Thursday, April 28, 2011

Part-18


"Kasih Tuhan memberi kita kekuatan lewat siapa yang Tuhan kirim buat melawat dan menopang kita dalam kesedihan dan dalam sukacita,
Kusadari tak ada yang kebetulan terjadi dalam hidup ini,, tapi segala sesuatu diperkenankan terjadi untuk kita memaknai hidup ini Indah di Tangan Tuhan"

Oktober 2007, ada seminar Ikabi di Solo sebagai dokter bedah suamiku tidak pernah absent dalam acara tersebut. Seperti biasanya suamiku tidak pernah mengajak saya untuk ikut walaupun sebenarnya acara tersebut di hadiri juga oleh pasangan masing-masing peserta. Sore itu suamiku mengabari sudah tiba di Solo, hingga malam hampir pukul 22.00 malam tidak ada kabar lagi. Saya coba menghubungi Hp suamiku, tapi betapa aku tersentak lagi saat mendengar suara di balik telepon suamiku, berkata:
"kasihan deh kamu di bohongi terus" dan saya memastikan itu suara Maya, sehingga saya langsung matikan. Tiba-tiba sms masuk berasal dari suamiku, kata-katanya begitu jorok Maya coba membuat saya emosi dengan smsnya yang memojokkan saya, menghina saya dengan mengatakan ibu guru yang selalu dibohongi, anak dari seorang guru.
Saya sempat terpancing karena dia sudah menghina jabatan orang tuaku, sehingga balasan sms-nya saya katakan :
"Dari pada kamu, hei anak seorang bapak pemabuk yang tidak punya pekerjaan dan ibu yang kawin lagi sehingga cuma hidup bergantung pada orang lain, mending saya walaupun kedua orangtua kami guru tapi anak-anaknya semua sarjana, tidak minta-minta dan Tidak hidup bergantung pada orang lain"
Karena Maya ingin mengelak sehingga katanya yang sms itu suamiku, bukan dia. Sehingga saya katakan kau saja tidak kenal siapa suamiku itu ...? dan bagaimana sebenarnya dia....?!, karena kau cuma mau duitnya. Sehingga mungkin tidak tahu lagi dia mau jawab, skhirnya Maya mengirim sms berisi makian dan segala hal-hal yang jorok tentang apa saja yang dia lakukan kepada suamiku. Saya langsung matikan Hp, agar tidak menanggapi hal-hal yang dia sms-kan.

Keesokkan harinya saat sarapan, saya katakan tentang cerita semalam sama kakak ipar saya, yakni kakak suamiku yang sudah dua bulan tinggal bersama kami karena sakit. dan kakak katakan, "mami Michael lapor saja sama atasan, walau itu adik saya tapi kasihan kalian sudah dari dulu di buat begitu".
Saya katakan, " kak kalau saya lapor kasihan anak-anak, kalau bapaknya di penjara"
"Terserah mami Michael saja, tapi adikku itu sudah keterlaluan sama kalian,, saran kakak lebih baik dilapor biar dia kapok" kata kakak ipar.
"Iya kak nanti dipikirkan lagi, tunggu papi Michael pulang"

Saat suamiku pulang dari Solo saya tak banyak lagi bertanya dia sendiri yang membela dirinya tanpa ditanya semua sudah jelas, saya cuma katakan saya bukan orang bodoh yang bisa di bodohi. apapun alasannya yang terjadi itulah kenyataannya.

Bulan berikutnya saya terpilih duduk dalam kepengurusan majelis gereja di tempat saya bergereja, sebelum dilantik saya minta restu pada suamiku sebagai kepala rumah tangga karena begitu waktunya banyak untuk pekerjaa sehingga saya mengajak suamiku makan malam di luar setelah suamiku selesai praktek.

Tuesday, April 26, 2011

Part-17


"Terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan yang kita alami"

Bergulirnya waktu tentu akan menjadi masa-masa yang panjang bagi yang menantikan sesuatu yang di harapakan terjadi dalam hidupnya. Namun jika kita mau sabar dan sadar bahwa semua ada waktunya. Enam tahun setengah masa yang kami harapkan untuk dapat bersama lagi, meskipun pada kenyataannya riak gelombang persoalan belum juga selesai.

Juni 2007 suamiku di mutasikan ke Palangka raya, Namun nanti akhir Juli baru dia datang dengan alasan menyelesaikan tugas-tugasnya di Ambon sebelum pindah. Kedatangannya tentu sangat membahagiakan saya dan anak-anak, tapi tidak bagi suamiku, dia marah-marah menyalahkan saya yang membuat dia pindah ke Palangka raya. Dalam hal ini saya tidak mengerti apa alasan suamiku menuduh saya memindahkannya balik ke Palangka raya, saya sangat terkejut dan balik bertanya pada suamiku;

"apa alasannya kog mami yang dipersalahkan...?"
"Ya, karena mami yang lapor-lapor di Mabes" kata suamiku coba menekan saya.
"Jika itu alasannya tentu sudah dari tahun 2004 kemarin dipindahkan waktu saya ke Pusdokkes" kataku mengingatkan dia waktu saya menghadap Dr. Imam atas sepengetahuan dia, untuk memohon mutasi, mendengar penjelasanku suamiku diam. Sehingga saya coba meyakinkan dia dan mengatakan;

"pap..., dalam hal ini karena Tuhan sayang sama kita, makanya DIA kumpulkan kita kembali, coba papi pikir kenapa papi dipindahkan lagi kepalangka Raya.., bukan ditempat lain...?
Suamiku tidak menjawab, dia menghindar dari saya dan pergi keluar.

Saat-saat seperti itu membuatku selalu bertanya apa yang salah denganku, seakan dia tidak mau bersama dengan kami. Hal ini pernah saya tanyakan waktu suamiku masih tugas di Ambon;
"Pi tolong katakan apa kesalahan mami sehingga mami bisa merubahnya...?"
"Mami tidak pernah salah, tidak ada yang salah dengan mami...!" kata suamiku meyakinkan saya.
"tapi kenapa papi seperti ini terhadap saya dan anak-anak...?" saya coba bertanya lagi
"yah sudah,, tidak ada yang salah..!" kata suamiku dan langsung pergi seakan tidak mau di ganggu. Kalau sudah demikian saya harus selalu mengalah dan mengerti keadaan.

Setelah hampir satu minggu suamiku berada di Palangka raya, berkenaan dengan kepindahannya maka di Polda Kal-teng akan di lakukan pelantikan suamiku sebagai Kabiddokkes yang baru. Pada hari pelantikkannya saya izin tidak masuk mengajar, karena saya harus mendampinginya. Kami berdua berangkat sama-sama dari rumah dan saya yang menyetir mobil, selama perjalanan saya coba menyentuh hati suamiku dan berkata;
"pi..., saya dan anak-anak sangat bahagia papi ada bersama kami, karena kami butuh papi, tolong jaga saya dan anak-anak disini ya....??"
"mami ini ngomong apa sih..!!" kata suamiku,
"Iya papi tuh kebanggaan kami, dengan adanya papi disini tentu kami merasa ada yang melindungi" jawabku dengan hati-hati,
"Sebenarnya saya tidak suka pindah kesini, di Ambon saya bisa kerja di beberapa rumah sakit, itupun ada beberapa jasa operasi saya yang belum saya ambil. disana saya bisa praktek di beberapa tempat" kata suamiku,

Mendengar itu saya hanya diam dan biarkan dia mengeluarkan semua isi hatinya, agar saya tahu apa maunya suamiku. Dia melanjutkan dengan menceritakan pekerjaan2-nya di Ambon yang dengan kata lain dia mau mengatakan bahwa hasil pekerjaanya sebagai dokter di Ambon sangat besar. Itulah suamiku, dia akan selalu lebih memilih pekerjaan dan uang dari pada keluarga. Kami berduapun tiba di Polda dan saya parkir mobil tepat didepan kantor suamiku, hari itu saya mengikuti prosesi pelantikan suamiku dengan hati yang sebenarnya terluka, saat itu yang kupikirkan apapun keadaan hatiku saya harus menunjukkan kepada orang lain bahwa rumah tangga kami baik-baik saja, saya harus mendampingi suamiku saya tidak ingin mempermalukan dia.

Sudah dua minggu suamiku berada bersama saya dan anak-anak, saya selalu mengatakan kepada anak-anak kalau papi pulang kantor selalu dibuat papi senang ada di rumah. Jadi saya dan anak-anak kompak untuk selalu membuat papinya ketawa menemani papinya saat ada di rumah dengan cerita dan bercanda bersama. Suatu malam jam 10an lewat, suami saya belum pulang perasaan saya merasa tidak enak sehingga saya telepon suami saya, saat telepon di angkat saya tanyakan 'papi dimana...?' tidak ada jawaban tapi saya bisa mendengar lagi ada perang mulut yang terdengar seperti berbisik-bisik dan gaduh, saya tidak matikan Hp, saya coba mendengar dengan jelas tapi hanya seperti orang yang lagi berbisik-bisik yang kudengar. Akhirnya saya keluarkan mobil dan mulai saya telusuri melewati setiap hotel untuk melihat mobil suamiku, karena hatiku berkata pasti suamiku ada di hotel. Hingga tepat berada di depan sebuah hotel saya melihat mobil dinas suamiku sedang parkir di depan hotel, saya buka kaca mobilku untuk memastikan plat nomor mobil dinas suamiku dan ternyata benar. Terhentak seketika denyut jantungku tak terkontrol berdetak cepat, saya parkir mobil dijalan depan hotel itu saya tidak berani masukkan mobil kedalam hotel jadi saya parkir di jalan depanhotel itu , cepat-cepat saya turun masuk di lobby hotel yang sudah sepi karena sudah pukul hampir jam 12 malam. Dan saya meminta izin untuk mengecek tamu-tamu hotel lewat buku tamu di receptionist, melihat tidak ada nama yang saya kenal saya minta izin untuk menunggu di lobby hotel, sebelum saya duduk terdengar bunyi pintu sebuah kamar dekat tempat duduk yang saya tuju dan saya melihat suami saya keluar dari kamar itu. Saya langsung mendekat dan mendorong kamar itu ingin melihat siapa yang di dalam sehingga suamiku juga ikut masuk ke dalam, dan ternyata di dalam ada Maya dan dia langsung mengancam saya, katanya;

"Ibu,, saya akan telepon provost saja"
saya katakan "Silahkan....!! biar mereka juga tahu siapa anda" mungkin dia ingin mengancam saya seperti yang dia lakukan di Ambon, tapi saya tidak takut.
"okey kalau ibu mau suami ibu dipermalukan disini..!!" kata Maya mengancam saya, sambil pura-pura sibuk mencari nomor telepon polisi di koran.
melihat itu suami ketakutan, katanya "jangan bikin kributan , di kamar lain banyak kapolres-kapolren nginap nanti mereka tahu"
Karena saya susah emosi saya katakan "Biar saja mereka tahu",

akhirnya suamiku cepat-cepat keluar dari kamar dan ternyata dia pulang kerumah. tertinggal saya dan Maya, sehingga mulailah Maya mengatakan bahwa dia disuruh suami saya datang, karena suami saya akan menceraikan saya. Saya membela diri karena selama ini suami saya tidak pernah mengatakan akan menceraikan saya, "Selama ini tidak pernah ada kata cerai dari mulut suamiku, dan saya sudah katakan kepadanya kalau dia di pindahkan kesini karena Tuhan mau memperlihatkan kepadanya, bahwa disini ada istri dan anak-anaknya"
Mendengar itu Maya mengatakan, "suami ibu yang suruh saya kesini untuk membawa pakaian - pakaian dia yang ketinggalan disana, sebenarnya saya tidak mau tapi dia mendesak saya untuk datang kesini"
"Okey apapun itu alasanmu atau alasan suamiku, kau jangan macam-macam disini" langsung saya keluar dari kamar itu langsung menuju kemobil yang saya parkir di jalanan. Tapi betapa saya kaget ketika ingin membuka pintu mobil dengan remotenya ternyata kunci yang ada di tangan saya adalah kunci rumah, kunci mobil tertinggal di dalam mobil dan setelah saya intip ingin meyakinkan ternyata benar masih ada di stopkontak mobil dan entah bagaimana mobil terkunci dari dalam. Saat itu sudah pukul 01.00 lewat, saat saya lagi bingung gimana membuka mobil tiba-tiba lewat sekelompok polisi patroli malam dan mereka mampir mendekati saya dan berkata;
"Ibu kenapa tengah malam ada disini..?"
saya katakan "tadi saya cari teman saya di dalam tapi karena cepat-cepat kunci mobil saya ketinggalan di dalam"
"Yang benar ibu kog kunci bisa ketinggalan di dalam" kata salah satu polisi penuh curiga,
"iya pak kalau tidak percaya coba bapak intip kedalam mobil" dan beberapa dari mereka memastikan mengintip dalam mobil. Mereka ada sekitar 12 orang ada yang dengan sepeda motor patroli dan satu mobil patroli, ternyata tak satupun dari mereka yang kenal saya. Sehingga ada salah satu polisi yang mungkin curiga dengan saya mulai membentak saya, katanya;
"tengah malam begini ibu seorang perempuan adan di jalan, ada apa ini ...!!"
"Iya pak tadi saya cari orang di dalam, tapi karena cepat-cepat kunci mobil ketinggalan", jawabku coba meyakinkan mereka yang mulai menginterogasi saya.
"Ya siapa orang yang ibu cari...!" nadanya mulai meninggi
karena tidak tahan di interogasi dan disudutkan seperti itu saya katakan:
" Sebenarnya saya cari suami saya dan saya lihat mobilnya ada di dalam hotel jadi saya masuk ke dalam"
"Terus mana suami ibu..!!" katanya penuh selidik
"Ya tadi dia ada didalam tapi setelah lihat saya dia langsung pergi tinggalkan saya dan temannya di dalam"
"siapa nama suami ibu..?" kata polisi itu lagi, sedang yang lain masuk ke dalam hotel mencari informasi mungkin.
saya katakan ; "mungkin bapak kenal suami saya"
"iya tapi namanya siapa...?!" kata salah satu polisi lagi
"sebentar pak, saya coba telepon suami saya dulu" dan saya langsung menelpon suamiku;

"Papi dimana ini....?
"sudah di rumah" kata suamiku,
"ini pi,, kunci mobil ketinggalan di dalam mobil, saya tidak bisa masuk, nanti tolong di antar kunci cadangan ada di dalam laci lemari di kamar" kataku memohon,
"ya sudah tunggu saja" kata suamiku.

