"Kenangan yang tak' pernah kulupa"
2008 adalah awal tahun yang tak pernah kuduga, menyimpan kenangan yang begitu dalam buat hidupku. Hari itu 29 Januari kumelangkah menemui Feelyne dengan sebuah harapan bahwa orang ini dapat memberi solusi dalam permasalahan yang sedang kuhadapi sebab bagiku orang ini adalah orang yang tepat dan tahu persis langkah apa yang harus saya ambil dalam menyikapi persoalan di lingkungan kesatuan yang dipimpinnya. Sebagai orang yang saya kagumi, besar harapan saya untuk dapat mengarahkan saya agar tidak salah langkah dalam menyikapi kemelut dalam rumah tangga yang saya hadapi. Dengan keyakinan inilah kuberanikan diri minta izin untuk melangkahkan kakiku untuk menemuinya.
Hal ini saya lakukan juga karena saran dari kakak iparku, agar saya menemui Feelyne, untuk minta petunjuk. Sore itu dengan sepengetahuan kakak iparku saya menemui Feelyne dan hal ini pertama kali saya lakukan selama saya menghadapi prahara yang menimpa rumah tanggaku, untuk meminta petunjuk dari pimpinan korps suamiku menyangkut persoalan yang kami hadapi. Dengan segenap hati kucoba menceritakan pokok-pokok permasalahan yang sedang saya hadapi, Feelyne pada waktu itu menanyakan apa yang menjadi permasalahanku, dan beliau begitu sangat perhatian mendengarkan ceritaku. Sehingga akhir cerita beliau mengatakan bahwa :
"kalau saya berada pada posisi ibu saya tidak sanggup untk menghadapinya, saya pribadi harus angkat tangan hormat kepada ibu. Apa yang sudah ibu lakukan adalah sudah tepat dan saya sarankan untuk ibu mengurus bagian rumah tangga ibu dengan baik dan untuk urusan kantor nanti saya yang tangani"
Bentuk perhatian ini membuat saya sangat berterima kasih dari dasar hati yang tulus, dan saya begitu sangat kagum pada saat beliau menceritakan bagaimana ibunya juga berjuang sendirian pada saat bapaknya meninggal. Satu ungkapan seorang anak bahwa ibu adalah bagian yang sangat berarti dalam hidupnya sudah tentu hal ini melukiskan bagaimana beliau sangat menghormati dan bangga pada ibunya. Saat itu saya merasa kecil sekali dihadapannya, saya belum berbuat banyak dengan apa yang saya lakukan sebagai seorang ibu, perjuangan saya belum berarti apa-apa. Rasa kagum dan rasa hormatku bercampur menjadi satu dan membuatku tidak berarti sama sekali, mulai saat itu saya merasa sangat-sangat bersalah dan tidak berarti sebagai seorang istri sekaligus ibu, hal itu semakin membuatku tak patut untuk dihormati bahkan dikagumi.
Seiring berjalannya waktu, suamiku sudah jarang sekali untuk makan malam di rumah sehingga terkadang makanan malam basi dan harus dibuang sebab setiap malam semakin malam untuk pulang kerumah. Sebagai seorang istri saya coba memaklumi pekerjaannya sebagai dokter bedah dengan alasannya ada operasi sampai larut malam, sehingga waktu suamiku mau tidur dia minta dipijitin kakinya dan hampir setiap malam saya harus tidur dibawah kakinya untuk memijit kakinya karena saya berpikir bahwa suamiku terlalu lama berdiri dan dia tertidur begitu pulas.
Suatu hari saya dapat informasi bahwa suamiku sering dijemput dirumah sakit hampir setiap malam dan baliknya sekitar jam 01.00 malam. Sehingga suatu malam saya mau buktikan apa benar seperti itu, jam 12.00 saya kerumah sakit saya lihat mobil dinasnya ada di rumah sakit tapi setelah saya tanyai ke perawat yang jaga mereka katakan ada keluar tadi dijemput dengan mobil tapi kami tidak tahu siapa yang jemput. Seperti agen mata-mata saya parkir mobil saya diseberang rumah sakit biar tidak ketahuan, dan benar sekitar jam 01.00 malam saya lihat ada mobil taruna yang berhenti tepat di ujung jalan rumah sakit dan lampunya dimatikan, kemudian saya lihat seperti bayangan suamiku turun dari mobil itu yang cepat-cepat pergi melewati jalan samping rumah sakit. Saya langsung hidupkan mobil dan saat itu juga dengan tancap gas mobil taruna itu melaju pergi, dan saat saya sampai di rumah sakit suamiku sedang menuju mobil dinasnya langsung saya turun dan tanyakan:
"papi dari mana..?"
dia tidak menjawab tapi balik bertanya "kenapa kesini...?"
