberi pengertian. Di lain sisi ada seorang ibu yang curhat katanya "untung saja ibu tidak disini, saya disini setiap hari melihat suamiku pergi dengan perempuan lain dan bukan hanya saya saja kami disini hampir semuanya mengalami hal seperti itu, mungkin hanya pak tua yang satu itu yang setia sama istrinya" kata ibu itu sambil menunjuk seorang bapak berumur sekitar 50an. Mendengar semua keluh kesah ibu ini saya cuma bisa senyum lagi, sambil berkata "kita sabar aja bu". Kebenaran cerita-cerita itu saya tidak dengar begitu saja, dan saya coba konfirmasi dengan ibu Sherly yang saya rasa bisa dipercaya, dan dia meniyakan bahwa memang ada banyak kasus disini seperti yang saya hadapi.
Saya dan anak-anak nginap di hotel yang pernah kami tempati sebelumnya, malamnya suamiku menghubungi saya tapi karena pakai no lain saya tidak terima jadi dia menyuruh perawatnya menghubungi Sherly untuk mengatakan kepadaku diangkat telponnya. Jadi Sherly memberitahukan kepadaku "Bu tolong diangkat teleponnya, dokter mau telepon" baru saya terima telepon suamiku dan ternyata dia lagi di rumah sakit, dan menurut informasi dia pinjam Hp salah satu perawat untuk bisa menghubungiku karena Hp-nya sudah di ambil perempuan yang bernama Maya itu setelah dia tahu saya dan anak-anak ada di Ambon. Lewat Hp suamiku Maya sms ke saya untuk membuat saya emosi dengan kata-katanya yang memojokkan saya, agar saya marah-marah dengan suamiku. Tapi saya berusaha selalu mengendalikan diri agar tidak terpancing. meskipun selama saya dan anak-anak di Ambon bapaknya tidak pernah temani kami nginap di hotel, tapi saya percaya bahwa kami bertiga ada dalam perlindungan Tuhan sehingga tidak ada rasa takut yang menyelimutiku.
Besok paginya, saya terima sms lagi dari Maya, dia ingin melapor suamiku ke Polda dan saya katakan "silahkan",
tapi dia minta saya menemani dia melaporkan suamiku ke Polda dan saya jawab;
"saya tidak bermasalah dengan suamiku jadi sebagai istri saya harus menghormati dia"
"tapi bu dokter itu sudah keterlaluan" kata Maya mendesak saya
"kalau kamu mau lapor silahkan lapor sendiri" kataku tegas
"Baik kalau begitu bu, ibu tunggu saja disitu saya akan bawa keluarga saya menyelesaikan masalah ini...!!" kata Maya dengan nada mengancam kepadaku,
"Silahkan, tidak ada yang saya takut selain Tuhan" saya tantang dia juga dengan tidak ada rasa takut sekalipun saat itu hanya saya dan anak-anak tanpa pembelaan dari suamiku, tapi itulah yang saya rasakan saat itu bahwa ada perlindungan Tuhan selalu menyertai saya dan anak-anak.
Sekitar jam 1o saya dapat telpon dari recceptionis hotel bahwa ibu Maya mau ketemu, saya katakan suruh tunggu saja di lobby nanti saya kesana. Dari anak tangga saya melihat ternyata Maya dengan suamiku di lobby, anak-anak saya suruh makan ke restoran hotel untuk mereka tidak mendengar pembicaraan kita. Dengan senyum saya menghampiri tempat duduk mereka mengambil posisi disebelah suamiku, Maya kelihatannya agak tegang wajahnya tidak ada senyum. Saya coba membuka pembicaraan dengan pelan saya berkata
"saya harus mengatakan ini terserah kalian mau dengar atau tidak, itu keputusan ada dalam diri kalian karena saya harus perkatakan ini agar tidak menjadi beban buat saya, "bukan saya mengatakan kalian iblis tapi iblis sedang memakai kalian untuk menghancurkan hidup kalian"
"ibu mau tahu saya di suruh dokter untuk memaki-maki ibu" kata Maya
"Siapapun dia yang memaki saya, sekalipun dia suamiku yang memaki saya, saya memberkatinya, sebab saya tidak akan berkekurangan kalau dia memaki saya" jawabku tegas, suamiku hanya diam dan menunduk tidak bisa berbuat apa-apa.