Kemudian saya mengatakan kepada bapak-bapak polisi yang masih berada disekitar mobil saya;
"Pak nanti suami saya bawa kunci cadangannya"
"Rumah ibu di mana..?" kata salah satu polisi
"di Panarung pak" saya tiak mau sebutkan secara detail,
"Nama suami ibu siapa" bapak yang marah-marah tadi terus mendesak saya mengatakan siapa suami saya,,
Saya jawab ; "mungkin bapak-bapak kenal suami saya, nanti dia akan kesini tapi saya mohon karena kalau suami saya lihat bapak-bapak ada disini dia tidak akan datang kesini, tolong pak mungkin agak menjauh dari tempat ini"
Sehingga para polisi itupun menjauh dari tempat saya, mobil patrolinya sudah pergi yang tertinggal ada 4 sepeda motor patroli yang tidak berada jauh dari tempat saya untuk memantau saya.

Tidak beberapa lama suamiku datang dengan mobil dinasnya, dan dia katakan;
"kunci cadangannya tidak ada"
"lho kog' tidak ada" kataku
"iya tidak ada di lemari" jawab suamiku,
"oh kalau gitu biar nanti saya cari" saya langsung naik di mobil dinas suamiku,
Setelah melewati beberapa polisi yang berada tidak jauh dari tempat itu saya buka kaca pintu mobil suamiku yang bergerak pelan dan katakan kepada mereka;
"Pak, minta tolong lihat mobilnya ya, mau ambil kunci cadangan dulu"

Di dalam perjalanan pulang saya ceritakan kepada suamiku, apa yang Maya katakan di kamar tadi.
"katanya papi mau ceraikan saya, sehingga papi suruh datang dia ke Palangka Raya",
"mami jangan dengar apa yang dia katakan itu, semua itu bohong" kata suamiku
"Tapi kenapa papi diam-diam pergi ketemu dia..?" tanyaku mendesaknya
"Yah dari pada dia bikin masalah, yang penting kan saya nda kawin di luar sana"
"Nda kawin'.., tapi kenapa bilang mau ceraikan saya...!"kataku tegas
"Mami jangan percaya apa yang dia katakan, di depan mami dia bilang lain tapi setelah itu papi yang dia ancam"

Akhirnya sampailah kami di rumah, saya langsung mencari kunci cadangan didalam lemari dan ternyata suamiku tidak mencari dengan teliti karena ternyata ada dalam laci lemari. Saat itu sudah pukul 02,00 malam saya suruh antar suamiku kembali untuk ambil mobil saya di hotel itu, sampai disana polisi-polisi yang patroli tidak berada lagi disitu. Setelah saya stater mobil, Saya suruh suami saya duluan di depan dan saya ikuti dia dari belakang. Sampai dirumah saya tidak mau lagi membahas persoalan tadi , saya capek sekali dan ngantuk dan tertidur beberapa jam saja hingga pagi.

Keesokkan harinya saya ingatkan sama suamiku tolong jangan bikin masalah lagi di disini, cukup saja kejadian di Ambon selesai semuanya ditinggalkan disana. Mendengar itu suamiku diam seakan merespon apa yang saya katakan, kemudian dia berkata :
" Pokoknya mami jangan percaya apa yang dia katakan, semua itu bohong"
"makanya tolong mengerti dengan saya dan anak-anak, kasihan anak-anak disini banyak teman mereka"
Sampai sore hari suamiku tidak pulang kerumah, saya telepon katanya sudah di tempat praktek. Malam itu pukul 21.00 saya dan anak-anak lewat di hotel itu dan melihat mobil dinas suamiku di parkir di hotel itu, saat kami masuk di looby hotel ada seorang bapak sedang duduk disitu sambil memegang barang-barang bawaannya banyak sekali, sambil duduk disitu anak saya bertanya sama bapak itu; "pak barang-barang apa ini....?"
"Oh pesanan ibu Maya dia katanya nginap di hotel ini" jawab bapak itu,
Mendengar nama itu anak saya marah dan bilang sama bapak itu "Pak bawa pulang aja pak barangnya, itu perempuan ga bener pembohong pak.." kata anakku, yang langsung ditanggapi bapak itu dan menngangkat barangnya lansung pulang.
Tidak beberapa lama, pintu kamar yang dekat lobby itu terbuka dan keluarlah suamiku anak-anak langsung nyerbu mendekati papinya tepat di depan pintu dan saat itu maya langsung marah-marah "saya telepon saja, ke provost" ingin menakuti anak-anakku, saya langsung maju dan katakan "silahkan anda lapor, biar semua jelas terbuka"
Melihat keadaan itu suamiku ketakutan dia masuk ke dalam kamar kembali sambil memohon ampun sama saya dan anak-anakku "tolong ampuni saya,,, tolong mengerti dengan saya, tinggal kali ini saja papi mohon kalian mengerti nanti papi selesaikan, papi sumpah tinggal kali ini" melihat suamiku sudah meringis seperti itu, saya dan anak-anak kasihan, langsung saya katakan lagi "Okey tinggal kali ini juga kami kasih ampun, kami tidak mau selalu dibohongi lagi"
"Iya papi janji,,tinggal kali ini..., papi mau kerumah sakit dulu mau periksa pasien"

Kemudian saya dan anak-anak keluar hotel itu dan pulang kerumah, tiba dirumah kami bertiga langsung masuk kamar dan menyembah memuji Tuhan, berserah kepada Tuhan dan saat itu saya rasakan betul ada damai di hati ada kekuatan yang penuhi dalam hati saya dan anak-anak walau dengan menangis kami bertiga terus saling menyatukan lipatan tangan kami bernyanyi memuji Tuhan sambil berdoa memohon pengampunan dan kelegaan dan saya menutup dengan doa safaat. Setelah itu saya menasehatkan anak-anak apapun yang sudah kita alami hari ini tetap harus ampuni papimu karena kita sudah berdoa untuk papi, jadi jika nanti papi pulang buat seperti tidak terjadi apa-apa. Kemudian anak-anak menuju kekamarnya masing-masing dan istirhat. Hampir pukul 24.00 malam suamiku pulang, saya tidak mau mengungkit cerita yang dialami tadi,, saya tanyakan kalau mau makan sudah disiapkan di meja tapi kata suamiku dia tidak mau makan. Saya membiarkan suamiku tidur duluan walau saya harus ada menemaninya.

Kesokkan harinya setelah sarapan pagi suamiku berangkat ke kantor, demikian juga anak-anak saya antar kesekolah. kira-kira pukul delapan pagi telepon rumahku berdering dan segera kuangkat dan orang di ujung telepon, bertanya"
"ini ibu Melky ya..."
"Iya saya sendiri" jawabku
"Ibu saya peringatkan ya bu jangan macam-macam dengan anak saya..!"katanya mengancamku
"Ibu ini siapa....?" saya balik bertanya
"saya ibunya Maya.., saya peringatkan ibu makanya tu suami dijaga" kata ibu itu,,
"Ibu, mestinya sebagai seorang ibu, ibu doong yang harus nasehatin anak ibu...!!" jawabku tegas
"Eeeehh suami ibu yang cari-cari anak saya" jawab ibu itu. Dalam hati saya 'lho tapi sekarang anaknya yg cari suamiku disini' saya langsung jawab;
"yaah ibu laki-laki yah' dimana saja pembohong, tidak ada yang bisa dipercaya"
"Eeeh memang 'babi' suamimu itu....," kata ibu itu marah
jawabku; "Sudah tahu babi kog anak ibu .., mau..?!"
"Eeeehh babi kau....." kata ibu itu tambah marah.
saya tidak tahu lagi apa yang ibu itu katakan karena saya langsung matiin teleponnya, saya pikir menghadapi orang-orang seperti itu bisa saya yang jadi tidak waras seperti mereka. Setelah itu bunyi telepon berdering terus saya tidak angkat lagi.

Hari itu juga saya dapat informasi dari kantor suamiku bahwa si Maya datang kekantor suamiku, tapi kebetulan suamiku lagi di Rumah sakit kata mereka;
"ibu ada perempuan datang kekantor bapak dengan alasan mengantar pakaian bapak yang selama ini menemani dia tidur di hotel, katanya"
Saya hanya bisa katakan kepada mereka, 'trimakasih, sebab siapapun dia, kalian yang dapat menilainya".
Ternyata setelah mengantar pakaian suamiku yang di bawahnya dari Ambon itu, hari itu Maya pulang ke Ambon, dan inilah awal dari babak pertama suamiku berada di Palangka Raya. Saat yang kami harapkan sebagai babak baru untuk bersama dengan papinya di kota cantik ini ternyata ada proses yang semakin menguji dan membentuk saya dan anak-anak.

Sunday, April 24, 2011

"Sudah selesai"


AKU telah menyelesaikan semuanya bagimu,
inilah perkataan Kasih Tuhan bagi kita yang di kasihiNYA.

Selama seminggu saya bersama anak-anak di Jakarta,
saya bersyukur banyak hal yang boleh saya ceritakan dengan anak-anak,
saya bersyukur Tuhan berikan saya anak-anak yang taat, yang manis,
dan saya percaya Tuhan menjaga dan memberkati mereka berdua.

Suka dan duka yang sudah kami jalani selama ini,
itulah proses kehidupan yang Indah dalam hidup kita.
Disakiti, dikhianati, dibohongi..., ditindas, disepelekan.
Saya katakan kita harus kuat menghadapi ini semua,
itulah cara iblis mau mencuri damai sejahtra dalam hidup kita,
Itu sebabnya bentengi diri dengan "DOA dan TAAT pada TUHAN"
karena iblis akan selalu mengaum-ngaum mencari celah saat kita lemah.

Kita tidak tahu seberapa banyak orang yang lebih menderita dari kita,
tapi lihat, apa yang dapat kita lakukan untuk memberkati orang lain,
Baik dalam perkataan kita,,,
Baik dalam tingkah laku kita,,,
Baik dalam pelayanan kita.
Lakukan semua untuk kemuliaan nama Tuhan.
Sesulit apapun keadaan yang kita alami, Tuhan menolong tepat pada waktuNYA.

Karena kita berharga di mataNYA, "PRECIOUS in HIS sight"
DIA sudah membayar semua dosa pemberontakan kita,
dan semua habis lunas terbayar,
sehingga Tuhan katakan "SUDAH SELESAI"

Friday, April 22, 2011

Part-16


" Saat keadaan menekan kita teramat dalam "

Pelajaran berharga saat kita mengalaminya sendiri, selama kita hanya bisa ngomong kita tak dapat merasakan makna dari apa yang mereka alami di luar sana. Bukan berarti kita harus sama dengan keadaan mereka, tapi jika kita mau sadar bahwa saat-saat kita sedang mengalami persoalan,, yg sedang kita alami adalah sama dengan apa yang orang lain alami, hanya ada dalam bagian-bagian persoalan kita masing-masing. Artinya bahwa setiap kita pasti mengalami apa yang disebut suka dan duka.

Perjalanan hidupku juga mungkin sedang kau alami, tapi itu ada dalam bagian persoalan yang mungkin berbeda denganku. Melihat kehidupan rumah tanggaku sudah terkikis oleh keegoisan dan ketidakpercayaan yang memang sulit kurengkuh sejak awal perkawinanku, aku selalu mencoba mengambil langkah untuk suatu keputusan agar kehidupan rumah tanggaku aman, damai dan sejahtera. Langkah awal pernikahan saya mengikuti suami ke Palangka raya, setelah lima tahun kemudian saya mengikuti suami pendidikan specialis di Manado. Seakan perjalanan ini mulus-mulus saja, berjalannya waktu riak gelombang rumahtangga mulai menghantam rumah tanggaku. Keegoisan dan kebohongan suamiku sudah mulai nampak, saya berpikir semakin tinggi pendidikannya semakin dia mengerti bagaimana posisi sebagai suami dan istri dalam rumah tangga. Tapi ternyata dengan status dan pekerjaannya dia menunjukkan bahwa dia bebas untuk kesana kemari, dan dengan kekuasaan penuh ada di tangannya. Saya coba mengerti dengan pekerjaannya sehingga tak pernah saya melarang untuk perkembangan karier dan jabatannya.

