Thursday, April 7, 2011

Part-8



"Berilah Kasih selagi ada waktu"

Kita tidak dapat mengasihi sesama sebelum kita mengasihi Tuhan dengan segenap hatimu, segenap pikiranmu, dan segenap jiwamu.

yang menjadi pertanyaan sekarang sudahkah kita mengasihi Tuhan?
jawabnya tentu ada pada diri anda masing-masing seberapa besar kasih anda kepada Tuhan.
Firman Tuhan berkata; "bagaimana engkau dapat mengasihiKU yang tidak kau lihat, sedangkan saudaramu yang kau lihat tidak engkau kasihi"

Kasih Tuhan menjadi dasar bagi setiap kita yang mau mengasihi sesama kita. Kita memang bukan manusia yang sempurna tapi dengan Kasih Tuhan kita dapat mengasihi orang yang tidak sempurna dengan cara sempurna. Terkadang memang kita diperhadapkan dengan situasi seperti ini, mengasihi orang yang selalu menyakiti hati kita memang tidak mudah. Tergantung dari kelapangan hati kita yang mau di isi dengan Kasih Tuhan.

Perjalanan kehidupan setiap kita tentu berbeda-beda, kita masing-masing diperhadapkan dengan berbagai karakter manusia yang ada disekitar kita. Desember 2001 suamiku menemui saya dan anak-anak di hari Natal, setelah seminggu kemudian dia kembali lagi ke Ambon demikian kami terpisah lagi. Tahun 2002 suamiku mengajukan permohonan untuk dapat sekolah lanjutan perwira (SELAPA) dengan harapan agar kelak dia dapat dimutasikan dari Ambon. Pada waktu suamiku akan tes di Jakarta, sebelum berangkat dia katakan nanti dia akan mengunjungi saya dan anak-anak di Palangka raya. Beberapa hari kemudian, saya coba menghubungi suamiku tapi tak ada balasan telponnya tidak pernah di angkat. Saya akhirnya menghubungi Rumah Sakit Polisi di Ambon dan dari seberang sana mereka mananyakan siapa saya, karena saya sebelumnya tidak pernah telepon kesana hanya selalu telepon ke suamiku, dan saya menjelaskan siapa saya, kemudian saya bertanya apa suami saya ada disana dan mereka menjawab "Ya bu ada disini," sebagai istri tentu saya cemas ada apa tidak beri kabar ke saya, sedangkan suamiku sudah janji mau ke Palangka raya sesudah tes di Jakarta. Waktu itu saya sempat di bilang cemas campur depresi, saya sempat marah-marah dengan anak-anak, mereka bingung sebab saya tidak biasanya seperti itu. Saya keluar dengan mobil dan tidak tahu arah mau kemana rasanya kosong sehingga di jalanan saya kebut-kebutan, tetanggaku sms ke saya dan bialng "anak-anak ketakutan bu, tolong cari mamiku kata mereka, pulang aja bu" . saya tidak membalas sms itu, saya ambil keputusan pulang kasihan anak-anak siapa lagi yang harus jaga mereka kalau bukan saya, bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan saya. Karena ketakutan anak-anakku bercerita ketetangga disebelah bilang saya lagi marah-marah. Yah waktu itu hanya saya yang tahu persoalannya, saya tidak mungkin cerita ke anak-anak dan saya tidak mau ada yang tahu, akhirnya saya simpan sendiri. Saat itu saya dan anak-anak masih tinggal di asrama polisi, besoknya suamiku telepon bahwa dia tidak jadi ke Palangka raya karena ada masalah yang harus diselesaikan, sebelum suamiku lanjtkan sekolah. Sejak saat itu, saya merasa suamiku mulai tidak jujur dengan saya.


Suatu hari anakku mihael mendadak demam dan panas badannya tinggi, saya coba berusaha kompres dengan air dingin tapi panasnya tidak turun, dia tidak mau minum dan makan saya cemas saya telpon papinya, ditanyai gimana kondisinya saya ceritakan dan akhirnya suamiku katakan obat yang harus di beli. Besoknya panasnya masih terasa, akhirnya dokter tetangga sebelah katakan "bu, bawa masuk Rumah sakit aja" akhirnya anakku di rawat di rumah sakit, diperiksa laboratorium dan hasilnya cukup mengagetkan saya karena harus transfusi darah. saat itu anakku sudah di infus karena dia tidak mau makan dan minum. Saya telepon lagi suamiku hari itu hari Jumat, suamiku minta bicara dengan anaknya tapi waktu itu memang kondisi Mikhael sangat lemah dia tidak ingin bicara dengan papinya. saya ceritakan kepapinya kondisi Mihael pada saat itu lingkar seputar matanya sudah hitam, air kencingnya sudah merah seperti teh dan kotorannya hitam. Kebetulan ada dokter anak yang masuk mau visite langsung saya katakan kesuamiku bicara dengan dokternya. Dokter mengatakan akan di transfusi, dan untuk sementara darahnya lagi kosong jadi kami akan upayakan. Saat itu saya langsung hubungi teman-teman sekolah untuk minta bantuan donor darah demikian juga saya hubungi pihak gereja, jadi mereka semua sudah siapkan siapa yang mau donor. Saya dan anakku Mikhael golongan darahnya sama A, karena kondisi saya saat itu lemah menjaga Mikhael siang malam saya tidak diperbolehkan donor darah. Melihat kondisi anakku seperti itu saya minta sama papinya untuk pulang lihat sebentar anaknya, karena saat suamiku sekolah Selapa mereka Ada istilah IBL ( libur jumat sore sampai minggu masuk sekolah lagi) dan kata suamiku iya nanti saya akan usahakan. Hari itu kami dapatkan satu kantong darah untuk donor dan langsung Mikhael di transfusi, walaupun saat itu dia mengamuk tidak mau di transfusi, "mami saya tidak mau ditusuk-tusuk tangan saya, nanti saya korengan, mami sakitnya seperti di patok ular kobra" katanya, "Nak kamu harus sembuh, makanya harus di masukin obat lewat infus ini" saya memelas kepadanya tetap dia meronta tidak mau, tapi dengan bantuan beberapa orang perawat
akhirnya jarum transfusi darah bisa masuk. Besoknya saya tunggu suamiku tidak ada kabar, minggunya lagi tidak ada kabar untuk datang menengok anaknya di rumah sakit. Hampir sepuluh hari Mikhael di rawat dan dia dibolehkan pulang kerumah, tapi saya tidak mengerti dengan papinya kenapa dia tidak datang menegok anaknya yang sakit.

Saat ini saya ingin menitipkan pesan ini kepada kita semua, bahwa marilah kita menunjukkan rasa Kasih kita kepada orang-orang yang kita kasihi, selagi Tuhan masih beri kita waktu. Harta benda, kedudukan dan materi yang kita cari di dunia ini tidaklah kekal untuk kita miliki selamanya, tapi Kasih yang ada dalam hati kita, kita akan bawa sampai pada akhir kita kembali menghadap yang empunya Kasih itu.

No comments:

Post a Comment