"Iya papi dari mana...!?" saya tanya lagi
"dari ruangan saya diatas.." coba mengelabui saya
"tadi saya kesitu tidak ada.." jawabku
"Ya sudah pulang saja...!" kata suamiku seakan mengusir saya, dan langsung masuk kedalam mobil dinasnya dan meluncur kejalan sehingga saya mengikutinya dari belakang sampai dirumah. Karena sudah larut malam saya tidak mau lagi bertanya persoalan tadi, yang pasti karena perasaan saya tersakiti seluruh badan pun rasanya lemah, capek sekali. Persoalan-persoalan ini sangat-sangat menekan batin saya sehingga membuat bobot tubuh saya berangsur-angsur turun menjadi kurus.
Suatu sore kira-kira jam 18.00 dimana suamiku sudah pergi praktek, dan saya sedang mengikuti fastar pembekalan untuk tambahan usaha kerja saya, saat itu hujan deras disertai guntur dan kilat, Praizi anakku menelponku katanya :
"mami cepat pulang,,, nih Mikhael sudah kayak orang gila sudah mau bunuh diri"
sambil teriak ketakutan Praizi menyuruh saya cepat pulang, dirumah saat itu hanya Praizi , Vonna keponakan suamiku dan Mikhael sedangkan kakak iparku sudah pulang kekampungnya.
Saya segera pulang karena saya sudah tahu gimana kalau Mikhael lagi ada masalah karena waktu dulu papinya masih di Ambon mendengar dan melihat masalah dalam rumah tangga kami membuat dia sangat tertekan sehingga dulu juga dia ingin bunuh diri.
Setiba dirumah sudah malam setengah tujuh saya lihat mikhael tangannya sudah berdarah tubuhnya basah kuyup berlumuran pasir dan rumput tidur di pinggir jalan dengan sebilah pisau ditangannya, saya cepat parkir mobilnya dan datangi dia kemudian memeluknya, saya katakan:
"Mikhael tolong sayang mami ya...?"
dia diam matanya kosong, dan akhirnya dia mau bicara;
"iya mi saya sayang mami,, tapi saya tidak sanggup melihat keluarga ini seperti ini, papi tidak sayang sama kami, saya malu sama teman-teman saya dengar cerita ini dan itu.."
"Iya nak.. tapi bukan berarti kamu harus menyiksa dirimu"
sambil saya suruh dia berdiri dan menuntunnya masuk kerumah, dengan pelan saya katakan ;
"Mikhael mandi dulu, nanti kita berdua keluar jalan-jalan"
Akhirnya anakku pergi mandi, sambil menunggu dia mandi saya coba tanyakan ke Praisi gimana keadaan Mikhael tadi, dan praisi menceritakan bahwa tadi dia menangis teriak dan berguling dijalan dengan pisau saat hujan dan ada petir. Selesai Mikhael mandi kemudian saya ajak dia keluar keliling di jalan sambil menghiburnya dan memberi motivasi supaya dia harus kuat. kemudian saya bawah dia kerumah hamba Tuhan Pdt. Frangky dan saat itu dirumahnya ada ibu Ester hamba Tuhan yang dari Balik papan, kemudian mulailah mikhael bercerita apa yang dia rasakan. Ibu Ester menguatkan Mikhael katanya :
"Mike apa yang kamu alami pernah dialami oleh anaknya bu Ester"
dan kemudian bu ester menceritakan apa yang dia alami bersama anak-anaknya. Dan kemudian bu Ester mengarahkan mikhael untuk memberi diri lewat talenta yang ada sama diri Mikhael di bidang musik untuk menyembah dan memuliakan Tuhan sehingga tidak larut dengan keadaan yang terjadi. Hingga tengah malam pukul 01.00 tak terasa akhirnya saya dan Mikhael pamit pulang. Tiba dirumah papinya belum pulang, karena dia bawa kunci rumah sekitar tengah malam dan kadang subuh baru pulang ke rumah.
No comments:
Post a Comment