Langkah kami mulai tersendat saat saya harus mengikuti suamiku, setelah selesai pendidikan specialisnya. Saya dan anak2 berangkat mengikutinya di tempat tugasnya dengan keputusan yang saya ambil karena suamiku tidak mengijinkan pada waktu itu, tapi sebelum genap dua bulan kami kumpul akhirnya kami terpisah lagi, suamiku harus tugas di Ambon. Selama tugas di Ambon suamiku tidak pernah mengijinkan saya dan anak-anak ke Ambon sehingga dengan diam-diam, tanpa memberitahu kami harus berangkat menemui dia di Ambon.
Tahun 2004 ini awal pertama saya dan anak-anak tidak natal dan tahun baruan dengan suamiku, sebelumnya dia janji akan datang sekitar tanggal 23 Desember tapi sampai 26 Desember tidak ada kabar. Sehingga tanggal 28 Desember 2004 saya memutuskan bersama anak-anak saya berangkat ke Ambon, dengan tekad untuk melihat persekolah anak untuk di pindahkan di Ambon.

Di Ambon kami nginap di salah satu hotel di tengah kota Ambon, besoknya kami ke kantor suamiku dan dia menyuruh saya dan anak-anak pindah ke hotel dekat kantornya suamiku dan dia mengantar kami kesana. Keesokkan harinya tanggal 30 desember 2004 saya di jemput ibu Serly untuk menemui istri dari Irwasda yang akrab dipanggil bu Ir di kediamannya, dalam perjalanan saya di ingatin bu serly bahwa saya dan anak2 tinggal di kawasan yang jauh dari tempat tinggal suamiku, boleh dikatakan tidak aman untuk saya dan anak2 mengingat kondisi Ambon yang masih tidak menentu kalau sewaktu-waktu ada konlik yang tak terduga memanas di kota Ambon karena menjelang tahun baru, kami tidak dapat menolong ibu dan anak2, kata bu Serly. Setelah ketemu ibu Ir saya ditanyaiin tinggal dimana di Ambon, ibu Ir kaget saat saya memberitahukan kami nginap di hotel, makanya dia langsung menyuruh bu Serly menghubungi suami bu serly yaitu pak Robert yang adalah staf perwira di kantor suamiku untuk melihat asrama polisi di belakang kantor suamiku, dan setelah di cek di informasikan ada sehingga saya dan anak-anak disuruh menempati tempat itu. Karena seharusnya sebagai kabid suamiku punya rumah dinas yang sudah disediakan dia tidak tempati dan akhirnya di tempati oleh salah satu dokter. sepulang dari rumah ibu Ir kami langsung survey asrama itu, waktu kami mampir di kantor suamiku belum datang jadi tanpa ada perintah dari suamiku, hari itu saya dan bu Serly serta anak2ku ke toko mencari kasur untuk kami bertiga pake tidur malam, jadi siang itu juga saya dan anak2 sudah menempati tempat itu, saya pikir luamayan ada beberapa tetangga saya yang kebetulan adalah asrama untuk para kasat di Polres. Siang itu saat suamiku datang diberitahu oleh stafnya bahwa saya dan anak-anak sudah menempati asrama di belakang atas perintah ibu Ir. dan dia menemui kami bertiga sambil menakut-nakuti kami nanti kalian dapat malaria disini, dikrain enak tinggal disini nanti kalian rasa katanya, saya hanya katakan dari pada kami di hotel tidak aman mungkin lebih baik kami disini melantai. dalam hatiku nanti juga kau tidak menjaga kami disini, dari sikap suamiku memang dia tidak mengizinkan saya dan anak2 tinggal di Ambon jadi jika kami menempati asrama itu berarti sudah harus tinggal di Ambon. Mulai malam itu saya dan anak tidur beralaskan kasur dilantai itulah modal awal kami tinggal disitu, karena tidak ada satu barangpun di asrama itu, tapi saya lihat anak-anak begitu tertidur pulas tenang rasa hatiku melihat mereka begitu nyamannya tertidur.

Keesokkan harinya tanggal 31 Desember 2004 suamiku hanya sebentar saja kekantor 'karena ada pasien di rumah sakit katanya', dan hari itu para staf dan perawat melengkapi perabot di tempat kami tinggal dengan kursi tamu yg diambil dari kantor, dan mereka ketoko membelikan tempat tidur untuk kami, hari itu saya juga ajak bu Serly untuk membeli alat makan dan minum kami serta kompor yg kami perlukan untuk masak. Saya sangat berterimakasi atas perhatian para staf dan perawat di kantor suamiku yang mau peduli dengan saya dan anak-anak. Sejak siang hari itu setelah suamiku menengok kami bertiga, dia tidak pernah nongol lagi di asrama tempat kami tinggal hingga tahun berganti 2005, sampai staf dan para tetangga heran kog selalu hanya kami bertiga yang ada di asrama.

Tanggal 1 Januari 2005 yang seharusnya awal tahun yang kami harapkan bisa kami sama2 dengan suamiku masuk gereja tapi samapi hari inipun dia tidak pernah muncul di rumah. akhirnya hanya saya dan anak-anak masuk di gereja dalam kompleks asrama itu, selesai ibadah saat salaman dengan orang-orang yang tanyain bapaknya anak-anak, saya hanya katakan bapaknya lagi tugas, mereka memaklumi karenatugas seorang dokter. tapi sebenarnya hati saya hancur mereka tidak tahu. Hari itu saya dan anak-anak ke rumah ibu Serly di asrama polisi batu merah dan kebetulan disana ada keybord jadi mereka menyuruh Mikhael main dan Prizi nyanyi, dan saat itu tetangga di asrama pada kumpul juga di tempat bu Serly, Mikhael dan Prizi menyanyikan "doa di malam natal" terlihat para ibu-ibu banyak yang nangis terharu mendengar bait demi bait dialunkan mikhael dan Prizi. Mereka mengatakan "untung aja anak-anak ini punya talenta seperti ini, jadi mereka tidak terlarut dengan keadaan yang mereka alami". Saya hanya bisa mensyukuri bahwa tanpa karunia Tuhan saya dan anak-anak tak mungkin bisa bertahan, saya melihat bahwa ternyata banyak orang diluar yang sayang dan perhatian pada saya dan anak-anak disaat kami harus kehilangan seorang figur yang kami cintai.

Tanggal 2 Januari 2005, dengan semangat pagi-pagi sekali saya dan anak-anak di antar ke tempat suamiku tinggal disalah satu kamar di rumah sakit swasta, Tiba disana saya mengetok seolah-olah perawat ditempat itu saya bisa mendengar suara suamiku dari dalam katanya tunggu sebentar, saya berusaha diam biar suamiku tahu adalah pasien atau perawat. setelah di buka pintunya saya langsung dorong dan ternyata suamiku hanya pake handuk yang dilingkarkan kepinggannya dan waktu saya tarik memang lagi telanjang, cepat-cepat dia tutupi kembali karena ada anak-anak yang ikut dengan saya, dan saya menerobos masuk ke dalam kamar dan saya dapati di tempat tidur Maya sedang berselimut sehelai kain dan saya tarik selimutnya dan ternyata tak sehelai benangpun menutupi tubuhnya, tak tahu saya dapat kekuatan dari mana bisa menyaksikan semua ini, di saksikan anak-anakku masuk kekamar. Memang secara kejiwaan anak-anak pasti syo'k dan sungguh tidak baik untuk perkembangan mereka, Tapi itulah peristiwa yang harus kami hadapi. Suamiku hanya bisa berkata "sudah keluar sana, saya sudah katakan nanti saya selesaikan" dia begitu ketakutan wajahnya pucat pasi karena saya sempat merekamnya dengan handycame yang saya bawa, saya hanya bisa katakan "Oh jadi begini ya kerja kalian..!!" ,,
"ibu jangan libatkan anak-anak" kata Maya
"Mana saya dan anak2 tahu kalian disini, seperti ini ..!! kataku kesal,
"Sudah... ayo keluar" kata suamiku membentak saya dan anak-anak, anak-anak karena ketakutan cepat-cepat mereka keluar dari kamar itu.
sambil keluar tanganku tetap merekam handycame ke arah suamiku, jadi ekspresi marah dan ketakutan kelihatan di camera. sebelum pergi saya sempat berkata kepada suamiku,
"Puas kau buat saya dan anak-anak seperti ini...!! dari dulu kau katakan mau selesaikan tidak pernah selesai-selesai, ternyata saya baru tahu siapa kau..!!" dan mulai saat itu tak ada lagi berita dari suamiku apalagi untuk melihat saya dan nak-anak.
Sepulang dari peristiwa itu, saya bawa anak-anak langsung kegereja GBI dan dalam pujian musik dan lagu saya tidak memperlihatkan ke anak-anak bagaimana hancurnya saya karena saya harus kuat di hadapan mereka berdua, jadi mereka juga mengalun memuji Tuhan dan berdoa dengan khusuknya, Khotbah saat itu sangat menguatkan saya dan anak-anak. Dan pada saat doa penyerahan saya mengajak anak-anak maju di depan untuk minta di topang dalam doa, dan mereka mendoakan kami tanpa mengetahui peristiwa dan persoalan yang sedang kami hadapi.

Pada hari ke empat di tahun 2005 karena tidak ada berita dari suamiku, sore harinya saya dan anak-anak ke tempat praktek suamiku. Anak-anak saya suruh ketemu papinya dulu, tapi tiba-tiba anak-anak datang mengeluh kata mereka; 'kami Dimarahi sama tante Maya dan diusir papi'. Sebagai ibu tentu saya tidak terima anak-anak diperlakukan seperti itu, saya langsung turun dari mobil dan masuk ke ruang prakteknya yang kebetulan waktu itu tidak ada pasien, langsung saya katakan;
"saya tidak terima anak saya di marahin dan diusir seperti itu"
"Ya sudah bu, saya lapor saja ke provost" kata Maya,
"silahkan lapor, biar jelas mereka tahu" saya tantang Maya yang lagi pura-pura sibuk mau menelpon. Karena ketakutan suamiku lari keluar, dan saya mengejarnya tapi tangan saya di tahan Maya dengan keras saya lepaskan dan saya katakan,
"ini bukan urusanmu ini urusan saya dengan suamiku..!!"

Saya kejar suamiku menuju ke mobil dinasnya yang di parkir di jalanan, saya langsung masuk kemobilnya dan suamiku ketakutan dan berkata:
"itu dia sudah mau lapor ke provost, tolong mengerti"
"kenapa harus takut, dari dulu bilang mau lapor dia cuma ngancam saja kan, yang saya tidak terima anak-anak di marahin" kataku geram
"iya tapi tolong mengerti dengan saya, nanti saya selesaikan sendiri" jawabnya bingung
"Dari dulu perasaan tidak pernah selesai, mungkin kamu belum kenal saya ya..!!" saya balik mengancam, tapi saya tidak tahu saat itu saya sudah di kuasai keberanian yang berapi-api dan saya tahu bahwa kekuatan itu ada dalam diri saya saat itu, seperti bom tinggal tunggu meledak sampai saya katakan kepada suamiku, "mau tahu jika hilang kesabaranku, saat inipun kau bisa melayang dari sini dan mobil ini bisa kubuat terbalik",
mendengar itu dan mungkin suamiku sudah melihat sorot mata saya tidak seperti biasanya, dia ketakutan dia memohon ampun untuk dia segera pergi dari tempat itu. Tapi saya sempat mengancam jangan sekali-kali menyakiti anak-anak lagi, dan suamiku menyanggupi sambil memohon pengertian dari saya, dan saya langsung keluar dari mobilnya menuju mobil yang ditumpangi anak-anak sehingga suamiku langsung pergi. Beberapa menit kemudian suamiku telepon dan katanya mau ngomong dengan anak-anak, sehingga loudspeakernya di besarin,
"Mikhael ..., Prizi..., papi minta maaf sudah menyakiti kalian, maafin papi ya..?"
"Iya pi..., tapi papi baik-baik ya " jawab Mikhael
"papi minta maaf sudah mengecewakan" kata suamiku lagi, suasana kami dalam mobil sempat terharu juga mendengar, "iya pi ..." jawab Prisi, dan setelah itu saya dan anak-anak pulang ke asrama, seperti biasanya saya dan anak-anak tidak ditemani papinya, berhari-hari kami hanya tinggal bertiga.

Selama beberapa hari di Ambon saya mencari informasi sekolah yang baik untuk anak-anak, tapi ternyata dengan peristiwa dan keadaan yang mereka berdua hadapi, mereka katakan,
"Mami saya tidak mau sekolah disini, meskipun mami daftarkan saya tidak akan pergi sekolah" dan di iyakan oleh Prisi adiknya "iya mami saya juga tidak mau sekolah disini"
kuberpikir bahwa anak-anak benar, mereka tidak boleh di paksakan karena ini menyangkut beban kejiwaan mereka. Hingga saya ambil keputusan sebelum saya mengantarkan anak-anak pulang saya harus mendesak suamiku untuk menempati asrama yang sudah diberikan karena semua perabotan dan peralatan makan sudah disiapin.

