Friday, November 19, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Perempuan sederhana berkalung ketulusan.
Akankah menjadi bunga, menjadi cahaya atau bahkan belukar?
Semua peranmu tetap memiliki makna bagi semesta.
Dunia hanya tak ingin, kau menganggap dirimu seperti sendok. Mesti mencebur ke air hangat dan dingin tergantung dari orang yang memegang sedok itu.
Bebas…namun ingat tugas.
Terikat…namun kamu tidak diikat.
Kau adalah juru mudi perahu kehidupan.
Jangan sampai perahumu retak karena kecongkakan yang kau semai.
Terus…teruslah!
Kantongi kesabaran yang langit tabur.
Dan pungut cahaya mahirmu yang akan selalu kau butuhkan untuk melewati setiap musim kehidupan.
Perjalananmu panjang...
Akan menguras lelah hati dan ragamu, tuk’ hantarkan para penumpangmu ke pulau harapan yang menjadi tujuan.
Kau adalah ibu dan ayah bagi putra, putrimu.
Kau adalah matahari dan rembulan bagi bumi. kau adalah air mata bagi kesedihan dan kau adalah tawa buat kebahagian.
Kau sangat berarti bagi kehidupan mereka.
Tugasmu mulia,tak pernah minta jasa.
Namun Langit melihat dan akan mencatat semua yang kau persembahkan dalam laku dan kata .
Perempuan berkalung ketulusan…jadikanlah perbuatanmu menjadi buah bibir para malaikat bukan pujian atau "angin surga" manusia yang sering membuatmu terpikat hingga tak sadar kau terjatuh ke jurang cela yang dalam dan gelap.
Ketulusan seorang perempuan,, biarlah menjadi cahaya keindahan ,,
ReplyDeleteBukan menjadi bunga yang waktu mekar enak dipandang setelah layu lalu dibuang,,,
Bukan menjadi semak belukar yang tidak pernah memberi kesempatan hidup atau menekan kehidupan sesama ..
Tapi biarlah KETULUSAN lahir dari hati yang suci, dengan kesederhanaan untuk memancarkan keindahan hati yang TULUS.