Tuesday, March 29, 2011

Part-2


Part-2

“Makna dari Sebuah NASEHAT”

Dua puluh satu tahun sudah kumengarungi bahtera pernikahanku .... tahun demi tahun kuberjuang dengan kedua anakku,, mengasuh dan mendidik mereka. Disaat mereka tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya..,, mereka selalu mencoba mencari figur seorang ayah buat mereka.., karena selama ini mereka selalu terpisah dari ayahnya.....? tapi itupun mereka tak dapatkan.

Aku coba mereview perjalan dari awal pernikahanku,, pernah aku utarakan sama kakak kandungku apa yang membuat aku mengambil keputusan untuk menikah.

Saat aku masih kuliah di semester II aku ketemu dengan seseorang assisten dokter yang sekarang menjadi suamiku.Dia begitu menaruh perhatian pada waktu papa saya dirawat di RS. Saya pikir itu wajar sebagai seorang ast. Dokter terhadap pasiennya.

Tapi ternyata perhatiannya diberikan sampai papa saya keluar rumah sakit. Dia berusaha cari tahu keadaan keluargaku lewat temannya yg ass.dokter juga. Akhirnya kami kenal dekat dan dia sering berkunjung kerumahku. Dan akhirnya kami pacaran, waktu itu aku ingat bahwa masa pacaran kami tidak ada hal yang special atau istimewa. Karena kebanyakan dia sibuk dengan tugas di rumah sakit dan itu buat saya tidak mengganggu janji saya pada orangtua bahwa aku tidak akan pacaran, karena aku ingin kuliah.

Dalam perjalan waktu masa pacaran, dia begitu pencemburu dia tidak ingin kehilanganku. dia terlalu memprotecku Sampai teman kuliahku yang pria tidak boleh jalan bareng sama aku. Teman-temanku baik pria maupun wanita bahkan teman-teman kost dan ibu kost tahu bahwa orangnya pencemburu. Tapi aku berterima kasih padanya itu berarti dia sayang sama aku. Seiring perjalan waktu dia sudah selesai kuliah dokternya. Dia ingin melamar aku, dan dia memberanikan diri menyampaikan keinginannya kepada papa-ku.

“Om, saya mohon maaf jika kedatangan saya ini mengganggu, tapi ada yang mau saya sampaikan niat saya bahwa saya ingin melamar Selvie”,

Papa dengan tenang menjawab “Nak Melky, dimantapkan dulu semuanya, karena Selvie juga belum selesai kuliah, dan nak Melky baru selesai kuliah dokternya”, jawab Melky ”Iya om”, walupun ada kekesalan tergambar diwajahnya. Akhirnya perbincangan dialihkan ke cerita yang lain. Melky meminta petunjuk pada papa bagaimana untuk dapat kerja didaerah saya, papa coba menjelaskan apa yang papa tahu.

Karena saya harus melanjutkan kuliah, Melky terpaksa mencari pekerjaan di Manado,, awalnya dia dapat pekerjaan di perusahaan pengalengan ikan di Bitung, karena perjalan bitung manado terlalu jauh, akhirnya dia memutuskan untuk tinggal di bBitung dan setiap hari sabtu sore pulang ke Manado, tiga bulan kemudian dia dipanggil rekan dokternya untuk bantu praktek di Apotik Wanea, akhirnya dia berhenti kerja di bitung. Mulailah dia kerja di apotik. Satu hal saya bangga dari Melky uang kerjanya dia tabung, sejak masih kuliah saya lihat dia sudah gemar menabung. Ada setahun kemudian Melky dinyatakan lulus dalam tes wamil di Manado, dan harus melanjutkan pendidikan di Jakarta.

Pada waktu dia akan berangkat keJakarta untuk mengikuti pendidikan wamil, dia mendesak aku untuk harus tukar cincin atau tunangan. Dan dengan cincin yang sudah dia beli kami menghadap orang tua saya, sekali lagi papa saya bilang “Percaya saja sama anakku” kalau kalian jodoh pasti dipertemukan, cincin Cuma simbol bukan pengikat". Dengan sedikit ada kekesalan Melky bilang kepadaku “Selvy kamu harus pake terus cincin ini walau belum direstui orangtuamu”. Cincin itulah yang kemudian kami pakai untuk cincin perkawinan dan sampai sekarang masih terlingkar di jari manisku.