Tanggal 8 Januari 2004, saya mengajak anak-anak dan ibu Serly ke tempat tinggal papinya anak-anak tapi tidak ada di tempat kamarnya di gembok. Setelah saya coba tarik gemboknya, tiba-tiba gemboknya terbuka, akhirnya saya ngomong sama perawat dirumah sakit bahwa saya mau ambil barang suamiku mau dipindahkan ke asrama polisi. Mereka disitu begitu senang sekali mendengar itu karena ternyata mereka tidak suka dengan kehadiran Maya di rumah sakit itu yang sering memerintah mereka seenaknya " Iya bu ambil saja" kata mereka sehingga mereka membantu saya untuk mengangkat koper dan peralatan suamiku yang ada di kamar itu, semua pakaian saya angkut semua tidak ada yang ketinggalan. Dan ternyata itu juga menjadi masalah, tengah malam setelah suami saya pulang ketempat tinggalnya dia kaget barangnya sudah tidak ada jadi dia menelpon saya katanya "kenapa dipindahkan barang-barang saya"
"karena kamu, kerjanya di kepolisian bukan dirumah sakit swasta jadi tempat tinggalmu di asrama polisi ini" jawabku
"tapi saya kan kerja disini, juga " jawabnya
"saya tidak mau tahu, yang saya tahu kamu kerja di rumah sakit polisi " jawabku tegas,
"Aaahhh cari masalah saja, ini si Maya sudah mau lapor di provost" jawab suamiku kesal
"lapor saja, nanti juga mereka tahu siapa dia" kataku menantang,
"Aaaaahh cari masalah saja" kata suamiku sambil matikan telpon,

Besoknya tanggal 9 Januari 2005 hari ini anakku Mikhael ulang tahun, pagi-pagi suamiku muncul diasrama karena dia harus pake baju dinas, tapi anehnya suamiku tidak marah-marah seperti semalam dia telepon, dia cuma bilang itu si Maya sudah mau lapor katanya kalau tidak dikembalikan lagi, saya katakan ngapain takut kan itu cuma buat dia ngancan-ngancan saja, inikan barang kamu bukan barang dia.
Sore hari suamiku tidak balik lagi di asrama dia tidak peduli bahwa hari itu hari ulang tahun anaknya, dan sore itu jam 6 suamiku telpon marah-marah bahwa si Maya sudah mau melapor kalau tidak dikembalikan jam 8 malam ini kata suamiku mendesak saya. Sore itu juga saya mengajak ibu Serly ke tempat ibu Ir minta petunjuk, dan ibu Ir katakan ibu tidak usah takut memang seharusnya dokter tinggal di asrama bukan di luar.
Setelah itu ibu Serly membawa kami ke suatu tempat diatas bukit tepat melihat pemandangan kota Ambon untuk kami makan malam merayakan ulang tahun Mikhael. Jam 21,00 suamiku telpon menyampaikan bahwa Maya sudah mau ke Polda melapor, saya jawab biar saja tidak usah takut. Akhirnya hampir pukul 22,00 malam kami dapat berita bahwa Maya sudah melapor di Polda, saya di sarankan bu Serly untuk minta petunjuk bu Ir, dan akhirnya saya menelpon ibu Ir dan minta petunjuk, beliau mengatakan sebelum saya ke Polda saya harus temui pak Made yang pada waktu itu menjabat sebagai kepala provost. Dalam perjalanan ke rumah pak Made saya di telepon bu Ir dan beliau mengatakan bahwa benar di Polda sudah masuk laporan dari Maya bahwa saya di tuduh telah mengambil barang-barangnya. Akhirnya sampailah saya, dan ibu serly bersama anak-anak di rumahnya pak made, saya mengatakan maksud kedatangan kami dan saat itu juga pak Made langsung mengkonfirmasi ke Polda, dan beliau katakan "iya laporan dari ibu Maya itu sudah masuk di Polda, dan ibu Maya sekarang katanya ada di Polda".
Kemudian pak Made manyuruh saya dan anak-anak serta bu serly duluan ke Polda.

Setibanya saya di Polda, saya melihat Maya dengan wajah tidak ada senyum sedang ada di ruang tunggu Provost. saya langsung menghadap rovost jaga malam itu dan mereka katakan :
"Bu Melky ini ada ibu Maya melapor bahwa ibu telah mengambil barang-barangnya"
Dengan tenang saya menjawab:
"Setahu saya bahwa itu adalah kamar suami saya, berarti barang di dalamnya adalah barang suamiku bukan barang orang lain"
" iya memang itu kamar suami ibu tapi ada barang-barang saya di dalamnya" kata Maya memotong pembicaraanku untuk membela dirinya.
Pembicaraan kami terpotong karena pak Made sudah datang, jadi dia mengajak untuk diselesaikan diruangannya saja. saat itu sudah pukul 23.00 lewat. pak Made mulai menanyakan persoalannya, seperti penjelasan saya sebelumnya, tapi Maya tetap mengatakan ada barang-barang dia di dalamnya, sehingga saya tanyakan apa saja itu...?
Maya menjawab " ada 1 celana panjang berkantong diatas lutut, CD/DVD itu punya saya"
"Kalau celana warna apa ...?" tanyaku
"Warna coklat muda" jawab Maya,
"yah saya pikir itu punya laki-laki, terus ada barang apa lagi...? tanyaku"
"Cuman itu saja sama CD , tapi ada juga perhiasan di dalam kantong baju dokter" jawabnya agak ragu. Karena saya tidak memeriksa isi kantong jadi saya tidak tahu, sehingga saya katakan :
"okey nanti saya kembalikan kalau itu memang barang kamu" dalam hatiku wah ternyata barang-barang hanya seperti itu, dia nekat melapor. Kemudian Pak Made berkata tapi ini persoalan harus ada dokter(suamiku) juga, dan tiba-tiba Maya katakan "iya pak nanti saya telepon dokter" kami yang ada disitu saat itu langsung senyam-senyum saling memberikan isyarat seakan pikiran kami sama, wah keadaan kog terbalik.

Karena telepon suamiku tidak diangkat, akhirnya Maya menelpon perawat rumah sakit swasta itu, katanya:
"Mana dokter..!!" dengan nada keras
"Katakan sama dokter saya tunggu 5 menit..Cepat!!" lanjut Maya dengan nada mengancam.
Kami yang ada dalam ruangan itu saling berpandangan sambil senyam-senyum.
"dokter katanya lagi mau operasi usus buntu, tapi biasanya sebentar saja itu" kata Maya seakan dia tahu semua proses operasi.
Akhirnya pak Made minta nomor suamiku kesaya, seakan-akan dia tidak tahu nomor Hp suamiku, dan saya memberikan,, kemudian pak Made telepon suamiku, dan mengatakan bahwa dia mau menyelesaikan masalah yang di laporkan ini tapi dokter harus hadir karena dokter yang tahu semuanya.
sementara menunggu suamiku datang, Maya mengatakan bahwa sudahku katakan sama dokter kamu itu sudah tua sudah bau tanah sudah harus sadar jangan begini terus, tapi itulah dokter tidak bisa dibilangin, kemudian maya melanjutkan ceritanya dengan melaporkan apa yang dialaminya meminta pengasihan kita, katanya mungkin sekarang dia lagi hamil karena dia sudah telat. Dan pak Made mengarahkan pembicaraan menasehati Maya. Sekitar setengah jam kemudian suamiku datang dengan wajah lesuh memohon pengasihan kami yang ada disitu. Kemudian pak Made langsung membuka pembicaraan pada saat itu;
"Begini dok, nah ini ibu Maya ada melapor bahwa ibu Melky ada mengambil barang-barang ibu Maya yang ada dikamar dokter, dan sudah kami selesaikan bahwa ibu Melky akan mengembalikannya jika itu adalah kepunyaan ibu Maya karena menurut ibu Melky bahwa itu adalah kamar suaminya, berarti barang di dalam kamar itu adalah kepunyaan suaminya, itu sebabnya kami minta penjelasan dokter bagaimana...?

Kata suamiku "Dalam hal ini saya minta maaf, saya yang salah..., jadi saya minta maaf sama Maya sekarang kamu tahu saya punya istri dan anak-anak"
"Tidak bisa...!!, saya mungkin bisa saja memaafkan kamu tapi bagaimana dengan keluargaku" jawab Maya dengan nada keras
Pak Made menengahi pembicaraan katanya;
"Nah kalau begitu dokter Melky harus minta maaf ke keluarga ibu Maya"
Suamiku hanya diam, sehingga Maya berkata lagi ;
"saya tidak bisa jamin kalau keluarga saya bisa memaafkan dia" sambil menunjuk suamiku.
Pak Made berkata lagi "kalau begitu ibu melky saja ya bu...?"
saya menjawab "iya pak,, nanti saya menemui keluarganya" dengan perasaan saat itu bahwa saya berani melakukan itu untuk suamiku apapun nanti yang akan terjadi. Tetapi ibu Maya cepat-cepat menjawab seakan tidak menyetujui kalau saya datang kerumahnya;
"Oh tidak bisa,, orang tua saya tidak ada dirumah saat ini"

Pembicaraan kami terpotong karena kedatangan ibu Ir ,, dan saat beliau masuk langsung menendang kursi yang kosong dengan wajah marah sehingga terpental sekitar 2 meter dan hampir kena suamiku. Melihat postur tubuh ibu Ir yang tinggi besar tentu bisa dimaklumi bagaimana kursi itu bisa terpental keras, sehingga keadaan kami disitu menjadi tegang. Dan beliau mengatakan kepada suamiku ;
"dokter Melky...,, kamu mau tahu sebenarnya kamu dokter yang saya sayang saya hormati saya banggakan, tapi kamu sudah mengecewakan saya, saya benar-benar marah dan tidak suka dengan caramu memperlakukan keluargamu"
dan kemudian beliau berbalik kearah ibu Maya dan berkata:
" Kamu juga perempuan ...!! jangan mau di tipu laki-laki, dibohongi kasihan itu dia punya istri dan anak-anak..!!, kalau mau cari laki-laki yang bertanggungjawab diluar sana"
kemudian ibu Ir berkata kepada pak Made :
"Saya mohon maaf pak Made, habis saya marah sekali melihat istri dan anak-anak diterlantarkan begini, tolong diselesaikan masalah mereka ini ya pak...?"
"Dan kau dokter Melky,, saya minta kau yang antar istri dan anak-anakmu pulang di asrama dan saya tidak ingin mendengar lagi kau tinggal di luar asrama...!!" kemudian ibu Ir pamitan pulang.

Pak Made kemudian menasehatkan suamiku, "dokter Melky semua kembali pada diri kita sendiri, kejadian ini adalah suatu pelajaran bahwa kita tidak terlepas dari kesalahan tapi alangkah baiknya jika kita bijak menyikapinya, yah ada orang yang pingin makan sate kambing dia bisa mendapatkan di warung sate tanpa harus dia memelihara kambing. demikian juga hidup kita. Jadi ini adalah pelajaran buat kita semua, nah sekarang saya mau tanya sama ibu Maya mau tidak memaafkan dokter Melky...?"
"Kalau saya bisa memaafkan, tapi saya tidak jamin dengan keluarga saya"
"Nah kalau begitu kau yang harus beri pengertian kepada mereka bahwa dokter Melky sudah punya istri dan anak-anak, apakah kau tidak mengasihi mereka....?
"Saya kasihan sih sama ibu dan anak-anak, tapi saya takut keluarga saya berontak"
Pak Made bertanya lagi kepada saya: " Ibu melky bisa ya nanti meminta maaf di keluarga ibu Maya", saya jawab "Iya pak saya bersedia"
Lanjut kata pak Made "Nah kalau begitu saya buat berita acara, dan minta ditanda-tangani,"
Tapi tiba-tiba bu maya mengatakan tidak bersedia untuk tanda-tangan, akhirnya pak Made katakan "baiklah kalau begitu kita selesaikan secara kekeluargaan, dengan catatan dari pihak ibu maya sudah memaafkan dokter dan istrinya demikian sebaliknya ibu melky sudah memaafkan dokter dan ibu Maya" kemudian kami salaman dan berpisah dari tempat itu karena hari sudah pukul hampi 01.00 malam.
Beberapa menit kemudian telepon saya bunyi ternyata dari mama, nan waktu itu sudah lewat pukul satu malam itu berart di Manado sudah lewat 12 malam, mama tidak tahu saya di Ambon saat itu beliau katakan "mama baru selesai doa malam untukmu" hatiku tersentak apa mama merasakan keadaan yang saya alami, sedangkan selama ini saya tidak pernah menceritakan keadaan yang sedang saya alami, saya katakan "iya ma, terimakasih mama sudah bantu saya dalam doa, saya lagi di Ambon dengan anak-anak" dan kemudian mama menanyakan keadaan kami, saya katakan baik-baik saja. Saya percaya bahwa doa ibu itu sangat membantu dan berkuasa bagi kami anak-anak sehingga malam ini jika mama mendoakan saya itu bukan karena kebetulan tapi karena Tuhan mau nyatakan mujizatNya dan kuasaNya dalam kehidupan kita yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Malam ini suamiku ikut dengan saya dan anak-anak ke asrama dalam perjalanan saya katakan bahwa barang-barabnya Maya yang dia minta dibalikkan hanya celana panjang warna agak kecoklatan dan CD/DVD, serta perhiasan. Tapi kata suamiku "itu CD/DVD serta perhiasan bukan punya dia itu punya saya". Jadi saya langsung membayangkan ternyata ada sesuatu yang ingin Maya kejar dan dengan tidak ada rasa malunya dia melapor, ternyata bukan hanya itu saja yang dia inginkan tapi karena dia merasa bukan punya dia, dia tidak berani mengatakan yakni uang yang ada dalam koper, itupun saya tahu setelah suami saya memberitahukan kepada saya bahwa di dalam koper ada uang hasil praktek dan operasi dan di koper yang satu ada pistol dan peluru yang saya sudah amankan terlebih dahulu. Pagi-pagi sekali suami saya minta pistol/senjata api punya dia yang katanya harus di kembalikan ke markas penyimpanan, tapi saya katakan nati saya yang simpan kalau di tangan saya aman kataku. Walaupun suamiku mendesakku untuk berikan pistolnya saya tetap tidak berikan, mungkin dipikirannya bahwa nanti saya kalut saya pake pistol tersebut. Setelah beberapa hari kemudian saya harus balik lagi ke palangkaraya untuk mengurus status izin saya untuk titipan di Ambon dan anak-anak kembali sekolah sebelum berangkat saya berikan pistol yang saya simpan beserta pelurunya.
Keadaan yang memproses dan menekan batin saya selama di Ambon tidak membuat aku rapuh dan terjatuh, justru itu membuat saya harus bangkit bagaimana berjuang untuk menjalani hidup ini bersama dengan anak-anak saya berada jauh dari sanak saudara dan orang tua. saya berusaha berjuang walau tertatih dengan keadaan yang kadang tidak menentu, saya bertahan dalam badai untuk anak-anakku.