"Nah sekarang kau yang ambil keputusan, jangan cuma diam" kata Maya tegas kepada suamiku
Suasana hening sejenak, dan tiba-tiba suamiku berdiri dan pergi dengan mobil dinasnya. Tak ada satu katapun yang dikeluarkan suamiku, saya dan Maya hanya terdiam di tempat duduk menyaksikan suamiku pergi.
"Begitulah dokter bu..,kalau sudah ada masalah lari dari masalah" kata Maya kepadaku
Malihat bapaknya pergi anak-anak datang mendekati saya, saya katakan kepada mereka berdua "sudah makan...?" "Iya mam" jawab mereka berdua serempak.
"Kalian mau jalan kemana..?" dengan lembut tanya Maya coba menarik perhatian anak-anak, tapi anak-anak tidak mau menjawab
"Nanti tante ajak kalian jalan-jalan ke pantai, tante lagi tunggu teman tante jemput"
Tiba-tiba perut Mikhael mules katanya "mi perut saya sakit"
"ya sudah kita ke kamar saja" jawabku ke anak-anak sambil pamitan ke Maya, yang juga bergegas berdiri "Oh iya nanti tante hubungi kalian ya, tante tunggu teman di depan, tak berapa lama temannya datang naik becak dan mereka pergi.
Saya mengantar anak-anak ke kamar karena Mikhael perutnya sakit, sehingga saya gosok minyak kayu putih tak beberapa lama suamiku telpon suruh saya dan anak-anak kekantornya.
Setelah ketemu dengan suamiku di kantor saya tidak mengungkit cerita tadi, saya katakan si Mikhael perutnya sakit tadi terus Maya mau ajak anak-anak jalan-jalan ke pantai, suamiku langsung katakan "Jangan.., jangan mau kalau dia ajak nanti kalian di apa-apain, jangan percaya apa yang dia katakan"
mendengar itu saya hanya bisa memaklumi karena suamiku lebih tahu siapa Maya, bukan kebetulan juga Mikhael sakit perut tadi sehingga ada alasan untuk menolak ajakan Maya. Selama kami di Ambon saya dan anak-anak hanya bisa ketemu papinya di kantor sampai akhirnya kami bertiga harus kembali lagi ke Palangka Raya. Kali ini setelah saya dan anak-anak di beliin tiket pulang oleh suamiku, entah untuk menebus kesalahannya dia katakan nanti kami di Jakarta di jemput mobil dari perusahaan obat untuk kalian pakai selama di Jakarta.
Setelah di Jakarta, saya dan anak-anak di jemput mobil CRV dari perusahaan obat dan saya minta diantarkan ke tempat kakak perempuan yang tertua diantara saya bersaudara yang lagi study S3 di Bogor. Besok paginya dengan mobil itu saya, anak-anak, dan kakakku ke Villa Renata di puncak kami menginap semalam disana mandi kolam renang dan menikmati indahnya puncak. Besoknya kami ke Jakarta belanja di Mangga dua, dan balik lagi ke Bogor di tempat kakak. Akhirnya panjang sudah perjalananku dengan anak-anak ada suka ada duka itulah kehidupan yang berputar yang kita alami, dan kami bersyukur bahwa semua itu adalah perkenaan Tuhan agar kita tidak terlena dengan kehidupan yang selalu mengandalkan kemampuan diri kita sendiri, tapi saat kita berserah kita akan Menikmati Indahnya bersama Tuhan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment