Memulai suatu kehidupan yang baru, tentu sangat membutuhkan kesiapan untuk melangkah dengan pasti bahwa ada harapan dan masa depan yang harus kita raih bersama. Demikian juga menjadi harapan saat saya dan suami memulai hidup bersama di tempat yang baru dimana kami terpisah jauh dari keluarga dan sanak saudara. Palangkaraya September 1990, kami berdua memulai hidup berumah-tangga dengan fasilitas rumah dinas yang diperlengkapi dengan satu tempat tidur, tapi kami bersyukur bahwa ada tempat untuk kami berteduh. Saat itu kami belum punya kursi tamu dan peralatan dapur, jadi kami berdua sering makan diwarung pinggiran jalan, dengan menggunakan sepeda motor yang sudah usang atau tua. Maklum saat itu Palangkaraya masih merupakan kota yang sepi kendaraan-kendaraan bermotor masih terbatas, yang adapun hanya berplat merah. kebanyakan yang ada dijalan becak-becak aja.
Tak terasa haripun berganti bulan, sedikit demi sedikit peralatan rumah tangga mulai dilengkapi, jadi saya sudah bisa mulai masak untuk kita makan berdua. Saya sudah bisa mulai menata rumah dan halaman dengan asri karena kebetulan ada yang bantu kerja dirumah. Bulan kini berlalu hampir lima bulan tapi tanda-tanda kehamilanku tak pernah terlihat, hingga bulan keenam paling cuma bisa tertahan seminggu tak jadi lagi, sampai suamiku bilang "mam perutmu perut apa siih kog nda bisa hamil?" jawabku " mungkin blum diberi aja, belum waktunya" "gimana belum" lanjut suamiku "yaah belum aja, sabar"jawabku.
Seiring berjalannya waktu saya sebagai istri tentu jadi kwatir dengan keadaan saya, saat sendiri dirumah saya hanya bisa menangis dan berdoa agar Tuhan memberikan saya anak. Bulan berganti bulan saya diproses dengan keadaan saya sendiri, dan sebagai istri anggota Polisi juga karena suami adalah dokter polisi maka saya harus ikut kegiatan-kegiatan ibu-ibu Bhayangkari. Dan mungkin pada waktu itu karena saya juga belum dapat pekerjaan dengan melihat latar belakang pendidikan saya, maka saya diberi keprcayaan untuk duduk dalam kepengurusan baik dalam gabungan istri-istri ABRI (dalam wadah Dharma pertiwi), Pengurus Yayasan Kemala Bhayangkari, pengurus PimStaf dan pengurus wilayah Bhayangkari karena saat itu masih status POLWIL atau merupakan bagian wilayah Kalselteng atau Kalimantan Selatan dan Tengah. Dengan banyaknya kegiatan mmbantu saya untuk tidak terlalu hanyut memikirkan keadaan saya yang belum bisa hamil. Suami saya sempat memaklumi keadaan saya karena kebetulan ada temannya, seorang perwira lebih senior baik pangkat dan umurnya dari suamiku, yang pada waktu itu berpangkat Kapten sedangkan suami saya masih Lettu, istrinya belum hamil-hamil juga dan suami istri ini berobat dan konsultasi dengan suamiku. sedikitnya saya tertolong dengan situasi ini, tapi saya tetap berharap semoga saya cepat diberi momongan.
Dengan melihat aktivitas saya di kepengurusan istri-istri ABRI dan Bhayangkari, saat itu saya dipercayakan ibu ketua Bhayangkari untuk di calonkan mewakili Bhayangkari sebagai anggota Dewan dari utusan Dharma Pertiwi. Suami saya sempat marah-marah "gimana mam mau hamil kalau sudah sibuk dengan kegiatan-kegiatan?" jawabku "disana kami kerjanya cuma dudk menulis laporan-laporan kegiatan aja pi", ternyata yang buat dia keberatan karena ibu Ketua Bhayangkari minta supaya suamiku tolong melengkapi surat-surat untuk mencalonkan saya duduk di DPR. Katanya "Nanti kerjanya pasti kedaerah-daerah kalau mami jadi anggota DPR" saya coba menenangkan dia "pi kan belum baru calon, belaum tentu jadi?" Tapi tetap saja dia siapkan surat-surat yang dibutuhkan untuk melengkapi berkas yang diminta ibu ketua Bhayangkari pada waktu itu. Tak terasa sudah setahun kami di Palangkaraya, suami saya sangat senang karena yang terpilih untuk jadi anggota DPR pada waktu itu bukan saya tapi calon dari ibu Persit Chandra Kirana.
Dengan memohon doa yang tak hentinya, akhirnya mulai ada titik terang kandungan saya mulai tertahan sebulan hampir tiga minggu. Suatu sore setelah suami saya ketempat praktek saya rasa pingin buang air kecil, betapa kagetnya saya melihat ada bercak darah di CDku akhirnya karna takut saya langsung istrahat ditempat tidur tapi tetap saya merasa mulai ada yang mengalir keluar di CDku, saya tidak berani lihat, saya tidur aja. Sampai suami pulang praktek sekitar jam 10 malam, dia heran saya tidak mau bangun, dengan agak hati2 dan takut saya bilang kesuamiku, "pa tadi waktu mami mau buang air kecil, ada sedikit bercak darah di CD" agak kaget dia jawab "pasti ngga jadi lagi itu, nanti dia keluar lagi, ya udah mami istrahat aja", "ya pi...." jawabku. skitar jam 12 malam saya mulai merasa sakit di perut dan mual, tapi saya tahan. Suamiku kaget melihat wajah saya sudah putih hampir seperti kertas, "kenapa mam...?", "ga tahu, rasa mual" kataku akhirnya suamiku suruh pembantu buatin teh hangat manis. Seteguk saya minum tehnya mual itu datang lagi dan rasaku ngga tertahan lagi , akhirnya dengan tergopoh-gopoh karena menahan sakit saya ke kamar mandi, pikirku biar sekalian muntah dikamar mandi aja. Saat dikamar mandi rasa mualku meningkat dan saya tidak bisa tahan lagi akhirnya saya muntah tapi seiring dengan itu terasa ada yang keluar di CDku, dan setelah kulihat ternyata segumpalan darah yang sudah berbentuk seperti anak cicak. "pi tolong kesini" panggilku sama suami, tanpa menyahut dia datang menengok saya di kamar mandi. "pi sudah keluar" kataku sambil memperlihatkan CDku yang ada gumpalan darah tadi. Karena kasihan mungkin melihat kondisiku yang sudah lemah sekali suamiku ngga bisa marah dia cuma bilang " mam istirahat aja dulu, mami lemah sekali tuh" habis saya bersihkan dengan air, Lalu dia menuntunku kekamar tidur. "mami minum lagi dulu teh biar masih hangat, lalu saya gosok minyak kayu putih perutku, dan saya tidur. Bulan berikut masih hanya bisa tertahan seminggu, dan akhirnya dua bulan kemudian saya bisa pertahankan kehamilan saya dan sembilan bulan kemudian lahirlah anak pertama, tepat bersilang dengan bulan dan tanggal lahir saya, anakku lahir tanggal 9 bulan 1 berbalik belakang dengan saya tanggal 1 bulan 9, bukankah itu suatu karunia yang sudah Tuhan berikan..? Terkadang memang kita tidak mengerti....., tapi kalau kita mensyukuri bahwa Tuhan sangat-sangat perduli dan mengasihi kita asal kita mau sabar dan tetap berdoa kepadaNYA maka dia akan berikan keinginan kita tepat pada waktuNYA.
No comments:
Post a Comment