Suffering

zwani.com myspace graphic comments
Mulai dari hal yang paling kecil sebenarnya kita diproses,
awal dari semua yang harus kita hadapi kedepan,
menata hati...,

Sumber dari segala sesuatu yang baik maupun yang jahat
adalah hati kita....,
benar atau tidak kitalah yang tahu dan dapat menilainya,
sejauh mana ukuran yang kita takar selama ini.

Penderitaan....,
tahap-tahap melalui setiap pergumulan yang kita hadapi,
besar kecil masalah tidak terukur,
kitalah yang merasakan dan melapangkan hati untuk menerima,

Oooh Tuhan ...,
jika saya harus menanggung semua ini...,
berikan saya keluasan hati menerima penderitaan ini,
berikan saya kekuatan dan ketegaran tuk menjalani ini semua,
Saya tahu tidak mampu menanggungnya sendiri,
saya tahu penderitaanMU menanggung segala dosaku
jauh lebih besar dari apa yang kuhadapi,
sedikitnya saya bisa merasakan bagaimana penderitaan dan pengorbanan
oleh karena Kasih itu mau diberikan,
tidak mudah memikul salib ini....,
berat bagiku Tuhan..., tapi aku harus tetap memikulnya
sebagaimana ENGKAU TUHAN telah memikul salib oleh karena dosaku,
Brikan hati hambaMU ini kuat dan tegar, tidak mengeluh.....,
Tapi biarlah hambaMU ini melihat jauh kedepan,
pada pengharapan yang Tuhan sediakan bagiku.
Sebagaimana ENGKAU telah mengalahkan maut.

Brikan hambaMu hati yang bijaksana,
membimbing dan mendidik anak-anak dalam kesetiaan dan ketulusan.
Brikan anak-anakku hati yang taat dan takut akan ENGKAU , ya TUHAN...,
Jadikan mereka anak-anak yang mempermuliakanMU
dalam kata dan perbuatan mereka setiap saat.
Berkatilah mereka hikmat dan kepandaian dalam menyelesaikan pendidikan mereka.
Brikan mereka teman-teman seiman dan sepadan, sehati, sepikir dalam pergaulan mereka, terlebih teman2 mereka adalah anak-anak yang takut akan Tuhan.
Ya Tuhan...,
Putuskan segala kutuk dosa dari kami orang tua,
Berkatilah anak2 kami dalam kesetiaan dan kekudusan,
dalam kedamaian dan kesejahtraan mereka.
Ooh Tuhan dalam pengasihanMU,
aku mohon kabulkanlah doa hambaMU ini..., AMIN

Thursday, April 21, 2011

With Love forever


Saat kita kehilangan kata-kata...,
Saat kita tak mampu mengungkapkan rasa di hati...,
Saat kita sepertinya kehilangan harapan...,
Saat kita tak punya dasar untuk bertahan...,

Saat kita di uji....,
Saat kita harus memilah jalan yang terbaik...,
Saat kita harus menguji apa kata hati ini...,
saat kita harus yakin dengan apa yang kita harapkan...,
Meskipun tidak ada dasar untuk berharap.

Terkadang kita tak mengerti setiap perjalanan yang kita hadapi,
kita merasa sudah buat yang terbaik, dan
sepertinya tidak ada respon dari kebaikkan kita ..,
TETAPLAH berbuat BAIK,

Kita tidak tahu seberapa panjang perjalanan kita,
hampir atau masih jauh...,dan
sepertinya tidak ada titik terang untuk kita keluar
dari persoalan-persoalan hidup ini,
seakan silih berganti memproses kita begitu rupa,
persoalan anak, suami, istri, pekerjaan

Belajar dari kehidupan yang diperhadapkan bagi saya
itulah proses yang terindah yang Tuhan mau
dibentuk dalam hidupku, seperti apapun hidup itu
INDAH di tangan TUHAN
satu keyakinan bahwa Tuhan selalu setia mengasihi kita,
apapun itu keadaan kita...,
Tuhan memegang tanganku dan tanganmu erat.
DIA mengasihi LEBIH DARi kasih kita
Lieve...,
SELAMAT MERAYAKAN JUMAT AGUNG,
SELAMAT MENYAMBUT PASKAH,
KEMATIAN YESUS DI KAYU SALIB,
MEMBUKTIKAN BEGITU BESAR KASIH ALLAH
BAGI KITA,

INILAH DASAR KASIH ALLAH BAGI KITA,
UNTUK MENGASIHI DAN BERKORBAN,
DALAM KESETIAAN SAMPAI KESUDAHAN.
"WITH LOVE FOREVER"

Give N do d'BEST


Selamat menjalani masa pendidikan, Lieve
Sehat, sukses dan bahagia selalu itu yang sll kuharapkan bagimu

Jadwalmu yang begitu padat tetap jaga kesehatan,
meskipun diri ini sll ingin bertanya "apa kabarmu..?"
diri ini hanya bisa berdoa dan berharap,
berdiam diri dan menjalani kehidupan lebih berarti lagi,
karena hanya itu yang dapat kulakukan agar tidak mengganggumu,

Berikan dan lakukan yang terbaik untuk Tuhan.
Tuhan memberkatimu

Wednesday, April 20, 2011

Lieve


Lieve...
hati memang tak bisa berdusta, rasa rindu terus mengalir, rasa cinta akan selamanya di hati, itulah kenyataan.
Lieve...
kebaskan semua cemas n prasangka di hati,
mari kita sama2 renungkan Tuhan begitu sangat mengasihi kita,
DIA sedang membentuk kita berdua menjadi orang yang lebih bijaksana dan tulus itu sebabnya DIA sedang memproses kita begitu rupa naik ke level yang lebih tinggi. I
Itu sebabnya kubersyukur apapun yg kuhadapi
Tapi dengan tulus kukatakan saat ku'tak mengerti Tuhan buat aku mengerti bahwa "TUHAN TERLEBIH MENGASIHI kita berdua". aku sangat bersyukur Tuhan memberkatimu, melangkah ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
Ketahuilah setiap hari krn ku'tak dapat menghubungimu
ku hanya bisa memantau dari setiap perkembanganmu di internet
dan kudapatkan kabar tentangmu.
Aku bangga dan bahagia sekali Tuhan sangat-sangat baik.
Jadi apapun yang kita hadapi TUHAN sedang buat semua indah pada
waktunya.
Itulah keyakinanku saat ini, doa'ku selalu menyertaimu.
TUHAN MEMBERKATIMU

Part-15

Kasih persaudaraan, dapat terwujud saat kita mengerti dan belajar dari Kasih Tuhan yang tak terbatas dalam hidup kita. Saat kita tidak setia DIA tetap setia bahkan mengorbankan anakNYA yang dikasihi buat menebus segala dosa kita, sungguh kita berharga dimataNYA. Tuhan mengasihi kita tanpa pamrih dan mengampuni kita tanpa syarat, bagaimana dengan kita...?
Hal ini sering menjadi pertanyaan, seberapa banyak dari kita yang mampu mengasihi dan mengampuni tanpa pamrih..?!

Berapa banyak dari kita yang merasa dikhianati, disakiti, dibohongi, disepelekan.....?
sakit memang jika kita mengalami hal ini, saya pribadi telah merasakan sehingga dengan kelapangan hati, jika saya di izinkan untuk dapat berbagi dengan saudaraku, sahabatku, dan orang-orang yang saya kasihi, semoga bisa menjadi berkat buat kita semua dan terutama untuk menjadi kemuliaan bagi Tuhan yang empunya KASIH itu.

Tahun 2004 , dalam kehidupan berkeluarga kami diperhadapkan dengan gelombang badai kehidupan yang menerpa bahtera kehidupan keluargaku, walau tahun-tahun sebelumnya sudah ada riak-riak gelombang yang mengombang-ambingkan tahun ini nyata didepan mata kami harus hadapi gelombang yang lebih besar, suamiku mulai terbatas untuk menghubungi saya dan anak-anak itupun hanya bisa di siang hari meskipun demikian saya masih bersyukur berarti dia masih ingat saya dan anak-anak. Bebeapa kali saya coba menghubunginya malam hari yang terima adalah perempuan yang bernama Maya itu, tapi karena saya tidak butuh untuk bicara dengan dia saya langsung matiin saat dengar suaranya di ujung telepon. Karena saya tidak mau bicara dia pasti akan langsung sms dari Hp suami saya dan mulai mempermalukan saya, tak jarang juga ada kata - kata makian disms jika saya membalasnya dengan Firman Tuhan. dia berusaha memancing emosi saya tapi saya berusaha untuk mengendalikan diri, demikian saat suamiku telepon siang hari saya coba katakan bahwa saya di sms Maya semalam, kata suamiku "mami tidak usah dengar apa yang dia katakan, itu bohong semua, orang gila itu..!!" mendengar apa yang dikatakan suamiku saya berusaha mengerti, bahwa yang terpenting saya harus membuat susana hubungan komunikasi dengan suami tidak terputus dan baik-baik saja. tapi memang tidak mudah karena jelas bahwa kita berperang dengan hati kita yang tersakiti.

Suatu saat ada libur sekolahan jadi saya ajak anak-anak ke Ambon bertepatan dengan ulang tahun suamiku, saya bawakan kue ulang tahun dari palangka raya. Perjalanan pesawat saat itu lewat surabaya dan kami tiba di Surabaya jam 14.00 dan berangkat ke Ambon jam 1 malam jadi saya dan anak-anak transit hampir 11jam, anak-anakpun terpaksa harus tidur diruang tunggu bandara di Surabaya. Sebelum berangkat saya menghubungi istri dari salah satu staf perawat di kantor suamiku, untuk mempersiapkan acara surprise di ulang tahun suamiku, saya memesan makanan yang nanti untuk acaranya dan saya minta diundang seluruh staf kantor Biddokkes dan perawat rumah sakit polisi di kota Ambon, setelah tahu berapa banyaknya saya kirim uang untuk persediaan pesta itu.

Tepat jam 07.00 pagi saya dan anak-anak mendarat dikota Ambon tepat pada hari ulang tahun suamiku di jemput ibu Sherly istri perawat itu, dengan mobil yang saya suruh carter. Karena acaranya nanti di buat pada jam istirahat siang jam 12, saya mengajak untuk kita sarapan pagi di salah satu rumah makan di kota Ambon. Saat Lagi makan sekitar jam 09.00 suamiku telepon, saya tidak mau ucapin ulang tahun dulu tapi dia berusaha ingatin saya untuk mencari berkas biodatanya di dalam file dokumen yang saya simpan, saya katakan "ya, nanti saya cari" karena suamiku tahu saya dan anak-anak di Palangka raya. saya suruh ngobrol dengan anak-anak, tapi saya juga bilang ke anak-anak jangan dulu ucapin ulang tahun.