Selesai pendidikan Wamil , melky pulang ke Manado lengkap dengan baju dinas polisinya. Dia kelihatan begitu bangga dengan apa yang sudah dia dapat dari Jakarta, dan tanpa memberitahu saya. Saat itu dari bandara Melky langsung mencari aku ditempat kostku, tapi dia tidak menemukan aku karena aku sudah dalam perjalanan pulang kampung, tak sengaja aku melihat bayangan Melky di mobil taksi bandara, antara percaya dan tidak percaya karena dia tidak memberi kabar akhirnya aku ambil putusan tidak jadi pulang. Langsung aku ambil taksi balik keterminal karena aku lihat mobil yang di tumpangi Melky kearah terminal, dan benar ternyata Melky sudah ada diterminal. Dia sedang bertanya pada sopir dan penumpang yang didalam bis yang mau ke Kota tempat saya tinggal. waktu saya menyapa dia, saya heran kog dia tidak meresponku. Setelah beberapa menit dia ngomong dengan temannya seorang dokter yang saya kenal juga dan kebetulan penumpang dalam bis itu, kami pamit segera beranjak dari terminal itu, dalam perjalanan ke tempat kostku Melky bercerita,

"waktu turun dari taksi bandara tadi saya langsung berlari kearah terminal dan orang-orang langsung berkumpul dan bertanya, ada apa pak? terus kubilang, mau cari orang, sambil mataku periksa penumpang yang ada di bis" ( sebab saat itu dia masih pake pakaian polisi jadi orang mengira dia mengejar penjahat)

"Oooh makanya tadi tidak mau negur aku yaa...?,makanya kalau mau pulang beri kabar supaya tahu" kataku, "biar buat kejutan" jawabnya. Dan saya tambah ketawa lagi dia ngomongnya sudah formil sekali pake logat orang Jawa lagi, jadi saya guyonin dia "iya Mas Melky, saya panggil mas aja ya...?" dia langsung ketawa.



Seminggu kemudian Melky harus melapor ketempat tugasnya yang baru yakni ke Banjarmasin, 2 hari sebelum dia berangkat, Melky pamit lagi sama papaku untuk meminta restu hubunganku dengannya. Papaku dengan bijak dia berkata “ Nak Melky ini tugas pertamamu, jadi berikan pengabdianmu dan tanggung jawabmu kepada negara, saya tahu kau masih dalam ikatan dinas. Jadi untuk hubungan kalian percaya sama anakku” papa memang sering meyakinkan Melky untuk percaya kepada saya, karena sebagai orang tua, tentu papa lebih tahu keadaan anaknya.

Dalam kisah ini, saya tidak ngotot untuk merestui permintaan Melky sama mama-papa, karena saya percaya apa yang orang tua kakatak adalah benar dan untuk kebaikan anak-anaknya. Saya Cuma melihat bagaimana Melky begitu sungguh2 meyakinkan saya bahwa kemanapun dia pergi dia selalu mencari saya kembali. Dia tidak pulang kekampung halaman orangtuanya di Poso.,,,, itu juga yang sering dia katakan untuk meyakinkan saya, hingga awal-awal perkawinan kita. Aku Cuma melihat bahwa Melky sungguh2 meyakinkan aku.

Dua tahun kemudian kami mendapat restu dari mama dan papa untuk menikah, saya waktu itu sudah mau ujian akhir dan dengan janji akan menyelesaikan kuliah, jadi kami direstui, dan waktu itu Melky masih tugas di Banjarmasin. Empat tahun kami pacaran saya banyak mendapat nasehat dan petuah dari orangtua , baik mama dan papa maupun om2-tante2 sebelah mama dan papa, dan sungguh saya bersyukur mendapat dan mendengar nasehat mereka karena ternyata apa yang mereka nasehatkan itu semua adalah perpanjangan kasih Tuhan buat saya, dan saya merasakan begitu sangat bermanfaat buat saya sampai saat ini, saya menemukan makna sebuah nasehat. Akhirnya kami menikah tanggal 30 Desember 1989, pesta pernikahan kami begitu sederhana dan kami tak banyak mengeluarkan biaya untuk pesta itu sebab kami banyak dapat berkat dan bantuan dari orang-orang yang mengasihi kami. Seminggu setelah menikah Melky kembali lagi keBanjarmasin.

Enam bulan kemudian Melky menjemput saya dan mengikuti prosesi wisuda saya, rasanya begitu bahagia didampingi suami saat itu. Saat saya harus berangkat mengikuti suami ketempat tugas suamiku, yang pada waktu itu sudah dipindahkan di Palangkaraya, kami berdua diantar oleh mama-papa dan keluarga, disitu saya melihat bagaimana papa saya menangis memeluk saya seakan tidak mau melepaskan saya pergi. Dan ternyata itulah yang terakhir kali saya ketemu papa saya, karena menjelang 2 tahun kemudian beliau meninggal.

No comments:

Post a Comment