Para staf Biddokkes memberitahukan ke suami saya bahwa dari pihak rumah sakit nanti jam 12 siang akan buat acara syukuran, jadi mohon dokter memberi sambutan dan arahan pada acara ini. Sekitar sudah mau jam 12 makanan sudah siap, dan saya bersama anak-anak menunggu di dalam mobil tepat di depan gedung yang akan diselenggarakan acaranya. Skenario acaranya saya sudah konfirmasi dengan mereka bahwa kami akan buat kejutan, dan mereka mengerti. Saat sudah jam 12 -an suamiku dan staf dokter yang lain tepat lewat dimobil yang ada saya dan anak-anak tapi mereka tidak bisa melihat kami di dalam. Acara di mulai dengan sambutan dari suamiku kemudian selesai sambutan, pembawa acara mengatakan bahwa hari ini kami ada hadiah special buat dokter dan kami mengundang untuk semua berdiri, saat itu saya dan anak-anak sudah siap dengan kue ulang tahun yang sudah dinyalaiin lilinnya tepat kami melangkah di pintu masuk, pembawa acara nya mengajak semua menyanyikan lagu Happy birthday, kemudian saya dan anak-anak melangkah sampai di depan papinya dan mengucapkan selamat ulang Tahun sambil mencium papinya. Saya sempat terharu melihat suamiku sempat berkaca-kaca di matanya mungkin tanda rasa sedih dalam kebahagiaannya.
Selesai acara banyak yang datang salaman karena mereka baru kali itu melihat saya dan anak-anak. Ada beberapa ibu-ibu yang datang curhat dengan saya, ada yang berkata
"bu kami membayangkan ibu itu mungkin sudah tua gendut dan tidak menarik lagi sampai dokter tidak membawa ibu kesini",
saya hanya bisa senyum, sehingga ibu itu melanjutkan ceritanya "kami tidak habis pikir kenapa dokter seperti itu, padahal istri masih muda dan anak-anak ganteng dan cantik"
"yah mungkin tidak semua dinilai seperti itu, kita tidak tahu hati orang" kataku coba memberi pengertian. Di lain sisi ada seorang ibu yang curhat katanya "untung saja ibu tidak disini, saya disini setiap hari melihat suamiku pergi dengan perempuan lain dan bukan hanya saya saja kami disini hampir semuanya mengalami hal seperti itu, mungkin hanya pak tua yang satu itu yang setia sama istrinya" kata ibu itu sambil menunjuk seorang bapak berumur sekitar 50an. Mendengar semua keluh kesah ibu ini saya cuma bisa senyum lagi, sambil berkata "kita sabar aja bu". Kebenaran cerita-cerita itu saya tidak dengar begitu saja, dan saya coba konfirmasi dengan ibu Sherly yang saya rasa bisa dipercaya, dan dia meniyakan bahwa memang ada banyak kasus disini seperti yang saya hadapi.

Saya dan anak-anak nginap di hotel yang pernah kami tempati sebelumnya, malamnya suamiku menghubungi saya tapi karena pakai no lain saya tidak terima jadi dia menyuruh perawatnya menghubungi Sherly untuk mengatakan kepadaku diangkat telponnya. Jadi Sherly memberitahukan kepadaku "Bu tolong diangkat teleponnya, dokter mau telepon" baru saya terima telepon suamiku dan ternyata dia lagi di rumah sakit, dan menurut informasi dia pinjam Hp salah satu perawat untuk bisa menghubungiku karena Hp-nya sudah di ambil perempuan yang bernama Maya itu setelah dia tahu saya dan anak-anak ada di Ambon. Lewat Hp suamiku Maya sms ke saya untuk membuat saya emosi dengan kata-katanya yang memojokkan saya, agar saya marah-marah dengan suamiku. Tapi saya berusaha selalu mengendalikan diri agar tidak terpancing. meskipun selama saya dan anak-anak di Ambon bapaknya tidak pernah temani kami nginap di hotel, tapi saya percaya bahwa kami bertiga ada dalam perlindungan Tuhan sehingga tidak ada rasa takut yang menyelimutiku.

Besok paginya, saya terima sms lagi dari Maya, dia ingin melapor suamiku ke Polda dan saya katakan "silahkan",
tapi dia minta saya menemani dia melaporkan suamiku ke Polda dan saya jawab;
"saya tidak bermasalah dengan suamiku jadi sebagai istri saya harus menghormati dia"
"tapi bu dokter itu sudah keterlaluan" kata Maya mendesak saya
"kalau kamu mau lapor silahkan lapor sendiri" kataku tegas
"Baik kalau begitu bu, ibu tunggu saja disitu saya akan bawa keluarga saya menyelesaikan masalah ini...!!" kata Maya dengan nada mengancam kepadaku,
"Silahkan, tidak ada yang saya takut selain Tuhan" saya tantang dia juga dengan tidak ada rasa takut sekalipun saat itu hanya saya dan anak-anak tanpa pembelaan dari suamiku, tapi itulah yang saya rasakan saat itu bahwa ada perlindungan Tuhan selalu menyertai saya dan anak-anak.

Sekitar jam 1o saya dapat telpon dari recceptionis hotel bahwa ibu Maya mau ketemu, saya katakan suruh tunggu saja di lobby nanti saya kesana. Dari anak tangga saya melihat ternyata Maya dengan suamiku di lobby, anak-anak saya suruh makan ke restoran hotel untuk mereka tidak mendengar pembicaraan kita. Dengan senyum saya menghampiri tempat duduk mereka mengambil posisi disebelah suamiku, Maya kelihatannya agak tegang wajahnya tidak ada senyum. Saya coba membuka pembicaraan dengan pelan saya berkata
"saya harus mengatakan ini terserah kalian mau dengar atau tidak, itu keputusan ada dalam diri kalian karena saya harus perkatakan ini agar tidak menjadi beban buat saya, "bukan saya mengatakan kalian iblis tapi iblis sedang memakai kalian untuk menghancurkan hidup kalian"
"ibu mau tahu saya di suruh dokter untuk memaki-maki ibu" kata Maya
"Siapapun dia yang memaki saya, sekalipun dia suamiku yang memaki saya, saya memberkatinya, sebab saya tidak akan berkekurangan kalau dia memaki saya" jawabku tegas, suamiku hanya diam dan menunduk tidak bisa berbuat apa-apa.
"Nah sekarang kau yang ambil keputusan, jangan cuma diam" kata Maya tegas kepada suamiku
Suasana hening sejenak, dan tiba-tiba suamiku berdiri dan pergi dengan mobil dinasnya. Tak ada satu katapun yang dikeluarkan suamiku, saya dan Maya hanya terdiam di tempat duduk menyaksikan suamiku pergi.
"Begitulah dokter bu..,kalau sudah ada masalah lari dari masalah" kata Maya kepadaku
Malihat bapaknya pergi anak-anak datang mendekati saya, saya katakan kepada mereka berdua "sudah makan...?" "Iya mam" jawab mereka berdua serempak.
"Kalian mau jalan kemana..?" dengan lembut tanya Maya coba menarik perhatian anak-anak, tapi anak-anak tidak mau menjawab
"Nanti tante ajak kalian jalan-jalan ke pantai, tante lagi tunggu teman tante jemput"
Tiba-tiba perut Mikhael mules katanya "mi perut saya sakit"
"ya sudah kita ke kamar saja" jawabku ke anak-anak sambil pamitan ke Maya, yang juga bergegas berdiri "Oh iya nanti tante hubungi kalian ya, tante tunggu teman di depan, tak berapa lama temannya datang naik becak dan mereka pergi.
Saya mengantar anak-anak ke kamar karena Mikhael perutnya sakit, sehingga saya gosok minyak kayu putih tak beberapa lama suamiku telpon suruh saya dan anak-anak kekantornya.
Setelah ketemu dengan suamiku di kantor saya tidak mengungkit cerita tadi, saya katakan si Mikhael perutnya sakit tadi terus Maya mau ajak anak-anak jalan-jalan ke pantai, suamiku langsung katakan "Jangan.., jangan mau kalau dia ajak nanti kalian di apa-apain, jangan percaya apa yang dia katakan"
mendengar itu saya hanya bisa memaklumi karena suamiku lebih tahu siapa Maya, bukan kebetulan juga Mikhael sakit perut tadi sehingga ada alasan untuk menolak ajakan Maya. Selama kami di Ambon saya dan anak-anak hanya bisa ketemu papinya di kantor sampai akhirnya kami bertiga harus kembali lagi ke Palangka Raya. Kali ini setelah saya dan anak-anak di beliin tiket pulang oleh suamiku, entah untuk menebus kesalahannya dia katakan nanti kami di Jakarta di jemput mobil dari perusahaan obat untuk kalian pakai selama di Jakarta.

Setelah di Jakarta, saya dan anak-anak di jemput mobil CRV dari perusahaan obat dan saya minta diantarkan ke tempat kakak perempuan yang tertua diantara saya bersaudara yang lagi study S3 di Bogor. Besok paginya dengan mobil itu saya, anak-anak, dan kakakku ke Villa Renata di puncak kami menginap semalam disana mandi kolam renang dan menikmati indahnya puncak. Besoknya kami ke Jakarta belanja di Mangga dua, dan balik lagi ke Bogor di tempat kakak. Akhirnya panjang sudah perjalananku dengan anak-anak ada suka ada duka itulah kehidupan yang berputar yang kita alami, dan kami bersyukur bahwa semua itu adalah perkenaan Tuhan agar kita tidak terlena dengan kehidupan yang selalu mengandalkan kemampuan diri kita sendiri, tapi saat kita berserah kita akan Menikmati Indahnya bersama Tuhan.

Monday, April 18, 2011

Part-14

Click here to get more Butterfly Greetings from MasterGreetings.com

"Saat hati harus di tegarkan"

Hari ketiga saya dan anak-anak di Ambon, pagi itu suamiku ingin memastikan keberadaan saya sehingga dia menelpon saya.
"lagi dimana ini..." nada suaranya agak tegas
"yah di Bogor" saya katakan
"yang benar...jangan bikin masalah saya tahu kalian dimana" katanya tegas
"siapa yang cari masalah" jawab saya
"Pokokya jangan cari masalah Ya..saya pulang besok!!" suaranya keras dan mulai kata-kata makian keluar dari mulutnya saya langsung matikan teleponnya.

Karena saya merasa suami saya sudah tahu keberadaan kami di Ambon, berkali-kali dia telepon saya tidak mau terima. Hari itu saya dan anak-anak ke gereja lagi memohon topangan doa karena saya pikir bahwa besok persoalan yang saya hadapi pasti butuh kesiapan saya dan anak-anak menerima kenyataan yang nanti terjadi, karena suami saya lewat teleponnya nadanya sudah sangat-sangat marah dengan makian-makian yang keluar dari mulutnya. Sampai di gereja saya sharing dengan pendeta, beliau memberi petunjuk bahwa semua harus ibu hadapi apapun yang harus terjadi, kami akan bantu dalam doa buat ibu dan anak-anak. Jadi jika besok bapak datang ibu dan anak-anak harus jemput.

Keesokkan pagi-pagi sekali saya dan anak-anak sudah siap karena bapaknya anak-anak akan tiba pukul 07.00WIT, dan perjalanan kebandara dari kota Ambon sekitar 1 jam, sehingga sebelum jam tujuh kami sudah harus ada di bandara. Dalam perjalanan ke bandara saya merasakan kekwatiran yang sangat, sehingga saya hanya bisa diam dan diam tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi dari pendeta
"Ibu, jangan takut, jangan kawatir saya di gerakkan untuk harus menghubungi ibu dan kami sudah mendoakan ibu dan anak-anak"
"Iya pak pendeta terimakasih, topang saya terus dalam doa ya.. pak pendeta" jawab saya
"Iya bu Tuhan memberkati ibu dan anak-anak"

Sampai di bandara saya coba bertanya pada polisi yang kebetulan baru tiba juga dibandara saat itu pakai mobil dinas, dan setelah dia turun dari mobil saya langsung menghampiri dan bertanya "bapak mau jemput siapa..?" bapak ini tidak menjawab tapi melihat ke Mikhael dan Prayzilia yang pada saat itu berada di belakang saya dan dia berkata,
"Ini Mikhael dan Prayzi ya..." saya jadi heran sendiri kenapa bapak ini kenal anakku
"Ibu dokter ya..." katanya dan saya mengiyakan
"ayo bu,,, bapak sudah sampai kita kedalam saja"
Tak berapa lama suamiku sudah berjalan menuju ketempat kami, saya lihat wajahnya agak tegang senyumpun tidak, tapi saya coba kendalikan perasaan saya, saya ajak anak-anak untuk menyambut papinya dengan rasa sukacita, mereka salaman dengan papinya dan saya menghampirinya untuk salaman, saya cium pipi kiri dan kanannya sambil tangan berjabat saya bisa rasakan dingin dan gemetar tangannya saya langsung mencium pipi suamiku dan saat itu dia sempat berkata
"jangan buat masalah"
Tanganku memegang punggung belakangnya saya bisa rasakan denyut jantungnya yang cepat
dan saya katakan,
"Tenang saya bukan datang cari masalah disini"
Dia langsung mengajak saya dan anak-anak ketemu dengan seorang bapak yang juga pejabat polda sebagai Irwasda, disitu baru saya bisa melihat senyumnya. keudian dia menanyakan kami tinggal dimana dan saya katakan kami tinggal di hotel manise, tapi suamiku marah "kenapa tinggal disitu, itu kan tempat pejabat-pejabat tamu dari luar" karena saya tidak mengerti saya hanya diam saja
"nanti saya carikan tempat buat kalian.."katanya tegas
"kalian naik mobil apa?"
"naik mobil yang saya carter" saya jawab
"yah sudah kalian pakai mobil itu saja, karena saya harus masuk kerja nanti saya hubungi kalau sudah dapat tempat tinggalnya"
Akhirnya kami terpisah dengan mobil yang berbeda, meluncur ke kota Ambon. Di dalam mobil saya memberitahukan kepada Jelly yang temani kami kemana-mana di kota Ambon ini. Saya katakan bahwa suamiku suruh pindah dari hotel itu karena tempat pejabat katanya. Jelly memberitahukan ke saya bahwa hotel yang kami tempati itu letaknya dekat sekali dengan tempat suamiku tinggal "kenapa tidak diajak ketempat bapak saja bu". "tidak tahu Jell.." kataku. Di Ambon ini masih banyak hotel yang lebih bagus untuk para pejabat tempati katanya. Tapi saya katakan kita ikuti saja apa maunya suamiku.

Siang hari saya ditelepon suamiku, katanya "kalian nanti keluar saja dari hotel itu, sudah ada rumah kost yang saya sudah hubungi untuk kalian tinggal" kemudian dia memberitahukan alamatnya dan setelah makan siang kami ke tempat kost tersebut dengan setia ditemani Jelly sebagai penunjuk jalan. Sore harinya suamiku datang melihat kami di tempat kost, waktu di tanyakan anak-anak hanya diam karena mereka tidak berani mengatakan bahwa mereka tidak nyaman dengan kamar kost itu, ada sekitar 15 menit suamiku katakan mau pulang karena mau praktek, kembali saya dan anak-anak hanya bisa mengiyakan. Suamiku pulang dan sampai pagi tidak ada kabar darinya. Sehari ditempat kost itu saya lihat anak-anak tidak mau mandi karena mereka tidak mau situasi kamar kost itu karena kamar mandinya agak kotor, tempatnya agak masuk lorong. Besok pagi saya jalan kaki keluar untuk mencari sarapan anak-anak dan ternyata tepat setelah keluar lorong itu ada sebuah hotel langsung saya datangi dan menanyakan kalau ada kamar dan tepat ada. Saya menghubungi Jelly menanyakan situasi hotel itu bagaimana, dia jawab bagus bu itu tempat para hamba Tuhan kalau melayani di kota Ambon, Jadi saya langsung memesan satu kamar. Saya cepat-cepat pulang ke tempat kost, saya katakan ke anak-anak "ayo bersiap kita pindah ke hotel yang didepan, nanti kita cari sarapan di luar saja, setelah mobil carteran saya datang kami langsung ke hotel di depan. Setelah jam 9 pagi kami masih di hotel, tiba-tiba suamiku menelpon menyuruh saya dan anak-anak kekantornya, saya langsung mengiyakan dan setelah anak-anak sudah mandi kami ke kantor papinya.

Di kantor suamiku kami di sambut baik dan ramah oleh pegawai dan para staf polisi, kami langsung di siapin minum dan makanan di ruang kantor suamiku. Saya juga bisa melihat suamiku senang kami berada dikantornya, anak-anak sibuk dengan mainan gamenya sendiri. Dalam suasana itu saya katakan pada suamiku bahwa kami sudah pindah di hotel dekat tempat kost itu dengan alasan yang anak-anak rasakan dan dia mengiyakan. sehingga tak terasa waktu sudah sore jam tiga dan kata suamiku di akan ke rumah sakit, nanti dia melihat ke hotel katanya, dan kami pun kembali ke hotel.

Di hotel saya di hubungi perempuan yang bernama Maya yang menurut Rini adalah pacar suamiku sekarang di Ambon. Dia pingin ketemu dengan saya, dan saya mengiyakan kami ketemu di tempat praktek suamiku, tanpa setahu suamiku kami berdua ketemu di luar ruang prakteknya dan anak-anak menunggu di mobil. Ternyata dia menceritakan bahwa dialah ibu yang saya tanyai waktu di tempat tinggal suamiku di rumah sakit itu, jadi dia yang memberitahukan suamiku di Jakarta bahwa saya dan anak-anak ada di Ambon. Saya berpikir bahwa umurnya jauh 10 tahun lebih tua dari saya, ternyata sebaliknya saya yang lebih tua 6 tahun dari usianya dan dia sudah mempunyai seorang anak. Maya ini menceritakan bahwa saya sudah diceraikan oleh suami saya katanya menurut suamiku, jadi saya sudah ditinggalkan oleh suamiku. saya berusaha diam sebagai pendengar agar saya tahu bagaimana ceritanya. dia juga mengaku bahwa dialah yang menelpon saya pakai Hp suamiku waktu saya di Palangka raya, dan katanya bahwa waktu itu suamiku katakan kepadanya bahwa saya sudah gila makanya suamiku tinggalkan. Dan dia juga menceritakan perihal hubungan suamiku dengan Rini, dia menjelek-jelekkan Rini, sampai dia menceritakan bagaimana dia mempermalukan Rini di depan orang banyak. ( Rini yang disebut Maya ini, saya dapat nformasi setelah beberapa hari saya di Ambon ternyata adalah seorang pendeta muda seorang gadis).
Kesan yang saya dapatkan dari pertemuan saya dengan Maya ini, memang orangnya agak ceplas-ceplos ngomongnya dan dia berusaha menarik perhatian saya bahwa dialah yang berjasa menolong suamiku dari incaran perempuan-perempuan di Ambon, akhir pertemuan katanya nanti dia ajak suamiku ke hotel saya tinggal. Dalam hati saya ini kog kebalik ya, tapi saya coba mengikuti permainan teka - teki ini.

Click here to get more Heart Break Greetings from MasterGreetings.com
Sekitar jam 10 malam di bawah ancaman Maya, suami saya menuruti apa yang di perintahkan Maya ini, mereka datang menemui saya dan anak-anak di Hotel. Setelah mereka tiba saya dengan senyum untuk menetramkan hati saya, saya menyambut mereka tapi anak-anak karena ketakutan mereka sembunyi di bawah selimut tapi ternyata dengan diam-diam mereka merekam pembicaraan kami dengan Handycam yang mereka pegang di dalam selimut. mulailah Maya memojokkan suamiku "ibu tahu ngga suami ibu menyuruh saya untuk memaki-maki ibu dan menjelek-jelekkan ibu" saat itu saya mulai lihat aslinya si Maya ini, agak arogan dan keras sehingga suami saya di buatnya tunduk, saat itu suamiku hanya bisa diam dan menunduk.
"Maya....,saya lihat kamu masih muda dan cantik, kasihan kalau kamu dapat laki-laki seperti suamiku ini" jawabku lembut coba membuat dia berpikir.
"Saya sudah bilang bu kepadanya, sudah tua bangka sudah bau tanah, jangan suka main-main perempuan" jawab Maya dengan nada keras, karena suamiku tidak tahan dia mau lari keluar, saya tahan sehingga kami saling tarik-menarik di kamar hotel itu
"malu didengar orang dikamar sebelah" kata suamiku
"makanya jangan bikin ulah" saya katakan kepada suamiku,
Setelah suasana agak tenang saya berkata "Nah sekarang,, Maya kau sendiri sudah tahu dia sudah punya istri dan anak-anak"
Tiba-tiba si Maya marah "Tidak bu .., saya tidak terima ibu katakan saya merebutnya dari ibu"
"bukan, bukan begitu maksud saya" coba menenangkan
"Tidak bu ..., saya tidak terima"
melihat Maya marah-marah suamiku menariknya keluar, tapi Maya tetap ngamuk
"saya tidak terima, saya akan bikin masalah saya akan lapor keluarga saya dan saya akan lapor di Polda" katanya
Akhirnya suami saya memohon kepada saya untuk minta maaf pada Maya,
"okey" saya katakan " okey Maya,,, walaupun saya tahu saya lebih tua dari kamu,dalam hal ini saya minta maaf jika kata-kata saya tadi tidak bisa kamu terima, saya tarik kembali"
"iya bu .., yah saya tidak terima dikatakan seperti itu" jawabnya
"Yah sudah anggap saja tadi kesalahpahaman saja, sekarang saya mau tidur dan saya tidak mengusir anda tapi sekarang sudah jam 12 malam karena saya harus siap-siap besok mau berangkat pagi-pagi sekali pulang ke Palangka raya"
"tapi bu .., boleh nggak saya minta pengertian ibu, agar saya menjaga suami ibu disini" kata Maya coba membujuk saya.
"Soal ini saya tidak kompromi, sebab suami saya sudah tua dia tahu mana yang harus dia lakukan" kataku tegas
"iya bu, saya minta tolong bu..., suami ibu mengantar saya pulang karena ini sudah larut malam, nanti saya suruh suami ibu temani ibu dan anak-anak disini"
Saya cuma bisa diam, tidak ngomong apa-apa, akhirnya suamiku mengantar Maya pulang.
Hingga pagi tiba tidak ada kabar dari suamiku, akhirnya kami ke bandara dengan mobil yang saya carter selama di Ambon, yaah saya harus berkorban uang tabungan saya harus terkuras untuk biaya perjalanan dari palangka raya-Jakrta-Ambon, untuk hotel, mobil dan makan kita selama di Ambon, saya berterimakasih suamiku belikan tiket untuk kami pulang ke Palangka raya. Dalam perjalanan ke bandara karena sekitar satu jam untuk tiba di bandara, dalam perjalan sms masuk dari Hp suamiku,
"Ibu, pagi ini saya bangunkan dokter dia tidak mau katanya mengantar ibu dan anak-anak"
"Terimakasih" jawabku
"Sekarang dokter sudah mau mandi, saya suruh ngomong dengan ibu dia tidak mau" sms berikutnya. Membaca itu saya sudak tidak menjawabnya sebab saya pikir apapun itu entah kata-kata Maya sendiri atau perkataan suamiku yang jelas sampai kami berangkat tidak ada kabar dari suamiku, hingga akhirnya kami kembali ke Palangka raya.

Click here to get more Heart Break Greetings from MasterGreetings.com

Saturday, April 16, 2011

Part-13

Keputusan saya ambil dengan segala resiko harus saya terima, setelah peristiwa telepon suami saya di terima oleh seorang permpuan dan kesokkan harinya suamiku menelpon, sejak itu tidak ada kabar lagi dari suami,, dan dengan segala resiko saya mengajak anak-anak untuk berangkat ke Ambon.
Hari Sabtu pagi saya berangkat ke Jakarta dan atas bantuan seorang hamba Tuhan ibu Debby VanSchouten saya dan anak-anak nginap di Hotel Atlit Century. Malamnya saya dan anak-anak diajak ibu Debby jalan-jalan ke Plaza mall Senayan, ibu Debby membawa anaknya yang kecil juga. Saat kami keliling si Mikhael menarik tangan saya katanya
"mam....,, itu lho bapak yang sering Khotbah di televisi" dan kami semua matanya tertuju pada bapak yang sedang duduk di lobby mall tempat minum teh yang di tunjuk Mikhael.
"Oh iya ,, ayo kita hampiri" kata bu Debby karena ternyata bu Debby pernah satu pelayanan dengan bapak John Hartmen ini, dan kami mendekati dan bu Debby dengan bahasa Inggrisnya dia ngobrol mereka pernah satu pelayanan di KKR. Saya dengan bahasa Inggris tertatih saya memohon topangan doa untuk perjalanan saya dan anak-anak ke Ambon. Dalam bahasa Inggris bapak John Hartmen berkata "ya...ya..." sambil mengangguk "ibu tidak usah kwatir saya melihat ibu kuat dan sepertinya ada sesuatu yang terjadi dan sepertinya ada mutasi atau kepindahan" lanjutnya. Saya juga hanya bisa mengangguk-angguk, karena memang kami lagi berupaya supaya suami saya dipindahkan. Saat itu kami lansung diajak berdoa di tempat itu bersama anak-anak.

Keesokkan harinya saya dapat telepon dari suami saya, katanya dia lagi transit di Makasar mau ke Jakarta, saya hanya bisa iya dan iya. setibanya di Jakarta suamiku telepon lagi katanya "mam sudah di Jakarta nanti selesai acara hari Rabu saya ke Palangka raya"
"papi tidak usah ke Palangka raya karena kami tidak ada di Palangka Raya"
"terus mami dimana sekarang?
"Yang pasti masih di Indonesia" saya jawab karena ada kekecewaan di hati.
"Iya tapi mami dimana...!" katanya tegas
"di Jakarta" saya jawab singkat
"saya dan anak-anak ada di Hotel Century" kataku
"Ya sudah nanti papi kesana setelah melapor di tempat seminar"

Sebelum suamiku mau ketemu dengan saya dan anak-anak saya telepon bu Debby untuk temani saya. Sebelum suamiku datang bu Debby sudah datang duluan dan anak-anak di beri tahu kalau nanti papinya datang biar dulu papi ketemu mami, karena anak-anak tahu ada masalah jadi mereka mengerti sehingga dengan ibu Debby mereka menunggu di lobby Hotel, sekitar pukul 19.00 suamiku tiba dan saat papinya lewat di lobby tentu melihat anak-anak dan ibu debby, karena sebelumnya suamiku sudah kenal ibu Debby jadi waktu melihat anak-anak dan ibu Debby di hotel suamiku langsung menuju ke lobby salaman dan anak-anak katakan, "mami ada di kamar kami mau main-main disini dulu pi"
Pada waktu suamiku masuk kekamar saya sudah menunggu di tempat duduk/ sofa yang ada dikamar. Suamiku sepertinya tidak berani mendekati saya dia ambil jarak duduk di sofa yang sebelah dan berkata
"kenapa kalian kesini, kan saya sudah katakan saya akan pulang ke Palangka raya"
"Kenapa kami disini tidaklah penting, yang terpenting kau mau bawa kemana rumah tangga kita ini?!" jawabku tegas
"Mami jangan percaya perempuan itu, itu orang gila" kata suamiku
"Iya mungkin yang tergila-gila padamu"
Sebagaimana orang yang dibohongi atau dikhianati tentu sangat sulit sekali mengontrol emosi
sehingga kata-kata yang keluar agak hambar kedengaran.
"terserah mami mau percaya tidak" suamiku coba berkelik
"Kalau saya mau saya sudah kawin dari dulu, tapi saya nda kawin" kata suamiku tegas
"Soal mau pikir kawin itu gampang,, tapi apa kita sudah siap menghancurkan anak-anak!!"jawabku balik dengan tegas.
Suasana jadi hening saya nda tahu apa yang suamiku pikrikan, akhirnya saya lanjutkan berkata
"Tujuan kita kawin apa sih...?!, dari dulu kita tidak pernah bicara serius soal ini,, mungkin ini saatnya kita mau bawa kemana hidup keluarga kita ini, mau hancur gampang tapi mau baik tentu tidaklah mudah, semua kembali kepada mu sebagai Nahkoda keluarga ini dan saya menurut apa kata kamu"
Karena dia tidak dapat memberikan jawaban dengan pasti, dia mengalihkan persoalan dengan bertanya " sampai kapan kalian disini..?
"sampai anak-anak selesai libur" jawabku
sambil berdiri dia berkata "yah sudah pulang aja besok nanti saya menyusul ke Palangka raya"
"papi tidak usah ke Palangka raya, karena papi tidak akan dapatkan kami disana"
"Jadi kalian mau kemana? tanyanya dengan curiga
"Yah paling seputar Jakarta" jawabku
"ya sudah kalau gitu nanti saya suruh perusahaan obat siapin mobil buat kalian" kata suamiku
sambil berjalan kepintu dengan alasan mau lihat anak-anak di lobby. saya pun menyusul di Lobby. Jadi diperkirakan suamiku hanya sekitar 20 menit menemui kami langsung dia pulang ke tempat seminarnya dengan alasan mau ada pertemuan.

Sesuai rencana awal, tujuan saya dan anak-anak adalah Ambon. Keesokkan pagi-pagi sekali pukul 04.30 kami sudah berangkat ke bandara karena pesawat ke Ambon pagi sekali. Sampai di Ambon saya dan anak-anak di Jemput oleh adik kandung namanya Jelly dari teman orang Ambon yang satu jemaat dengan saya di Palangka raya. Kami langsung di bawa ke salah satu Hotel di Kota Ambon, malamnya saya hubungi seorang perempuan yang mengaku namanya Rini dan mengaku ke saya sambil memohon ampun dari saya bahwa dia ada berhubungan dengan suamiku, karena waktu itu kata suamiku kepadanya bahwa dia sudah cerai dengan istrinya, jadi saya percaya, tapi diam-diam saya suruh cari informasi jelas tentang suami ibu dan ternyata saya di bohongi, setelah itu saya mulai menjauhinya. Tetapi kemaren perempuan yang mendekati suami ibu sekarang datang ke saya dan ngamuk-ngamuk, saya malu bu' , saya mohon ibu jangan ketemu perempuan itu, orangnya tidak baik, mulutnya kotor dia jahat sekali bu nanti dia permalukan ibu' , kata Rini memohon kepada saya jangan ketemu. Saya coba meyakinkan bhwa saya ingin tahu saja kebenarannya keadaan suamiku di Ambon. Besoknya saya carter mobil untuk melihat-lihat tempat kerja dan tempat tinggal suamiku yang disampaikan Rini semalam. Pagi-pagi sekali jam 07.00 saya dan anak-anak sudah siap mandi dan sarapan, kemudian kami dijemput oleh Jelly (yang jemput kami di bandara) dengan mobil yang saya suruh carter. Langkah pertama saya katakan
"Sebelum saya dan anak-anak mau keliling di kota Ambon ini, saya mohon topangan doa dari pendeta di kota Ambon" dan kami di bawah di Gereja Bethani disana kami ketemu Pendeta dan saya mohon ke pendeta untuk kedatangan kami di Ambon ini di topang dalam doa. tentu sebelumnya Pendeta mencari tahu siapa saya dan siapa suami saya, dan kebetulan pendeta kenal suami saya, "kog pendeta kenal....?, iya bu Ambon ini kecil"jawabnya. dan ternyata pendeta ini banyak tahu tentang suami saya, jadi dia bisa mengerti keadaan saya. Setelah selesai berdoa kami melanjutkan perjalanan melihat tempat tinggal suami saya.

Tempat tinggal suami saya ternyata bukan seperti yang sering dia katakan ke saya bahwa dia tinggal di mess perwira di dekat Polda, suamiku tinggal di salah satu rumah sakit swasta dan dia menempati salah satu kamar di lantai dua bagian pojok gedung itu. Saat kami tepat berada di rumah sakit itu kami bertanya kesalah satu perawat di depan dan dia katakan dokternya tidak ada lagi berangkat. tapi saya coba cari informasi tempat tinggalnya dimana, dan perawat itu mengatakan tinggal di lantai dua rumah sakit ini. Sehingga saya minta izin untuk melihat rumah sakit tersebut , sampailah saya dan anak-anak di salah satu pojok ada sebuah kamar dan kebetulan pada saat kami didepan kamar itu keluar seorang ibu di kamar rawat nginap hampir disebelah kamar itu dan dia bertanya mau cari siapa. saya balik bertanya apa ini kamar dokter Melky dan ibu itu mengiyakan dan mengatakan bahwa dokternya lagi berangkat tidak ada di tempat, kemudian saya langsung pamitan pulang.
Saat kami sudah di dalam mobil, suami saya menelpon dan bertanya
"mami dimana ini...?" kedengaran suaranya agak keras
saya jawab, "lagi di Indonesia"
"yang benar mami dimana ini...."nada suara suamiku agak tegas
saya coba menenangkan dia saya katakan "ada dipulau jawa, tidak usah cari kami"
karena penasaran suamiku katakan "yah sudah nanti malam saya ke hotel"
saya katakan "tidak usah, kami tidak ada di hotel"
"pokoknya tunggu saja saya kesana nanti katanya"
akhirnya saya coba berbohong agar dia tenang, karena suamiku tahu kakakku lagi di Bogor pendidikan Doktor jadi saya katakan "kami di Bogor di tempat kakak"
Sepertinya suamiku percaya sehingga kata terakhirnya sebelum menutup telepon "hati-hati disana".


,

Thursday, April 14, 2011

Part-12


"Sesuatu dibalik peristiwa"


Saat anda memandang orang lain sepertinya begitu enak kehidupannya, punya rumah, punya mobil, bisa jalan-jalan keluar negeri, bisa jalan bersama keluarga seakan yang terbayangkan dipikiran anda ‘wah hidupnya benar-benar enak...’ ,tetapi dibalik itu anda tak pernah menyangka orang lain juga sedang menilai anda demikian juga dan mungkin diam-diam orang yang anda pandang tadi begitu enak hidupnya sedang juga memandang kehidupan anda begit enak . Itulah kehidupan kita yang terkadang kita tidak mengerti saat kita memandang orang lain lebih bahagia dari kahidupan kita ternyata saat itu juga ada orang yang sedang menilai kehidupan kita begitu baik. Disinilah Tuhan bertindak adil tanpa kita sadari.


Setiap perjalanan kehidupan masing-masing kita punya jalan ceritanya sendiri, semua kita mengalami suka-duka yang berbeda-beda. Tahun 2004 saya mengawali tahun ini dengan kedua anak saya di rumah yang baru kami tempati, sebulan dua bulan berjalan sepertinya berjalan biasa-biasa saja. Saya ajak mama saya menemani kami di Palangkaraya, dengan kehadiran mama suasana rumah terasa nyaman. Setiap minggu mama mengajak anak-anak untuk ikut dalam persekutuan doa, saya hanya mengantar mereka ketempat ibadah sebab dipikiran saya bahwa saya cukup saja berdoa dirumah dan ibadah di gereja. Ternyata hal itu menjadi kepikiran mama, sehingga beberapa bulan kemudian mama pamit ke saya mau pulang dulu dan setelah di bandara mama berpesan “jaga baik anak-anak dan rajin beribadah, mama ada titip sesuatu di tempat tidur nanti kau ambil’ kata mama.

Setelah mama berangkat, karena penasaran saya cepat-cepat pulang untuk mengambil apa yang mama katakan tadi. Ternyata sebuah surat yang berisikan Nasehat dan beberapa ayat Firman Tuhan yang memotivasi dan menguatkan saya, satu hal yang saya simpan kalimat dalam surat berkata “apapun keadaan atau kondisi yang sedang kau jalani sekarang tetap berdoa, bersyukur dan rajin membaca Firman Tuhan,” yah mungkin kalimat ini sudah biasa sebagai nasehat orang tua kepada anaknya. Tetapi ada satu hal yang saya maknai dari maksud pesan ini bahwa tepat sebulan kemudian saya mulai diperhadapkan dengan persoalan rumah tangga saya.


Suatu malam saya tergerak untuk mengirim sms Firman Tuhan kepada suami saya, beberapa menit kemudian Hp-ku berdering bertuliskan “papi memanggil” saya cepat-cepat angkat dan betapa kagetnya saya saat itu mendengar

“siapa ini.!!” dan jelas itu suara perempuan.

Tentu saya langsung balik bertanya “ saya istri Melky, dan anda siapa,,?

“saya juga istri Melky” jawabnya menantang

“Oh ya ,, kalau begitu mana Melky” saya balik lagi bertanya

“Sudah pergi,,,! dia tidak mau bicara dengan anda, karena anda katanya orang gila yang sudah dia tinggalkan” jawab perempuan itu ketus

Mendengar itu saya tidak mau terpancing emosi saya untuk hal yang saya belum jelas, saya langsung matikan Hp saya, berkali-kali perempuan itu memanggil lewat Hp suami saya, saya tidak mau mengangkatnya, ada rasa syok ,kaget dengan keadaan yang kuhadapi saat itu. Kemudian Hp-ku berdering lagi tapi saat saya lihat ternyata nomor pemanggil yang tidak saya kenal, kuberanikan diri menerimanya dan ternyata itu suara suamiku diseberang sana seperti suara cemas ketakutan katanya

“mam..., jangan percaya itu orang gila..!?”

“tidak ada orang gila yang bicara jelas ditelepon..!?” jawabku tegas

“benar itu orang gila,, dia ambil Hp saya,,!! Makanya saya telepon dari wartel aja” kata suamiku tegas untuk meyakinkan saya

“Yang ada mungkin orang yang tergila-gila padamu..!!” jawabku

“Pokoknya jangan percaya mam.. itu orang gila..!!” jawab suamiku gugup dan langsung mematikan teleponnya.


Malam itu saya agak telat tidur, karena memikirkan kejadian yang baru saya alami cemas, kesal, marah sudah tentu tapi saya bisa mengendalikan itu, sebab saya berpikir bahwa belum tentu mereka memikirkan saya untuk apa saya harus menyiksa diri untuk berpikir sendirian yang ada nanti jadi gila beneran. Saya hanya bisa berdoa Tuhan menguatkan saya dan memberi petunjuk yang benar buat saya lakukan.

Sejak suami saya bertugas awal 2001 sampai 2004 dikembalikan bertugas di Ambon, dia hanya selalu bercerita bahwa situasi di Ambon tidak aman sering terjadi baku tembak, dia juga hanya tinggal di mess perwira di belakang Polda katanya. Mendengar itu saya berpikir mungkin itu sebabnya suami saya tidak pernah mengajak saya dan anak-anak pergi ke Ambon, sehingga saya tidak mempermasalahkan keadaan kita yang terpisah. Setelah kejadian semalam, keesokan harinya suami saya menelpon pakai Hp-nya, saya agak ragu untuk menerimanya. Setelah saya terima, ternyata diujung telepon suara suamiku, katanya

”mam,,, nanti minggu depan hari senin ada pertemuan/seminar di Jakarta 2 hari nanti papi langsung ke Palangka raya” dan dia tidak menyinggung lagi persoalan semalam.u

"Oh ya" jawabku pendek,

Saat itu dalam hati saya berkata 'tepat sekali', karena minggu depan itu ada libur sekolah anak-anak selama dua minggu dan sejak semalam saya sudah berniat untuk melihat keadaan suami saya di Ambon. Pikir saya ya sudah nanti kita ketemu di Jakarta saja baru ke Ambon.

Kehidupan memang terkadang kita tak pernah mengerti bahwa segala sesuatu diperkenankan Tuhan terjadi dalam hidup kita karena dibalik semua yng terjadi ada maksud yang terkandung di balik itu sebab Tuhan sangat mengasihi kita.